ITP UMM Kembangkan Beras Analog Berbahan Umbi Garut

Editor: Mahadeva WS

155
Kepala Laboratoriun ITP UMM, Dr.Ir.Damat,MP – Agus Nurchaliq

MALANG – Hingga saat ini, pemerintah masih memberlakukan kebijakan import beras. Hal itu dilakukan dengan alasan, memenuhi kebutuhan konsumsi beras yang semakin meningkat.

Hanya saja, dalam jangka panjang, import beras dinilai dapat mengancam ketahanan pangan nasional. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan upaya diversifikasi pangan, berbasis pangan pokok non beras.

Salah satu yang dilakukan adalah dengan, mengembangkan beras analog berbahan dasar umbi garut. Produk tersebut tengah dikembangkan Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP), Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Kepala Laboratoriun ITP UMM, Dr.Ir.Damat, MP menjelaskan, beras analog merupakan tiruan beras, yang diolah dari bahan baku berbasis karbohidrat dan non beras. “Saat ini laboratorium ITP UMM, tengah mengembangkan beras analog dari umbi garut, yang kemudian coba diperkaya dengan bahan-bahan lain, untuk menambah manfaat kesehatan dari beras analog itu sendiri,” jelasnya kepada Cendana News saat, Senin (10/9/2018).

Umbi garut dipilih sebagai bahan dasar pembuatan beras analog, karena mampu tumbuh dan berkembang dibawah tegakan tanaman lain atau tanaman naungan. Disamping itu, umbi garut merupakan umbi yang didalamnya sudah mengandung banyak serat, sehingga memiliki indek glikemik yang rendah, dan sangat baik digunakan sebagai bahan baku beras analog. “Tapi kekurangan dari umbi garut, hanya bisa dipanen satu tahun sekali,” jelasnya.

Disisi lain Damat menyebut, banyak orang yang melihat umbi garut hanya sebagai makanan inferior, atau makanan yang tidak berkelas. Padahal dibalik itu, semua umbi garut memiliki manfaat yang sangat baik bagi kesehatan, terutama bagi mereka yang mengidap penyakit degenerative seperti diabetes militus, maupun jantung koroner.

Salah satu cara mengeliminir penyakit tersebut dengan mengkonsumsi makanan mengandung serat dan antioksidan. “Untuk itu kami mengembangkan beras analog dari pati umbi garut, yang dikenal dengan nama Beras Garut Kaya Antioksidan (RASGADAN), dan Beras Garut Kaya Bethasianidin (RASGANIN),” sebutnya.

Dari hasil laboratorium, kandungan serat di dalam beras analog ini sebesar 16-18 persen. Angka tersebut merupakan angka yang cukup tinggi. Pengembangan beras analog dari pati umbi garut, bukan dalam rangka menyaingi beras reguler yang biasa dikonsumsi masyarakat.

Beras ini diarahkan untuk bisa memberikan efek yang menyehatkan bagi masyarakat yang mengkonsumsi. Direncanakan, pengembangan umbi garut tidak hanya pada beras analog saja, tetapi juga pada bahan dasar pembuat mie. Penelitian beras analog RASGADAN dan RASGANIN masih terus dikembangkan, sebelum pada akhirnya di pasarkan kepada masyarakat dengan menggandeng perusahaan untuk memasarkannya. Damat menyebut, sudah mulai meneliti umbi garut  sejak 2006. Hanya saja untuk pengembangan umbi garut menjadi beras analog, baru dilakukannya setahun belakangan.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.