Jalan Tol VI: Sosrobahu yang Berarti Seribu Pundak

Oleh: Siti Hardijanti Rukmana

513

Sahabat,
Dengan dapatnya kami bridging finance dari sumber di luar negeri, membuat semangat kami semakin terpacu. Mengingat banyaknya waktu yang telah kami lewati dan hasil yang kami dapat relatif sangat sedikit, sedang waktu tak mau menunggu, maka dalam pelaksanaannya, kami memutuskan untuk bekerja selama 24 jam, dengan bergantian pekerja tiga kali.

Kemudian di dalam pembangunan proyek ini, kami menerapkan, Program Analisa Teknik dan Nilai (Value Engineering), di singkat menjadi PATEN. Program ini adalah, suatu metoda penganalisaan kembali untuk mendapatkan penghematan, baik biaya maupun waktu, tanpa sama sekali mengubah fungsi dan kekuatan konstruksi. Setiap selesai pekerjaan di lapangan, semua petugas lapangan inti, mengadakan evaluasi langsung, begitu ada masalah ditemui, maka PATEN langsung diterapkan. Dengan demikian percepatan dapat kami dapatkan, tanpa harus menunggu lama.

Sahabat,
Sebagaimana telah diketahui, bahwa dalam pelaksanaan proyek ini kami menggunakan Sistem Landas Putar Bebas Hambatan, yang ditemukan oleh seorang putra Indonesia, Ir Rake. Pada tanggal 27 Juli diadakan pemutaran pada Pier no 71. Saya tunggu kok tidak diputar-putar, setelah saya cek, ternyata tidak satupun yang berani mengambil keputusan untuk memutar.

Saya panggil pak Rake sang penemu, saya tanyakan: “Pak Rake, pak Rake yang membuat teknologi ini.”

“Betul ibu,” jawab pak Rake.

“Menurut pak Rake apakah Pier ini dapat berputar dengan sistem yang bapak buat?” saya tanyakan lagi.

Pak Rake serta merta menjawab: “Bisa ibu.”

“Pak Rake yakin sekarang ini Pier ini bisa diputar?”

“Saya yakin ibu, pier ini bisa diputar.” jawabnya tegas.

“ Kalau begitu putar sekarang juga,” keputusan saya sampaikan setelah mendengar keyakinan pak Rake.

Alhamdulillah berhasil diputar. Pak Rake menangis melihat penemuannya berhasil. Dan ini akan menyelesaikan masalah pengguna jalan tidak terganggu dengan adanya pembangunan proyek ini.

Pemancangan tiang pertama

Kebahagiaan yang membanggakan ini, saya laporkan ke bapak melalui telpon. Dan sekaligus saya mohon bapak untuk memberi nama. Bapak memberi selamat dengan tulus pada saya dan pak Rake, serta seluruh jajaran yang terlibat dalam pembangunan proyek ini. Bapak memberi nama “Sosrobahu” (seribu pundak), yang mempunyai arti, satu bidang kuat yang dapat menerima dan menahan beban besar.

Keesokan harinya, berita tentang penemuan Putra Indonesia meledak di mass media. Saya rasa, itu pemberitaan yang paling positif tentang proyek yang kami bangun ini.

Keberhasilan diputarnya Sosrobahu tersebut, juga membuat bapak dan ibu, berkenan menyaksikan keberhasilan penemuan putra Indonesia. Bapak sangat menghargai penemuan putra Indonesia, seperti juga sistem “Cakar Ayam”, penemuan putra Indonesia, Prof Dr Sedyatmo, yang dipakai untuk membangun landasan Soekarno Hatta.

Kami siapkan pemutaran pierhead 85, untuk disaksikan bapak dan ibu. Begitu melihat pier tersebut dapat diputar, walaupun sebelumnya ada sedikit hambatan namun segera dapat diatasi, bapak dan ibu serta merta bertepuk tangan. Tampak kebanggaan dan haru tersirat di wajah beliau berdua, menyaksikan keberhasilan Putra Indonesia di bidang konstruksi.

Sejak saat itu, sepulang dari bermain golf di sore hari, kadang bapak menyempatkan berkunjung ke proyek, untuk melihat kemajuan pembangunannya. Ibu pun demikian, beliau sangat antusias dengan proyek yang dibangun oleh anak bangsa.

Sudah barang tentu, semua itu sangat besar artinya dan menjadi cambuk bagi kami yang terlibat langsung dalam pembangunan proyek ini.

Sahabat,
Pada suatu ketika, ada pier yang dihancurkan, setelah saya tanyakan, kenapa harus dihancurkan. Ternyata ada prosedur yang tidak dijalankan dalam proses pembuatannya, dan setelah diuji tidak memenuhi syarat konstruksi. Sehingga diputuskan untuk dihancurkan, dari pada akan mengganggu di kemudian hari.

Kecewa memang melihat pier yang sudah menelan biaya besar dihancurkan. Namun di satu sisi saya bangga terhadap mereka. Saya memberikan kepercayaan penuh. Dan mereka mengimbanginya dengan tanggung jawab penuh. Hal ini menunjukkan pula bahwa para petugas lapangan, memegang teguh nilai nilai profesi.

Sahabat,
Dalam melakukan tugas ini, saya memberlakukan sistem bottom-up. Yakni, proses dimana keterbukaan saya terapkan, mereka memberi masukan ke atas, baru kami bahas dan setelah ada kesepakatan, langsung saya delegasikan ke bawah. Jadi tidak hanya semata-mata perintah dari atas saja.

Bapak pernah mengajari saya: “ Kalau kamu berbuat, jangan hanya menerapkan kemauanmu sendiri saja. Orang tidak akan berhasil dengan sikap diktator. Pemimpin, harus bisa melakukan pendekatan dan memahami gagasan-gagasan orang lain. Kalau hanya gagasanmu saja yang dipakai, landasannya akan terlalu lemah. Gagasan orang banyak harus dirangsang untuk tumbuh demi suksesnya pekerjaan yang sedang kamu laksanakan bersama.”

Saya menyadari, bahwa proyek yang sangat besar ini, akan membawa banyak ujian bagi saya. Namun setiap saya berhasil melalui ujian tersebut, seperti telah mengangkat saya ke tingkat profesionalisme yang lebih tinggi.

Subhanallah, semua bisa karena Allah semata. Ya Allah terima kasih atas kesempatan yang Engkau berikan.

Jakarta 19 September 2018

Baca Juga
Lihat juga...