Jambore Nasional Wujudkan Indonesia Bebas Sampah 2020

Editor: Satmoko Budi Santoso

252

MALANG – Dalam upaya mewujudkan target Indonesia Bebas Sampah 2020, Jambore Nasional Indonesia bersih dan bebas sampah kembali diadakan.

Mengusung tema Pembiayaan Pembangunan dan Keberlanjutan Pengelolaan Sampah, jambore yang diikuti 520 orang peserta tersebut, diharapkan mampu menjadi wadah penyampaian informasi, ide, gagasan dan solusi untuk dijadikan rekomendasi dalam pembuatan kebijakan oleh pemerintah dalam menyelesaikan masalah sampah.

Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Dr. Ir. Danis H. Sumadilaga, M. Eng. Sc dalam kegiatan Jambore tersebut, para peserta akan berdiskusi untuk menghasilkan saran atau rekomendasi bagi pemerintah daerah maupun pusat dan masyarakat. Cara mengelola sampah dengan baik.

Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Dr. Ir. Danis H. Sumadilaga, M.Eng.Sc (tengah) dan penanggung jawab jambore, Mohamad Bijaksana June Rosano (kanan) – Foto Agus Nurchaliq

Menurutnya, dari tiga kali penyelenggaraan Jambore tersebut, sudah muncul pemikiran-pemikiran cara membangun pendidikan karakter bangsa, memilih teknologi untuk mengolah sampah, memilah sampah organik dan anorganik, termasuk masalah pembiayaan.

“Sekarang lebih detail lagi isunya, yakni membahas tentang pembiayaan dan keberlanjutan pengelolaan sampah agar menjadi lebih baik. Target pemerintah untuk pengurangan sampah akan tercapai dengan baik. Bahkan saya berharap, target tersebut bisa tercapai dengan melakukan lompatan dengan segera mengimplementasikan ide maupun gagasan yang ada,” ujarnya, saat menghadiri pembukaan Jambore Indonesia bersih dan Bebas Sampah, di Lapangan Rampal Kota Malang, Kamis (13/9/2018).

Dari acara Jambore diharapkan ada masukan atau rekomendasi, sehingga Kementerian PUPR dan lembaga lainnya akan berusaha memproses masukan tersebut menjadi kebijakan yang akan dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Lebih lanjut Danis menyampaikan, langkah konkret dari pemerintah dalam mengatasi masalah sampah adalah dengan memanfaatkan sampah untuk diubah menjadi energi. Saat ini tahapannya sudah mulai dijalankan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di 12 kota di antaranya Denpasar, Manado, dan kota-kota besar lainnya.

Selain itu juga ada pemanfaatan sampah plastik (kresek) sebagai bahan campuran pembuatan aspal.

“Salah satu sampah yang dominan adalah sampah plastik. Sampah plastik telah dibagi menjadi beberapa klasifikasi di antaranya tas plastik atau kresek. Kami dari PUPR sudah berhasil mengubah plastik kresek tersebut menjadi bahan campuran untuk aspal. Aspal pun menjadi lebih baik. Jadi, plastik yang tadinya tidak dimanfaatkan, kita manfaatkan,” tandasnya.

Dikatakan Danis, untuk memproses dari plastik lembaran tersebut menjadi bahan campuran aspal, dibutuhkan mesin pencacah. Kementerian PUPR sedang mengupayakan program seribu mesin pencacah plastik yang akan dibagikan kepada masyarakat agar nanti tercipta sampah-sampah yang akan dibeli untuk menjadi campuran aspal.

“Kalau seribu mesin pencacah ini berhasil diterapkan, otomatis salah satu isu sampah plastik bisa dikurangi dengan membuatnya sebagai bahan campuran aspal,” terangnya.

Sementara itu, penanggung jawab jambore, Mohamad Bijaksana June Rosano menilai, saat ini
pertumbuhan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap sampah semakin meningkat. Tinggal bagaimana pemerintah dan pegiat persampahan bisa benar-benar membuat ekosistem pengelolaan sampah yang baik.

“Artinya, antara program pemerintah dengan kesadaran masyarakat yang semakin tinggi, bisa bahu membahu menyadarkan lebih banyak lagi. Masyarakat yang masih belum tahu cara mengolah sampah. Dengan terlaksananya Jambore ke tiga ini, semua panduan, rekomendasi, bahkan program-program pemerintah, bisa disalurkan melalui pegiat-pegiat persampahan,” tandasnya.

Menurutnya, kesadaran terhadap sampah dapat dilakukan dengan dua cara pendekatan, yakni melalui pendidikan dan penegakan hukum.

“Pendidikan dilakukan untuk peningkatan kesadaran, tapi kalau masih ada yang bandel harus ada hukuman yang harus diterima,” ucapnya.

Disampaikan Rosano, selama tiga hari penyelenggaraan Jambore, semua peserta sama-sama belajar dan meng-up date perubahan apa saja yang ada terkait kebijakan pemerintah. Namun yang paling utama adalah jambore sebagai ajang “curhat” dari para peserta. Karena mereka inilah yang menjadi pejuang-pejuang di tiap kabupaten dan kota yang tahu persis tentang permasalahan sampah yang ada di tengah-tengah masyarakat.

“Jadi kami saling berbagi pengalaman dan merumuskan curhatan untuk dijadikan rekomendasi. Dari rekomendasi ini, cita-cita kami akan terjadi sinergi antara program pemerintah dan semangat masyarakat untuk berubah bisa tersambung,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...