HM Soeharto, Presiden Pertama Penerima ‘Avicenna Medals’ UNESCO

Editor: Koko Triarko

241
JAKARTA – Tak banyak masyarakat tahu, jika tanggal 29 September adalah Hari Sarjana Nasional, yang  diperingati untuk memberikan penghargaan kepada para insan akademisi dan peran para sarjana dalam membangun negeri, dan yang bisa dijadikan momentum untuk bercermin serta perenungan mengenai pendidikan di negara ini.
Selama masa pemerintahan Orde Baru, Presiden Soeharto banyak memberikan pesan bijak kepada sarjana, yang secara etimologi berarti orang pandai, ahli ilmu pengetahuan, atau gelar strata yang dicapai oleh seseorang yang telah menamatkan pendidikan di perguruan tinggi. Tapi lebih dari itu, sarjana dalam arti sejati pada orang mendapat gelar sarjana yang semestinya membaktikan ilmu yang bermanfaat kepada negara.
Mengutip buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973 yang dilansir dari soeharto.co, Presiden Soeharto memberikan pesan pengabdian sarjana untuk desa.
Dalam pidatonya dalam rangka Dies Natalis ke-20 Universitas Indonesia di Kampus Salemba, Jakarta, pada 21 Februari 1970, Presiden Soeharto mengatakan, bahwa pengabdian sarjana akan lebih besar artinya, bila para sarjana mau bekerja di tengah-tengah rakyat desa. Presiden Soeharto juga menyampaikan, bahwa anak dari keluarga golongan ekonomi lemah bisa menjadi sarjana.
Demikian antara lain pesan Presiden Soeharto pada waktu menerima laporan Sekretaris Yayasan Beasiswa Supersemar, mengenai lulusan dan dilantiknya 33 orang sarjana pertanian IPB yang mendapat  beasiswa di antara sarjana-sarjana pertanian lainnya.
Presiden Soeharto selalu ingat dan tidak melupakan asalnya sebagai anak dari keluarga golongan ekonomi lemah, khususnya yang bergerak di bidang pertanian. Tampaknya, Presiden Soeharto begitu terhibur dengan lulusnya sarjana-sarjana pertanian, khususnya yang mendapat beasiswa Supersemar.
Permintaan sarjana-sarjana baru penerima beasiswa Yayasan Supersemar untuk menghadap Presiden Soeharto sebagai ketua Yayasan, secara spontan diterima, dan para wakil sarjana-sarjana  baru pertanian itu diminta datang di Bina Graha bersama rektor, menteri pertanian, direktur jenderal pertanian tanaman pangan dan anggota pengurus yayasan.
Pada kesempatan lain, Presiden Soeharto berpesan kepada sarjana kehutanan, untuk memberikan telaah ilmiah. Hal demikian yang disampaikannya di Bina Graha, pada 31 Juli 1984, saat menerima Pimpinan Persaki (Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia) dipimpin ketua umumnya, Ir. Sudjono Suryo, yang melaporkan hasil Muktamar VI Persaki.
Melalui Persaki, Presiden Soeharto meminta kepada para sarjana kehutanan, agar dapat membantu pemerintah di bidang kehutanan, dengan telaah-telaah ilmiah, sehingga apa yang akan dilakukan pemerintah dalam jangka panjang mempunyai dasar yang obyektif.
“Ini mengingat masalah hutan dan kehutanan tidak hanya menyangkut usaha jangka pendek, tetapi berkaitan dengan kelangsungan kehidupan bangsa,“ tegas Presiden Soeharto.
Presiden Soeharto juga meminta, agar Persaki lebih menangani lagi masalah tenaga kerja di bidang kehutanan, khususnya tenaga kerja golongan menengah.
“Demikian pula dalam masalah pendidikan dan latihan, serta masalah pelestarian dan peremajaan hutan, “ imbau Presiden Soeharto .
Selanjutnya, Presiden Soeharto meminta agar Persaki mempelajari secara mendalam, sistem pengusahaan hutan di Indonesia secara menyeluruh dengan segala aspeknya.
“Hasil telaah itu, agar disampaikan kepada pemerintah, yang antara lain, seberapa jauh pemanfaatan sumber daya alam dalam industri kehutanan bisa membantu, misalnya untuk menumbuhkan industri yang hasilnya dapat menunjang industri lainnya,“ papar Presiden Soeharto.
