Inovasi Kampus Cristo Re, Membuat Alat Pengupas Sabuk Kelapa

Editor: Satmoko Budi Santoso

494

MAUMERE – Selain membuat alat atau mesin pemanjat kelapa, kampus Politeknik Akademik Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta, kampus Cristo Re Maumere yang merupakan kampus Pendidikan di Luar Domisili (PDLD), menciptakan alat pengupas sabuk kelapa untuk membantu para petani kelapa.

“Kecepatan alat ini hampir sama dengan alat pemanjat kelapa dan setelah diproduksi sudah ada 2 orang yang membeli,” sebut Frederikus Michael, dosen atau instruktur di kampus Cristo Re Maumere, Kamis (13/9/2018).

Setelah melihat kebiasaan para petani yang mengupas kelapa secara manual dengan sebuah besi lancip yang ditanam di tanah, kata Frederikus, pihaknya tertantang untuk membuat alat sederhana dan bisa digunakan oleh siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak.

“Kalau menggunakan alat tradisional risiko kecelakaan sangat besar dan banyak juga yang mengalami kecelakaan tertusuk besi tersebut. Alatnya pun sederhana, bahan-bahan besinya ada yang dari besi bekas dan ada yang baru,” ungkapnya.

Penggunaan alat pengupas sabuk kelapa yang dirancang oleh instruktur dan mahasiswa Politeknik Akademik Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta kampus Cristo Re Maumere. Foto : Ebed de Rosary

Kecepatannya, tambah Frederikus, hampir sama dengan alat pemanjat kelapa. Selain harganya murah hanya Rp 400 ribu saja, alat ini pun bisa dipindah-pindah dan diletakkan di mana saja. Tidak seperti alat tradisional yang tertanam di tanah.

“Dalam waktu 1,5 menit bisa mengupas dua buah kelapa. Alat ini mudah sekali dipergunakan. Kelapa diletakkan di atas alat, lalu ujung pisau ditaruh di atas kelapa. Menekan besi pegangan. Kelapa pun mudah dikupas dan bisa dipindahkan ke sisi lain yang belum dikupas dengan menggeser pegangan besi,” ungkapnya.

Kampus Cristo Re, sebut Frederikus, juga berencana menciptakan berbagai mesin atau alat lainnya yang bisa dipergunakan untuk memudahkan masyarakat dalam bekerja dan harga jualnya terjangkau.

“Kami juga sedang membuat alat pemeras santan, pemecah kemiri, pencacah batang pisang, sampah organik dan mesin cetak batu-bata. Semua mesin ini akan dibuat dalam waktu dekat setelah dana tersedia,” ungkapnya.

Frederikus Michael dosen atau instruktur Politeknik ATMI Surakarta kampus Cristo Re Maumere. Foto : Ebed de Rosary

Alat pemeras santan dan pemecah kemiri, tambah Yoseph Abrian Wohangara, dosen atau instruktur lainnya, merupakan tugas akhir mahasiswa tingka akhir angkatan ketiga yang sudah lulus dan akan di-training di ATMI Solo.

“Pencacah sampah organik sudah dipesan oleh SMPK Frateran Maumere untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk. Dipergunakan pada tanaman di kompleks sekolah mereka,” paparnya.

Lihat juga...