Hasil Panen Padi Turun, Pengaruhi Kenaikan Harga Beras

Editor: Satmoko Budi Santoso

278

LAMPUNG – Hasil gabah kering panen (GKP) petani di Lampung Selatan yang menurun imbas musim kemarau membuat harga GKP naik.

Sagiman, salah satu petani di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, menyebut, hasil panen yang menurun membuat harga GKP naik dari semula hanya Rp4.700 naik menjadi Rp5.000 per kilogram. Penanam padi varietas Ciherang tersebut mengaku, meski harga cukup tinggi namun ia memilih menyimpan gabah untuk kebutuhan sendiri.

Harga GKP tersebut diakuinya merupakan harga di level petani dan akan semakin meningkat berkisar Rp6.500 per kilogram saat di tingkat penggilingan dengan kualitas gabah kering giling (GKG).

Kenaikan harga gabah tersebut disebabkan faktor sejumlah petani yang ada di Lampung Selatan mengalami penurunan hasil akibat berkurangnya pasokan air. Sagiman yang bisa menghasilkan sebanyak 2 ton gabah kering panen hanya bisa menghasilkan 1 ton gabah kering panen.

“Harga gabah kering panen dan gabah kering dan gabah kering giling yang naik tidak membuat petani berniat menjual karena hasil panen juga sedang menurun. Cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” terang Sagiman, salah satu petani di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Sabtu (9/8/2018).

Kondisi panen pada masa tanam ketiga (MT3) atau musim tanam gadu umumnya mengalami penurunan produksi. Sejumlah petani seperti dirinya yang kerap mendapatkan hasil maksimal hingga 2 ton untuk lahan seluas setengah hektar bahkan harus mengalami penurunan hasil.

Kondisi panen yang hasilnya menurun itu bahkan masih cukup menguntungkan dibandingkan lahan sawah milik petani lain yang kekeringan bahkan gagal panen (puso).

Sagiman juga menyebut, kondisi musim kemarau tersebut membuat sebagian warga memilih menyimpan gabah baru. Sebagian gabah yang digiling di tempat penggilingan merupakan gabah stok lama untuk kebutuhan sehari-hari.

Beras yang digiling untuk dijual merupakan beras lama dengan harga jual di penggilingan mencapai Rp8.000 per kilogram dan akan dijual oleh pengecer Rp9.500 per kilogram untuk beras varietas Ciherang.

Penurunan produksi panen padi di Lampung Selatan berimbas kenaikan harga beras kualitas sedang hingga medium di toko beras pasar tradisional Pasuruan.

Marwan salah satu pedagang beras di pasar tradisional Pasuruan melayani pembeli [Foto: Henk Widi]
Marwan, salah satu pedagang beras mengakui, terjadi kenaikan harga beras berkisar Rp500 hingga Rp700 per kilogram. Sejumlah beras yang dijual dalam kemasan karung berukuran 20 kilogram dan 25 kilogram. Jenis beras yang dijual di antaranya merk rojo lele, manggis serta sejumlah merk lain dan beras lokal tanpa merk yang dijual sistem curah.

“Beras yang saya jual umumnya beras lokal Lampung dan sebagian merupakan beras yang cukup terjangkau masyarakat, meski naik namun kenaikan tidak signifikan,” terang Marwan.

Beras yang dijual dengan sistem karungan dijual dengan harga Rp170.000 untuk ukuran 20 kilogram atau seharga Rp8.500 per kilogram dimana sebelumnya dijual hanya Rp8.000 per kilogram.

Sementara beras ukuran 25 kilogram dijual dengan harga Rp225.000 atau seharga Rp9000 per kilogram sebelumnya dijual Rp8.500 per kilogram. Khusus untuk beras curah jenis IR 64, Muncul, Ciherang, Sertani dan beras lain diakuinya dijual dengan harga mulai dari Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram.

Meski hasil panen sedang tidak maksimal, ia memastikan tidak serta merta menaikkan harga beras. Sebab sebagian beras yang tidak diperoleh dari Lampung Selatan masih bisa didatangkan dari Lampung Tengah dan Lampung Timur.

Kenaikan harga beras yang hanya berkisar Rp500 hingga Rp700 bahkan masih terbilang wajar. Marwan juga menyebut, warga sebagian besar memilih beras curah sementara beras kemasan banyak diminati oleh pedagang kuliner warung makan.

Petani di kecamatan Penengahan melakukan proses pemanenan padi meski hasil menurun pada musim tanam ketiga atau masa tanam kemarau [Foto: Henk Widi]
Harga beras yang mengalami kenaikan tipis dampak dari berkurangnya hasil padi sawah di wilayah tersebut. Marwan menyebut, meski sebagian petani mendapatkan hasil panen yang sedikit, namun sebagian warga masih memiliki stok gabah di sejumlah penggilingan padi.

Stok di toko miliknya sebanyak 2 hingga 3 ton kerap habis dalam satu bulan yang dominan diminta oleh pemilik usaha kuliner warung makan dengan kebutuhan yang banyak.

Baca Juga
Lihat juga...