Hasil Tangkapan Turun, Harga Ikan Teri Kering, Stabil

Editor: Satmoko Budi Santoso

178

LAMPUNG – Kebutuhan bahan baku teri rebus milik Mumun (46) dan sang suami Misri Saifulah (47) dalam sekali proses pengolahan mencapai 2 ton.

Menurut Mumun, bahan baku teri yang dominan dibeli dari nelayan bagan apung (bagan drum), bagan congkel (bagan dengan perahu) serta nelayan tradisional dengan ketinting mulai sulit diperoleh.

Meski demikian hasil mengumpulkan dari nelayan membuat pembuatan teri rebus miliknya masih bisa mengolah teri sebanyak 1 ton per hari.

Kebutuhan bahan baku yang menurun tersebut, diakui Mumun, hampir pada semua jenis teri. Selama ini jenis teri yang kerap dibeli dari nelayan di antaranya ikan teri jengki, teri nasi (kerap dikenal teri Medan), teri katak, teri lemet, teri jenggot.

Mumun (kanan) melayani Santi (berhelm) yang membeli teri jengki untuk digunakan sebagai oleh oleh sekaligus untuk bahan kuliner [Foto: Henk Widi]
Jenis ikan teri jengki dan ikan teri nasi masih mendominasi ikan yang dibeli dari nelayan. Meski tangkapan menurun, Mumun menyebut, harga teri jengki saat ini dalam kondisi kering seharga Rp65.000 per kilogram, jenis teri nasi seharga Rp95.000 per kilogram.

Kedua jenis teri tersebut kerap dikirim ke Pasar Kalibaru serta sejumlah pasar di Jakarta atas pesanan sejumlah distributor. Selain ikan teri jengki, ikan teri nasi Mumun juga menjual jenis ikan teri lemet seharga Rp30.000 per kilogram, ikan teri jenggot seharga Rp40.000 per kilogram, teri katak seharga Rp45.000 per kilogram.

Ketiga jenis teri tersebut merupakan hasil proses pemilahan teri jengki dan teri nasi yang sudah dipisahkan.

“Teri jengki dan teri nasi umumnya memiliki pangsa pasar sendiri untuk restoran dan rumah makan. Sementara ikan teri lemet ,jenggot dan katak disukai konsumen ibu rumah tangga,” terang Mumun, salah satu produsen teri di Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, saat ditemui Cendana News, Minggu (2/9/2018).

Salah satu pekerja menghamparkan teri yang sudah direbus untuk selanjutnya dijemur menjadi teri kering [Foto: Henk Widi]
Harga yang terbilang cukup stabil tersebut, menurut Mumun, karena saat ini di wilayah Lampung Selatan sudah mulai banyak sentra pembuatan ikan teri rebus. Pembuatan ikan teri rebus menjadi teri kering di antaranya dilakukan dalam skala rumah tangga di wilayah Desa Way Muli, Desa Kunjir di Kecamatan Rajabasa, Desa Maja Kelurahan Way Urang Kecamatan Kalianda.

Sejumlah wilayah seperti Desa Ketapang Kecamatan Ketapang dan Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni disebutnya juga masih menjadi sentra pengolahan ikan teri.

Banyaknya tempat pengolahan ikan teri di Lamsel membuat harga ikan teri masih bertahan stabil. Ia mengaku, jika menaikkan harga meski hasil tangkapan turun dikhawatirkan pelanggan seperti pelele (pedagang ikan keliling) akan berpindah ke tempat lain.

Sejumlah pelanggan disebutnya sudah mengetahui faktor kenaikan harga teri kering di antaranya kenaikan harga garam bahan baku perebusan, cuaca buruk di laut selama berpekan-pekan.

Harga teri basah dari sejumlah nelayan, saat ini jenis teri jengki mencapai Rp180.000 per keranjang berisi 15 kilogram ikan teri. Jenis ikan teri nasi atau dikenal teri Medan dalam kondisi basah dijual seharga Rp280.000 per keranjang berisi 15 kilogram.

Jenis teri nasi disebut Mumun lebih mahal karena sulit diperoleh dibandingkan teri jengki. Sementara jenis teri lemet, teri katak, teri jenggot kerap tercampur bersama teri jengki yang ditangkap nelayan.

