Hipertensi Paru, Penyakit Langka yang Mengancam Wanita dan Anak-anak

Editor: Mahadeva WS

199
Dr. dr. Lucia Kris Dinarti, SpPD, SpJP (K) saat acara Dialog Media tentang Hipertensi Paru – Foto Ranny Supusepa

JAKARTA – Masyarakat mungkin sudah terbiasa dengan kata hipertensi, dan sudah terbiasa memeriksakan hipertensi untuk menjaga kesehatan. Namun demikian, masyarakat masih banyak yang belum mengenal hipertensi paru. Selain karena memang penyakit ini tidak menunjukkan gejala yang mudah terdeteksi, hipertensi paru merupakan penyakit yang disebabkan oleh penyakit lainnya.

Ahli Hipertensi Paru RS. Sardjito Yogyakarta, Dr. dr. Lucia Kris Dinarti SpPD, SpJP(K) menyatakan, hipertensi paru adalah hipertensi pada jantung kanan, dimana terjadi peningkatan tekanan pada pembuluh darah. Tekanannya lebih dari 25 mmHg.

“Kondisi penyakit ini memang jarang diketahui sejak awal, karena selain memang gejalanya yang sulit terdeteksi, juga karena pemeriksaannya membutuhkan proses panjang dan juga tidak murah,” kata Dr. Lucia, saat menjadi pembicara Dialog Media tentang Hipertensi Paru di Jakarta, Senin (24/9/2018).

Gejala awal yang umum muncul adalah sesak napas. Gejala tersebut biasa muncul saat penderita melakukan aktivitas berat. Kondisi ini semakin memburuk seiring waktu, hingga tetap muncul walaupun saat penderitanya sedang tidak melakukan kegiatan apa pun. “Karena paru-paru tidak mendapat cukup oksigen, maka penderita akan mengalami kelelahan, pusing dan pingsan. Akhirnya jantung akan berupaya untuk memompa darah ke paru-paru yang menyebabkan rasa sakit pada dada,” urai Dr. Lucia.

Penderita hipertensi paru biasanya juga memiliki edema atau pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki, asites atau pembengkakan perut dan sianosis atau bintik biru pada kulit dan bibir. Kasus ini paling banyak terjadi pada anak-anak dan perempuan. Penyakit tersebut muncul, sebagai akibat kurangnya early screening. Misalnya, diawali dengan kasus jantung bawaan yang berujung dengan hipertensi paru.

“Mengapa perempuan? Hingga saat ini belum ada jawaban yang pasti. Belum ada penelitian yang bisa menunjukkan jawaban atas pertanyaan ini. Tapi jika kita merunut pada penyebabnya seperti jantung bawaan dan lupus, itu umumnya diidap oleh perempuan,” kata Dr. Lucia.

Berdasarkan data yang didapatkan dari penelitian yang dilakukan oleh Dr. Lucia dan Tim RS. Sardjito Yogyakarta, di periode Juli 2012 hingga Agutus 2018, penderita wanita mencapai 79 persen dan pria hanya 21 persen. Di rentang usia 17 hingga 40 tahun ada 69 persen, dan 31 persennya sudah berusia lebih dari 40 tahun.

Untuk melakukan deteksi dini, bisa dilakukan pemeriksaan Rekam Jantung (ECG), pemeriksaan stetoskop dan rontgen jantung. “Sementara untuk pemeriksaan yang lebih mendalam bisa dilakukan kateterisasi jantung. Tapi ini memang agak mahal, sekitar Rp10 juta untuk pemeriksaannya,” jelasnya.

Hipertensi Paru dibagi menjadi tiga jenis utama, yang dikategorikan berdasarkan penyebabnya yaitu Hipertensi Paru Primer (IPAH – Idiopatic Pulmonary Arterial Hypertension), yaitu Hipertensi Paru yang tidak atau belum ditemukan penyebabnya. Hipertensi Paru Sekunder (APAH – Associated Pulmonary Arterial Hypertension), yaitu Hipertensi Paru yang disebabkan oleh penyakit lain seperti jantung bawaan. Kemudian Hipertensi Paru Familial (HPAH – Heritable Pulmonary Arterial Hypertension), adalah Hipertensi Paru yang terjadi dalam dua atau lebih anggota keluarga karena faktor keturunan.

Baca Juga
Lihat juga...