Hidupkan Semangat Literasi, Komunitas SMPN 1 Lewolema Belajar Jurnalistik

Editor: Satmoko Budi Santoso

205

LARANTUKA – Komunitas Literasi SMP Negeri 1 Lewolema mengadakan pelatihan jurnalistik di alam terbuka, tepatnya di Pantai Welo, Desa Watotutu Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur (Flotim), melibatkan sedikitnya 35 siswa.

Kegiatan rutin dilakukan setiap minggu itu, selalu diawali dengan pembersihan pantai sebagai wujud terima kasih kepada alam dan penyadaran sejak dini kepada anak untuk mencintai alam dan lingkungan yang telah memberikan oksigen untuk kehidupan.

“Sudah menjadi kewajiban, mengawali kegiatan dengan terlebih dahulu melakukan pembersihan pantai. Ini sudah menjadi komitmen terima kasih kami kepada alam dan juga menciptakan kesadaran sejak dini kepada anak untuk mencintai alam,” kata Maksimus Masan Kian, Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) cabang Flotim, Kamis (13/9/2018).

Para siswa, kata Maksi, sapaannya, sangat antusias hadir sore itu di pantai, yang letaknya kurang lebih 4 kilometer dari SMPN 1 Lewolema. Tanpa menunggu waktu lama, siswa yang dibekali sapu langsung melakukan pembersihan di pantai tersebut.

Maksimus Masan Kian (kiri) ketua Asosiasi Guru Penulis Nasional (Agupena) cabang Flores Timur (flotim). Foto : Ebed de Rosary

“Sampah dari dedaunan, sampah plastik, botol plastik, pakaian serta botol kaca menjadi penghuni pantai itu. Selain jarang dibersihkan, tempat sampah di sekitar pantai juga tidak tersedia,” sebutnya.

Anak-anak komunitas literasi, kata Maksi, setelah mengumpulkan pada beberapa titik kemudian membakar daun-daun tersebut. Setelah itu dirinya mengarahkan mereka duduk melingkar di pasir dan diberikan materi singkat tentang jurnalistik.

“Jurnalistik adalah kegiatan atau aktivitas untuk mencari, menemukan, mencatat, menghimpun dan mengolah data. Kemudian disusun dalam bentuk tulisan berita untuk diinformasikan atau disebarkan kepada khalayak,” terangnya.

Ada panduan atau syarat yang dapat dipedomani bagi seorang jurnalis, sebut pembimbing komunitas literasi ini, untuk menghimpun data atau melakukan wawancara yakni menguasai yang namanya 5W + 1 H.

“Usai memberikan materi, para siswa diberikan koran dengan menentukan judul, sub judul, teras berita, tubuh berita dan ending. Selanjutnya, siswa dibagi ke dalam 4 kelompok dan kepada mereka diberikan tugas membedah satu berita dalam koran, berdasarkan rumusan 5W+1H dan menulis berita kegiatan sore itu,” terangnya.

Di akhir kegiatan, kata Maksi, para siswa yang menulis berita sederhana tersebut, masing-masing membacakan karya mereka dan ditanggapi langsung olehnya, selaku pembimbing.

“Kegiatan di alam, penting untuk menginspirasi siswa, menumbuhkan rasa cinta akan alam dan membentuk ikatan emosional yang kuat di antara sesama anggota komunitas. Karya-karya mereka dirapikan dan kemudian ditempelkan di majalah dinding sekolah, juga dikirim ke majalah pendidikan lainnya,” ungkapnya.

Tera Koten, salah satu peserta kegiatan, mengaku senang mengikuti kegiatan literasi di alam terbuka bersama teman-teman sekolah lainnya.

“Saya dan teman-teman sangat senang mengikuti kegiatan literasi di alam terbuka. Di pantai, kami mampu menulis puisi, cerpen, berita, cerita pengalaman dan karya lainnya. Kami berharap, kegiatan ini tetap rutin dijalankan, sehingga mampu mengasah bakat dalam menulis,” kata Tera.

Baca Juga
Lihat juga...