Nurjanah (kanan) menjual ikan teri jengki basah kepada pembeli yang menyukai teri basah jenis teri jengki di pusat pendaratan ikan dermaga Bom Kalianda [Foto: Henk Widi]
“Kalau hanya faktor tangkapan turun karena sedang tidak musim ikan teri tapi cuaca bagus dan bahan baku garam stabil, harga juga masih cukup stabil,” beber Mumun.

Mumun menyebut, selain memiliki pelanggan distributor besar, pelanggan restoran besar juga kerap memesan teri kering jenis jengki dan teri nasi kepadanya.

Kenaikan harga teri disebutnya umumnya hanya akan berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilogram untuk semua jenis ikan teri. Permintaan untuk pasar luar daerah disebut Mumun dalam sebulan bisa mencapai 30 hingga 50 dus berisi masing-masing sekitar 15 kilogram ikan teri kering.

Hasil teri kering sebanyak puluhan dus tersebut bisa dihasilkan selama satu bulan. Sebab pengaruh pasokan bahan baku dari nelayan yang bekerja sama menyesuaikan hasil tangkapan.

Selain itu faktor cuaca ikut mempengaruhi stok terutama saat musim penghujan. Pada saat musim kemarau, ia memastikan, bisa menjemur teri yang sudah direbus selama satu hari sementara saat musim penghujan bisa mencapai empat hari.

“Pengolahan teri selalu terhubung dengan distributor dan ikut mendukung usaha kuliner yang kerap mencampurkan teri sebagai lauk,” beber Mumun.

Salah satu pembeli, Santi (30) mengaku, membeli jenis teri jengki kering untuk digunakan sebagai oleh oleh saat akan ke Tangerang Banten. Ia menyebut, jenis teri jengki kerap dipergunakan untuk campuran pembuatan sambal kacang dan tempe.

Teri kering seharga Rp65.000 per kilogram tersebut diakuinya terbilang murah jika dibanding ia membeli di Tangerang dengan harga mencapai Rp80.000 di tingkat pengecer.

Ikan teri disebut Santi juga kerap menjadi sajian untuk usaha yang dimilikinya yakni membuat nasi uduk. Saat kembali ke kampung halamannya di Kalianda, Santi menyebut, sengaja membeli untuk usaha kuliner miliknya.

Biasanya ia mengaku kerap minta dikirim ke Tangerang oleh Mumun sebanyak dua kardus yang dititipkan bersamaan dengan pengiriman teri pesanan pelanggan Mumun di Jakarta.

“Harganya di sini masih stabil dan relatif murah dibanding di Tangerang sehingga saya membeli lima belas kilogram sembari pulang liburan,” beber Santi.

Selain di lokasi pembuatan teri kering, di pusat pendaratan ikan dermaga Bom Kalianda sejumlah pelele yang didominasi kaum wanita menjual ikan teri basah jenis jengki dan teri nasi.

Hasanah (40) menyebut, selain menjual ikan selar, tengkurungan, cumi ia juga menjual ikan teri. Ikan jenis tersebut merupakan hasil tangkapan nelayan yang memperoleh hasil sedikit sehingga tidak dijual melalui pelelangan.

Hasanah juga mengaku. kerap membeli ikan teri jengki sebanyak satu hingga dua keranjang berisi 15 kilogram. Satu keranjang dibeli seharga Rp180.000 atau seharga Rp12.000 per kilogram dan kerap dijual Rp15.000 hingga Rp20.000 dalam kondisi basah.

Saat teri tersebut sebagian tidak laku ia mengaku tetap menyimpan dalam kotak berisi es batu dan membawanya pulang untuk diolah menjadi teri tawar kering.

Teri tawar kering tersebut dijual lebih tinggi dibandingkan teri rebus yang diasinkan. Teri jengki kering yang dijual dalam kondisi kering Rp65.000 per kilogram sementara teri jengki tawar bisa dijual seharga Rp95.000 per kilogram.

Harga tersebut masih cukup stabil terutama untuk jenis teri tawar yang banyak disukai oleh konsumen yang menghindari kolesterol akibat mengonsumsi ikan yang berkadar garam tinggi.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.