Jaswanto, Tumbuhkan Dunia Literasi dari Bali

Editor: Satmoko Budi Santoso

305

DENPASAR – Jaswanto, mahasiswa jurusan Pendidikan Ekonomi, semester 7, di Universitas Pendidikan Ganesha, Buleleng, Bali ini, sudah berhasil menerbitkan beberapa buku karangan. Tulisan-tulisannya dapat dibaca di media online seperti web dan media sosial lainnya.

Beberapa buku yang pernah ditulis oleh pemuda kelahiran Tuban, Jawa Timur, 21 tahun yang lalu itu, antara lain: Munajat Hati Sebuah Novel (2017) dan Cangkruk Dusun Karangbinangun, sebuah novel melawan patriarki (2018), serta buku ketiganya yang berjudul, Hidup adalah Komedi bagi Orang yang Mau Berpikir (Tentang Gumaman yang Boleh Tidak Anda Baca), masih dalam proses penerbitan.

Anak dari pasangan suami istri Sekar dan Tari Purno itu menceritakan, awal mula suka menulis sehingga bisa menerbitkan buku saat masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Waktu itu ia merasa tertantang karena ada salah satu teman di Pesantren Kilat yang jago sekali menulis.

Hingga pada suatu ketika ada salah seorang tutor di Pesantren Kilat yang menjadi tempat belajarnya memberi motivasi dengan mengutip dari penulis dan imam terkenal seperti Pramoedya Ananta Toer.

Jaswanto mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha, Buleleng, Bali yang gemar menulis.-Foto: Sultan Anshori.

“Motivasi saya menulis, dulu ada salah satu teman di Pesantren Kilat yang jago sekali menulis, dan saya tidak mau kalah ceritanya,” kata Jaswanto, saat ditemui, Kamis (13/9/2018).

Bagi Jaswanto, motivasi dalam menulis adalah bahwa dengan menulis, ia menemukan kebahagiaan, kesenangan, kebebasan. Ia pun percaya dengan apa yang pernah dikatakan Pramoedya Ananta Toer dalam tulisannya, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Dan Imam al-Ghazali, “Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.”

“Bagi saya menulis itu keren, Bang. Punya dunia sendiri. Juga, dengan menulis saya bisa dikenal dunia. Saya menulis maka saya ada,” kata Demisioner Dirut LAPMI HMI Cabang Singaraja dan PA HMI Cabang Singaraja ini.

Selain menulis buku, ia juga mahir dalam menulis cerpen. Beberapa karangan cerpen tersebut seperti berjudul Rimba pernah dimuat di majalah Pendidikan Ekonomi Undiksha edisi ke-1 tahun 2018.

Selain itu ia juga pernah menjadi finalis (lima besar) dalam Gema Lomba Karya Esai Nasional 2017 yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia, serta menjadi Penulis Artikel Terbaik dalam kegiatan Calling for Article pada tahun 2018 yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Undiksha, serangkaian dengan penerbitan Majalah Fakultas Ekonomi “E-MAGZ” Edisi ke-6.

“Selama proses menulis, karya yang paling berkesan ialah, walaupun diterbitkan secara indie, ketika saya menulis novel yang pertama, Munajat Hati. Sebab, berkat karya pertama itulah nama saya lebih dikenal oleh masyarakat, khususnya di kalangan mahasiswa dan komunitas-komunitas literasi,” imbuh Jaswanto.

Selain menjadi mahasiswa, ia juga menjadi pendiri sekaligus penggerak komunitas Perpustakaan Jalanan Lentera Merah dengan dibantu oleh beberapa temannya.

Ia berharap, keahlian yang dimiliki bisa ditularkan kepada para pemuda lain, khususnya bagi para mahasiswa. Selain itu, ia juga bercita-cita membentuk sekolah literasi di Indonesia termasuk di Bali.

“Saya memiliki cita-cita bisa berpetualang ke seluruh pelosok negeri untuk menyebarkan virus literasi,” pungkasnya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk