Jalan Tol Difungsikan, Lahan Penggembalaan Ternak Terhimpit

Editor: Satmoko Budi Santoso

173

LAMPUNG – Sejumlah pemilik ternak di stationing (STA) 17 dan 18 Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang sebelumnya merupakan areal persawahan mengalami kesulitan menggembala ternak.

Sulistiono, salah satu pemilik ternak kerbau menyebut, semenjak JTTS ruas Bakauheni-Terbanggibesar paket 1 Bakauheni-Sidomulyo difungsikan, pagar pembatas dengan kawat sudah dipasang.

Kondisi tersebut membuat peternak harus memutar jauh untuk menuju ke lokasi penggembalaan bahkan melalui upper pass di STA 18 Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan.

Kambing milik Lasiman digembalakan di dekat area JTTS akibat keterbatasan lahan penggembalaan [Foto: Henk Widi]
Satu bulan sebelumnya, Sulistiono mengungkapkan, peternak sapi, kambing, kerbau masih bisa melintas. Keterbatasan lahan penggembalaan membuat sejumlah peternak memanfaatkan lahan sawah yang berada di dekat JTTS.

Kemarau di wilayah tersebut menurut Sulistiono berdampak rumput hijauan sulit diperoleh sementara lahan yang masih memiliki lahan penggembalaan berada di seberang JTTS.

Sejumlah pemilik ternak kambing bahkan masih mempergunakan areal di dekat JTTS yang dibatasi oleh selokan untuk menggembala ternak.

“Jalan tol memang sudah difungsikan. Namun belum sepenuhnya jadi karena masih ada fasilitas yang belum dibuat. Bahkan kendaraan melintas masih sepi sehingga peternak masih bisa menggembalakan sapi, kerbau dan kambing di area yang ditumbuhi rumput,” terang Sulistiono, salah satu peternak kerbau di Desa Pasuruan, saat ditemui Cendana News, Rabu (19/9/2018).

Pemilik ternak disebut Sulistiono memiliki dua akses untuk menyeberang ke wilayah lahan penggembalaan dengan melintasi upper pass, sebagian melalui terowongan jembatan sungai Way Asahan.

JTTS ruas Bakauheni-Terbanggibesar di STA 18 Kecamatan Penengahan masih fungsional [Foto: Henk Widi]
Sulistiono memilih menggembalakan kerbau yang diikat di lahan sawah pasca-proses pemanenan. Cara tersebut diakuinya lebih efektif, karena ia bisa meninggalkan sebanyak tiga ekor kerbau miliknya untuk dicarikan pakan hijauan dan bisa diambil saat sore.

Peternak kerbau lainnya bernama Sutilah, memilih mengandangkan ternak miliknya pasca-lahan penggembalaan berkurang. Pemilik dua ekor kerbau tersebut menyebut, semenjak pembangunan JTTS, selain lahan pertanian sawah yang berkurang, lahan penggembalaan untuk ternak juga berkurang.

Sebagian lahan sawah yang masih bisa digarap dengan memanfaatkan sumur bor bahkan disebutnya sementara tidak bisa digunakan sebagai lahan penggembalaan.

“Sementara waktu pemilik ternak seperti saya menunggu saat padi dipanen, karena akses menuju ke sawah tidak bisa dilalui,” beber Sutilah.

Sutilah, salah satu peternak kerbau mencari rumput untuk pakan [Foto: Henk Widi]
Solusi untuk mencari pakan dilakukan dengan proses merumput menggunakan sabit dan karung. Proses mencari rumput dilakukan di dekat aliran sungai kecil serta area sawah yang masih dipenuhi rumput.

Bersama sang suami, Sutilah bahkan kerap memanfaatkan jerami limbah panen padi untuk pakan ternak kerbau miliknya. Perubahan lingkungan akibat pembangunan jalan tol dan kemarau ikut berimbas secara langsung sebagai peternak.

Lasiman, pemilik ternak kambing jenis gembel mengaku beruntung, area tepi jalan tol masih bisa dipakai untuk menggembala kambing. Meski sudah dipagar dengan kawat berduri, namun ia menyebut, ternak kambing miliknya masih bisa masuk di dekat area tol sebelum jalan tol dioperasikan.

“Pernah dilarang untuk menggembalakan kambing di dekat jalan tol, namun sementara saya masih diberi kesempatan menggunakan area berumput dan dibatasi pagar berduri,” beber Lasiman.

Lasiman, pemilik ternak kambing masih memanfaatkan area jalan tol untuk menggembalakan kambing [Foto: Henk Widi]
Lasiman menyebut, saat jalan tol tersebut dioperasikan, ia memastikan tidak akan melakukan penggembalaan di area tol. Sejumlah akses yang sudah ditutup dengan kawat berduri membuat ia harus rela memutar dengan menggunakan akses jalan upper pass untuk menuju lokasi penggembalaan.

Perubahan lingkungan akibat kemarau, diakui Lasiman, juga mendorong ia harus mencari pakan tambahan yang dilakukan ke wilayah dengan cadangan rumput melimpah.

Baca Juga
Lihat juga...