Jassin Burhan Sebut Bangsa Indonesia Kaya Musik

Editor: Makmun Hidayat

283
Jassin Burhan - Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA — Jassin Burhan termasuk musisi muda berbakat, yang banyak melakukan riset dan membuat eksperimen dalam bermusik.

Ia mulai kenal musik pada saat di SMP dan membentuk band bersama teman-teman di SMP, dan mulai belajar musik secara formal di Kursus musik LPKJ Taman Ismail Marzuki menjelang SMA. Setelah lulus dari SMA ia langsung mendaftar di Akademi Musik LPKJ jurusan Gitar Mayor dan Cello Minor di tahun 1979.

Pemain Cello dan anggota tim musik dan puisi Bunga Kopi yang berdomisili di Jakarta itu begitu intens dan konsekuen dalam meriset musik, bahkan tak tanggung-tanggung meriset sampai bertahun-tahun lamanya.

Saat ini ia sedang konsentrasi meriset Tarian Saman yang sudah mendapat pengakuan dari badan dunia Unesco sebagai warisan budaya non benda, dan merupakan tarian yang berkarakter serta menjadi kebanggaan Indonesia.

“Bangsa kita sangat kaya musik, kalau kita ke daerah-daerah pasti kita dapatkan sesuatu bahwa bangsa kita memang sangat kaya musik,“ kata Jassin Burhan kepada Cendana News seusai acara diskusi pameran 6 Pelukis Jakarta, di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat (28/9/2018).

Lelaki kelahiran Jakarta ini membeberkan dirinya selama empat tahun pulang-pergi Jakarta-Aceh.

“Saya lagi memperdalam musik Saman,” beber musisi yang pada tahun 1988 mendapat undangan dari pemerintah Perancis untuk memperdalam Cello dan Musik Kamar (Chambre Musique) di Conservatoire de Musique de Romainville Paris XXeme dan pada waktu yang bersamaan juga menjadi mahasiswa tamu di Conservatoire Nationale Superieur de Musique de Paris.

Dalam musik Saman yang asli dari Gayo yang dimainkan lelaki semua dan jumlahnya ganjil, kata Jassin, dimana openingnya bernyanyi tanpa nada.

“Ada mantra sebelum nyanyi untuk menghindari binatang buas karena di sana memang masih banyak binatang buas, tapi mereka punya falsafah melindungi binatang, hal seperti ini tentu sangat menarik sekali,” papar conductor pagelaran musik ‘Chandrabuana Chamber Orchestra’ dalam rangka peringatan seabad Ismail Marzuki yang berlangsung di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM).

Jassin mengaku saat dirinya memimpin orkestra dengan lagu Surilang yang komedian. “Saya buatkan aransemen orkestranya yang musiknya variatif, tapi justru itu kekayaannya,” ujar musisi yang membuat musik film layar lebar “Katakan Cinta“ bersama Ridho Slank.

Menurut Jassin, ada perbedaan musik bangsa kita dengan musik Barat. “Kalau musik Barat seluruh dunia sama musiknya, tapi kalau musik kita misalnya gamelan berbeda di berbagai daerah punya ciri khas masing-masing,” urainya.

Musik bangsa kita menegasikan alam sekelilingnya. “Jangan lupa ada grafitasi bumi jadi tanpa disadari si pembuat musiknya merasakan dalam mengaransemen musiknya,” ujarnya.

Ada sebuah istilah, kata Jassin, musik oral dan musik tulisan sama-sama kualitasnya, tapi ketika dibuat imitasinya musik oral itu menjadi berbeda, tapi musik tulisan sama. “Sama saja dengan gamang kromong termasuk kekayaan-kekayaan musik bangsa kita,” simpulnya.

Jassin menyayangkan para pemusik kita sekarang banyak yang asyik dengan musik digital.

“Saya bukannya anti, tapi ada masalah musikal yang harus saya selesaikan dalam musik digital, jadi saya menghindari musik digital karena musik digital itu semuanya seragam jadi monoton, tapi kalau musik gesek sangat berbeda,” tegasnya.

Jassin banyak membaca sejarah musisi-musisi besar seperti Balabartok dari Rumania yang keluar-masuk kampung mempelajari melodi-melodi kampung untuk dibuat orkestra. “Saya terinspirasi dengan Barabatok dengan membaca biografi yang banyak melakukan eksprerimen dan inovasi dalam bermusik,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...