Jelang Panen, Petani Penengahan Diresahkan Serangan Hama

Editor: Satmoko Budi Santoso

181

LAMPUNG – Sejumlah lahan pertanian padi sawah di wilayah Desa Ruang Tengah, Desa Kuripan, Desa Kelaten, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, mengalami serangan hama burung dan tikus.

Damin, salah satu petani padi di Desa Pasuruan menyebut, padi yang berusia sekitar 80 hari diserang hama burung pipit dan tikus. Ia menyebut, padi varietas Ciherang tersebut akan dipanen saat usia 120 hari.

Sejak padi mulai berbulir serangan hama burung kerap menyerang pada pagi dan sore hari sementara tikus menyerang saat malam hari.

Serangan hama burung pipit disebutnya karena sebagian lahan sawah di wilayah Desa Pasuruan sebagian sedang memasuki masa tanam. Proses penanaman padi tidak serentak berimbas pada serangan hama burung pipit, diakui oleh Damin, disebabkan faktor pasokan air.

Bersama sekitar puluhan petani dengan memanfaatkan aliran air memakai mesin sedot, area sawah di wilayah tersebut memasuki masa tanam semenjak bulan akhir Juni dan akan memasuki masa panen pada akhir September.

Sebagian tanaman padi di wilayah Desa Pasuruan diberi alat penghalau burung dan sebagian perangkap tikus di bagian bawah imbas serangan burung pipit dan tikus [Foto: Henk Widi]
Serangan hama tersebut bahkan sudah ditinjau oleh Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung Selatan.

Ia menyebut, masa tanam tidak serentak menjadi faktor serangan hama penyakit pada tanaman padi. Namun di wilayah tersebut tidak bisa dilakukan sistem tanam padi serentak diakibatkan pasokan air terbatas akibat kemarau.

Damin dan sejumlah petani bahkan harus rela menghalau burung menggunakan berbagai alat serta memasang racun pestisida pembasmi tikus.

“Anjuran dari petugas POPT memang cara afektif memutus mata rantai hama pengganggu tanaman padi dengan penanaman serentak. Tapi sistem irigasi di wilayah kami tidak memungkinkan sehingga harus rela diserang hama penyakit,” terang Damin, salah satu petani padi sawah di Desa Pasuruan, saat ditemui Cendana News, Minggu sore (9/9/2018).

Berbagai upaya dilakukan oleh Damin dan sejumlah petani untuk menghalau hama burung pipit yang datangnya secara bergerombol. Jumlah burung pipit penyerang padi bisa mencapai ratusan ekor dan menyerang sejak padi mulai berbulir hingga menjelang masa menguning.

Ia bahkan harus menunggu sawah miliknya sejak pukul 05.30 pagi waktu dimana burung pipit membutuhkan makanan dan saat sore hingga pukul 17.30.

Imbas dari serangan hama burung pipit, bulir padi yang seharusnya berisi mengalami pengurangan isi. Sebagian bulir padi bahkan tidak berbuah akibat dihisap burung saat masih muda.

Alat pengusir hama tikus berupa orang orangan sawah, bendera, meriam bambu hingga kentongan bambu bahkan digunakan. Cara tersebut cukup efektif selain penggunaan cara lain memakai jaring perangkap burung.

Ia bahkan harus rajin berada di sawah untuk menghalau burung menghindari kerugian dari serangan hama burung tersebut.

Selain serangan hama burung yang meresahkan gangguan hama tikus sebagai hewan pengerat menyerang padi miliknya. Padi diserang hama tikus diakui kerap terjadi malam hari. Ia bahkan sudah memasang racun tikus di sejumlah sudut sawah termasuk penggunaan zat belerang yang dibakar dan dimasukkan ke sarang tikus.

Kegiatan gropoyakan tikus bahkan sudah dilakukan dengan memasang perangkap untuk meminimalisir perkembangan hama tikus.

“Hama tikus menyerang saat malam hari, mematahkan batang padi dan memangsa bulir padi,” cetus Damin.

Damin memastikan dampak serangan hama tikus dan burung pipit berimbas produktivitas padi miliknya akan menurun. Sebab pada beberapa petak sawah akibat serangan hama burung pipit dan tikus banyak rumpun padi tegak berdiri tanpa isi.

Padahal kondisi padi berisi ditandai dengan padi merunduk penuh dengan bulir padi. Hasil panen yang biasanya mencapai 3 ton diprediksi hanya akan menghasilkan sekitar 2,5 ton gabah untuk lahan setengah hektar. Padahal pada musim panen bulan September harga gabah mencapai Rp500 ribu per kuintal.

Penyusutan hasil panen dampak serangan hama burung dan tikus diakui petani lain di Desa Kelaten bernama Sumardi.

Sumardi salah satu petani di desa Kelaten Kecamatan Penengahan menyelesaikan proses pemanenan padi yang mengalami penurunan produksi akibat hama burung dan tikus [Foto: Henk Widi]
Sumardi menyebut, pada lahan seluas satu hektar dirinya bisa mendapatkan hasil panen sekitar 5 ton gabah kering panen (GKP). Imbas serangan hama burung pipit dan tikus, ia menyebut, menghasilkan GKP sebanyak 4,6 ton.

Penyusutan hampir empat kuintal terjadi pada lahan yang berada dekat dengan kebun kerap menjadi sarang burung pipit dan tikus.

“Hasil produksi yang menurun sudah pasti karena tanaman padi milik kami mendapat serangan hama burung dan tikus,” beber Sumardi.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Bina Karya 1 tersebut bahkan mengakui produksi padi yang menurun umum dialami petani pada masa tanam ketiga atau musim tanam gadu. Dampaknya harga GKP di tingkat petani dijual seharga Rp4.700 hingga Rp4.800 atau seharga Rp480 ribu per kuintal.

Kondisi padi dari sejumlah wilayah yang hasil panennya cukup baik dengan kondisi kadar air rendah bahkan bisa mencapai Rp5.000 per kilogram atau Rp500 ribu per kuintal. Meski harga mahal ia mengaku memilih menyimpan padi untuk disimpan di gudang sebagai stok kebutuhan hingga musim panen berikutnya.

Baca Juga
Lihat juga...