Jalan Tol II: Terlalu Menarik untuk Diabaikan

Oleh: Siti Hardijanti Rukmana

477

Sahabat,
Sebelum saya bercerita pengalaman saya membangun jalan toll, izinkan saya sedikit mengulas sepintas, mengapa pemerintah, mengajak swasta untuk ikut berpartisipasi.

Tulisan Terkait: Jalan Tol I : Saya Memilih Bersama Kaum Muda

Sahabat,
Dengan semakin derasnya dampak era globalisasi ekonomi dunia pada saat itu terhadap Indonesia, banyak lonjakan-lonjakan positif yang mempengaruhi ekonomi Indonesia. Seperti, kayu lapis merajai pasar dunia, busana dan produk tekstil Indonesia memasuki toko-toko internasional, udang hasil budidaya Indonesia menembus pasaran dunia. Masih banyak lagi komoditi agribisnis dan hasil manufaktur Indonesia, memperoleh tempat di pasar dunia.

Dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang pesat saat itu, maka mau tidak mau, semakin banyak dibutuhkan pula sarana penghubung, antara sentra-sentra produksi dengan pusat-pusat pemasaran dan pelabuhan. Masyarakat modern pun sudah semakin canggih tuntutannya terhadap mutu layanan umum. Masyarakat semakin mampu melengkapi kehidupannya di antaranya membeli mobil, yang mengakibatkan, kemacetan lalu lintas terjadi.

Menyikapi hal tersebut, pemerintah memutuskan, untuk membangun jalan toll (jalan bebas hambatan) Nort South Link (Cawang Priok), yang semula perencanaannya dibangun dengan system at grade (jalan yang dibangun rata dengan tanah), diubah menjadi elevated road (jalan layang), walaupun biaya pembangunannya, tiga kali lebih besar dibandingkan at grade, hal ini, untuk mengurangi dampak sosial mengenai pembebasan tanah.

Jalan Tol Cawang Priok
Saat penandatangan Perjanjian Kerja Sama antara PT Jasa Marga (wakil Pemerintah) dengan PT Citra Maga Nusaphala Persada ( pemenang tender jalan toll Cawang Priok)

Dengan keterbatasan dana yang dihadapi pemerintah saat itu, karena diprioritaskan untuk hal-hal yang lain yang lebih dibutuhkan masyarakat, maka pemerintah membuat sebuah keputusan politik yang sangat berani, dengan melibatkan swasta dalam pembangunan proyek besar.

Swasta ditantang untuk ikut berpartisipasi. Saya pikir, tantangan itu terlalu menarik untuk diabaikan.

Setelah saya berembuk dengan kawan-kawan di PT. Citra Lamtoro Gung Persada, yang saya pimpin, yang selama ini, telah memproduksi temuan putra Indonesia, tiang pancang beton pratekan, karya Ir Simanjuntak, kami memutuskan, memberanikan diri, untuk mengambil peluang besar tersebut.

Tapi melihat besaran pembiayaan proyek tersebut, membuat saya termangu juga untuk sesaat. Apalagi saingan kami pada saat itu kontraktor besar dari Jerman Barat, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Suasana batin saya itupun terlihat oleh bapak. Bapak menanyakan pada saya. “Apa yang sedang mengganggu pikiranmu wuk.”

Punya “Konsultan pribadi” seperti bapak, memang merupakan berkah terbesar bagi saya, tidak saya sia-siakan kesempatan seperti ini.

“Bapak kan pirso (tau), kalau saya mau ikut tender jalan toll, apa saya bisa dan mampu mengerjakannya pak. Besaran proyeknya begitu besar, dan ini merupakan proyek jalan toll pertama yang ditawarkan pemerintah ke swasta.”

Jawaban bapak sangat sederhana, “Tanyakan pada dirimu sendiri, kalau kamu merasa yakin dapat mengerjakannya, ya lakukan saja, kerjakan dengan segala resiko yang kamu hadapi. Tapi kalau kamu ragu-ragu, sebaiknya jangan kamu kerjakan.”

Jalan Tol Cawang Priok
Saat saya menandatangani Perjanjian Kerja Sama antara PT Jasa Marga (wakil Pemerintah) dengan PT Citra Maga Nusaphala Persada (pemenang tender jalan toll Cawang Priok)

Ucapan bapak tersebut, membuat saya tersentak. Iya ya, mengapa tiba-tiba, saya kehilangan keyakinan pada diri saya sendiri. Toh saya tidak harus mengerjakan sendiri. Apa gunanya ada falsafah gotong royong. Falsafah inilah yang memicu saya membentuk konsorsium untuk menangani pekerjaan ini.

Anggata Konsorsium :
Dalam bidang konstrusi, kami mengajak:
1. PT Hutama Karya (Persero)
2. PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama
3. PT Yala Perkasa Internasional

Untuk mengatasi penyediaan bahan baku semen maupun besi beton, kami mengajak,
4. PT Indocement Tunggal Prakarsa
5. PT Krakatau Steel (Persero)

Untuk mempermudah pengadaan dan peminjaman dana , kami mengajak
6. Tabungan Asuransi Pensiun (Taspen)
7. PT Citra Lamtoro Gung Persada

Atas dasar musyawarah dan mufakat, saya ditunjuk sebagai Caretaker Konsorsium. Sebelumnya saya sampaikan kepada konsorsium, niat saya untuk memakai semua yang terlibat dalam pembangunan proyek tersebut, hanya putra putri Indonesia, dan disetujui mereka semua.

Secara cermat, untuk memenangkan lelang tender, selama empat bulan, staf konsorsium, bekerja mati-matian, mengerahkan seluruh kemampuan, untuk menyajikan yang terbaik.

Jalan Tol Cawang Priok
Saat penandatangan Perjanjian Kerja Sama antara PT Jasa Marga (wakil Pemerintah) dengan PT Citra Maga Nusaphala Persada ( pemenang tender jalan toll Cawang Priok)

Lalu, tiga hari sebelum penyerahan usulan proyek, terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan. Saat itu saya ada di Bengkulu menghadiri pertemuan masyarakat kopi, dalam rangka penyajian Mesin Pengupas Kopi Hummer Mill, kami menerima keputusan dari Departemen Keuangan, bahwa TASPEN tidak diizinkan ikut serta dalam konsorsium, dan tidak diizinkan meminjamkan uang.

Staf saya Dir Op. CLP Dipl. Ing Bambang Soeroso, dalam laporannya melalui telepon menyampaikan juga : “Anak-anak sudah pada lemas semua, bu. Putus asa semua.”

Kalimat itu sudah lebih dari cukup untuk menyulut emosi saya. “Siapa suruh kalian putus asa !!!” bentak saya dalam telpon, “ kalau kalian mau terus bekerja sama dengan saya untuk mencapai sasaran itu, sekarang juga kalian semua harus bangkit. Jangan ada kata putus asa, kalau mau maju. Tunggu saya di Jakarta.”

Sore itu, saya langsung pulang ke Jakarta. Saya mampir sebentar ke rumah, minta izin suami dan anak-anak saya, untuk ke kantor, karena ada masalah, yang harus segera saya tangani.
Saya temui semua staf yang masih berkumpul di sana. Dengan tegas saya sampaikan, besok saya akan mencari sumber dana yang lain, asal kawan-kawan semua bersedia melakukan perhitungan ulang dengan tingkat suku bunga yang baru, dalam waktu relatif singkat.

Bersambung…

Jakarta, 10 September 2018

Baca Juga
Lihat juga...