Irit Tempat, Jual Nasi Padang di Atas Mobil

Editor: Satmoko Budi Santoso

199

BATAM – Tidak mudah untuk setiap pengusaha menjadi hebat. Apalagi di tengah persaingan bisnis saat ini.

Namun tidak sedikit pula pengusaha kecil menengah yang berhasil membangun bisnis mereka. Meskipun penuh perjuangan yang cukup keras ketika memulai.

Salah satu usaha masakan padang, Yetti di Kota Batam. Ia merintis sejak 6 tahun lalu dengan modal pinjaman. Saat ini puluhan juta per bulan mengalir omzetnya.

Tiap hari, Yetti sibuk melayani konsumen di atas mobil miliknya. Wanita asal Payakumbuh, Sumatera Barat itu, membuat usaha jualan nasi padang di atas mobil pick up di tepi jalan daerah kawasan Sungai Panas, Kota Batam.

Yetti Suryani memperlihatkan masakan nasi padang yang dijual di mobil pick up di Kota Batam, Selasa (25/9/2018) – Foto Yogi Eka Sahputra

Awal mula 6 tahun lalu. Yetti mendapat musibah, suaminya Ujang Asran mengalami patah tangan ketika bekerja sebagai tukang di Kota Batam.

Terpaksa penghasilan suaminya tersebut tidak berlanjut. Sehingga membuat ekonomi keluarga Yetti menurun. Padahal saat itu anaknya harus masuk SMK.

Namun wanita satu ini tidak putus asa. Ia mencoba memikirkan sesuatu yang bisa menghasilkam duit.

Setelah musibah itu terjadi satu minggu lamanya, Yetti berpikir untuk menjual makanan masakan padang. Pasalnya ia sudah mempunyai dasar bisa memasak di kampung halaman dahulu.

Tidak lama-lama, Yetti menjual barang-barang di rumahnya dan meminjam uang ke beberapa orang untuk modal jualan. Pertama ia membeli mobil Espass Daihatsu.

“Memang idenya bukan jual di ruko, tetapi mencari pembeli langsung, jualannya di mobil,” katanya sambil menyediakan pesanan pelanggan.

Pada tahun 2012 itu, Yetti mulai menjual nasi padang. Penjualannya tidak langsung membuahkan hasil bagus.

“Menangis-nangis dulu, satu tahun pertama,” ujar wanita dua anak ini.

Ia harus menghadapi penggusuran ketika berjualan di tepi jalan. Selain itu, beberapa kali tempat ia jajaki mencari pembeli. Mulai dari kawasan pemerintahan Batam Center, kawasan PT Tunas, kawasan pusat perbelanjaan pasar Jodoh, dan lainnya.

“Saat itu sempat drop, penghasilan hanya bisa bayar hutang saja,” katanya.

Kemudian Yetti mencoba menjual nasi padang ketika hari Jumat di Masjid Raya Batam -sekarang Masjid Agung-. Di saat itu semangatnya kembali, setiap dagangan habis terjual.

“Di situ semangat lagi, jualan saya selalu habis,” katanya.

Setelah satu tahun berjalan, akhirnya ia menemukan satu tempat yang cocok yaitu di Depan Vhiara Sungai Panas, Batam. Tempat ini memang menjajakan puluhan masakan mulai masakan ringan maupun masakan padang. Sampai sekarang Yetti tetap berjualan di situ.

Setelah berjualan 4 tahun lamanya, Yetti akhirnya bisa membeli mobil baru pick up. Mobil Espass ia pensiunkan karena sudah sering rusak.

Yetti terlihat terutama pada siang hari. Pembeli terus datang silih berganti, baik orang kantoran hingga juru parkir. Satu piring nasi padang hanya dibandrol Rp10.000 untuk semua jenis lauk.

Yetti menyediakan hampir semua lauk yang ada di rumah makan masakan padang. Namun, uniknya, ia tidak menjual daging. Hanya ada ikan dan ayam.

Ada rendang, ikan goreng, ikan gulai, ayam goreng, ayam gulai, sayur lobak, jengkol, tahu dan lainnya. Sedangkan untuk minum satu gelas teh obeng atau teh es hanya Rp3000.

Yetti mengatakan, ia sangat bersyukur bisa menemukan jalan keluar ekonomi melalui jualan nasi padang di atas mobil tersebut.

Satu hari ia menghabiskan 9 kilo gram beras dengan omzet lebih kurang Rp1.000.000 per hari. “Kita libur ketika tanggal merah,” katanya.

Sekarang dari penghasilan tersebut, anaknya bisa kuliah di Politeknik Kota Batam dan anak paling kecil duduk di bangku SDN 003 Kota Batam.

Prinsip Yetti dalam berbisnis tidak prioritas kepada untung. Namun bagaimana dagangannya bisa berputar setiap hari. Akhirnya, Yetti saat ini sudah bisa pulang kampung kapan saja. Sejak belasan lamanya merantau tak kunjung bisa pulang ke kampung halaman.

Baca Juga
Lihat juga...