Masalah industri pengolahan dan tata guna lahan, memang bisa dikaitkan dengan pembangunan jangka panjang dan masalah ketenagakerjaan. Pada waktu itu, diperkirakan ada 2.000 sarjana kehutanan yang telah berkecimpung di berbagai bidang. Yang menjadi anggota Persaki terdaftar 1.079 orang. Persaki didirikan 7 Mei 1963 dengan sistem keanggotaan aktif.
Atas dedikasi yang tinggi dalam dunia pendidikan, Presiden Soeharto mendapat penghargaan Avicenna Medals (Medali Ibn Sena) sebagai Tokoh Pendidikan Internasional, yang diberikan UNESCO pada 19 Juni 1993.
Sejarah mencatat, penghargaan Avicenna Medals memiliki peringkat tertinggi bagi UNESCO. Dan, Soeharto adalah presiden pertama penerima Avicenna Medals. Penghargaan diberikan secara langsung oleh Direktur Jenderal UNESCO, Prof. Federico Mayor, ketika pertama kali berkunjung ke Jakarta dan bertemu Presiden Soeharto.
“Presiden Soeharto memiliki konsep universal tentang dunia pendidikan, karena mampu memaparkan secara rinci kendala yang dihadapi bangsanya, sekaligus memiliki konsep penanggulangannya,” kata Direktur Jenderal UNESCO, Prof. Federico Mayor.
Penghargaan Avicenna Medals, diberikan kepada seseorang yang mampu mengembangkan seluruh misi UNESCO, yaitu mengembangkan kemajuan pendidikan dan kebudayaan masyarakat dalam arti luas.
Istilah ‘Avicenna’ mengacu dari nama cendekiawan muslim yang berprofesi sebagai dokter, pendidik maupun juru dakwah. Semasa hidupnya (980-1037 M), Avicenna yang nama aslinya Abu Ali al-Hussain Ibn Abdullah Ibn Sina, banyak menyumbangkan pikiran sebagai peneliti ilmu kedokteran maupun keagamaan yang dituangkan dalam bentuk buku.
Prestasi Presiden Soeharto dalam pembangunan pengembangan pendidikan, terlihat dari kondisi partisipasi anak usia 6 sampai dengan 12 tahun, yang menikmati pendidikan mencapai 97 persen.
Bentuk lembaga pendidikan dasar tersebut bukan hanya SD Negeri atau swasta, melainkan melalui lembaga atau organisasi keagamaan dan kebudayaan, seperti Madrasah Ibtidaiyah, Taman Siswa dan pesantren anak-anak.
Yang mendapat banyak perhatian dari UNESCO adalah komitmen Presiden Soeharto, dengan program Pemberantasan Tiga Buta. Yakni: buta aksara latin dan angka, buta bahasa Indonesia, serta buta pendidikan dasar.
Porsi anggaran pendidikan dalam APBN sendiri semakin meningkat. Presiden Soeharto mengatakan, pendidikan menduduki posisi yang sangat penting untuk membangkitkan potensi manusia Indonesia, sehingga menjadi kekuatan pembangunan.
“Secara bertahap, setelah program pendidikan dasar diimplementasikan, kita terlihat berupaya mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam sistem pendidikan nasional yang sesuai dengan ciri kehidupan Indonesia,“ tegas Presiden Soeharto.
Pada saat menerima Avicenna Medals, Presiden Soeharto mengatakan, penghargaan tersebut diberikan untuk seluruh rakyat Indonesia. Kendati demikian, dalam pandangan Presiden Soeharto, pembangunan pendidikan harus terus digalakkan dan ditingkatkan.
Memang tak mudah mendorong masyarakat untuk mau mengikuti pendidikan, mengingat masyarakat desa dan juga kota-kota tentu disibukkan dengan kegiatan mencari nafkah.
Tetapi, pemerintah berhasil membangkitkan kesadaran, bahwa pendidikan itu penting. Bisa membaca dan berhitung itu menjadi modal dalam mengarungi kehidupan.
Dengan demikian, melek huruf, melek angka, dan melek bahasa Indonesia berhasil menembus hutan rimba seperti di Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya (kini Papua). Sebuah prestasi yang luar biasa bagi pemerintahan Presiden Soeharto pada masa Orde Baru.
Baca Juga
Lihat juga...