Jhonson, Keliling Dunia Perjuangkan Perdamaian dan Kaum Difabel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

347

MAUMERE — Banyak kaum difabel yang hingga sekarang masih mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, bahkan tidak sedikit yang memandang rendah warga berkebutuhan khusus ini.

“Saya umur dua tahun terkena polio dan korban minder, sehingga pada 1977, saat duduk di bangku kelas 1 SMP terpaksa keluar dari desa karena selalu diejek,” sebut Jhonson Sumangkut, difabel asal provinsi Sulawesi Utara, Minggu (23/9/2018).

Saat ditemui Cendana News di Maumere, Jhonson mengakui, lari ke kota Manado ibukota provinsi Sulawesi Utara karena malu dengan lingkungan di kampungnya. Tetapi ternyata di Manado pun nasibnya sama, ia tetap diejek sehingga terpaksa merantau ke Jakarta dan mengamen di bis tingkat jurusan Senen-Blok M.

Ini dilakukan, sebut pria 54 tahun ini, agar dirinya tidak merasa minder lagi. Setelah mental kuat, dirinya pun kembali ke kampung halaman dan mulai mendirikan usaha foto copy serta pengetikan komputer untuk menyambung hidup.

Gagal Bertemu Presiden

Tahun 1992 hingga 1993, Jhonson mulai keliling Indonesia menggunakan kursi roda naik kapal Pelni, kereta api hingga pesawat. Ia juga meminta rekomendasi dari menteri luar negeri, Ali Alatas agar dapat keliling dunia. Ia juga diberikan kursi roda oleh Menteri Sosial, Haryati Subadio.

“Tahun 1995 hingga 1999, saya keliling dunia dalam rangka mengumandangkan perdamaian dunia. Saya ketemu pimpinan gereja Protestan di Jerman, Paus di vatikan, pimpinan agama Islam di Mesir dan selalu berbicara tentang perdamaian dunia,” ungkapnya.

Usai mengelilingi 42 negara di 5 benua, pria asal desa Tumani kecamatan Maesaan kabupaten Minahasa Selatan ini ingin berjumpa Presiden Habbie di tahun 1999, tetapi tidak bisa ketemu, padahal dia diundang oleh panitia untuk hadir di acara peringatan HUT RI di Istana Negara.

“Saat mau ketemu presiden, saya tidak diizinkan, padahal saya sudah dekat sekali lokasinya dengan presiden dan ingin menjabat tangan saja, namun tidak dikasih kesempatan,” terangnya.

Tahun 2008, berbekal uang sebesar Rp10 juta pemberian dari bupati Minahasa Selatan, Jhonson dan seorang temannya yang buta sebelah matanya bertekad kembali ke Jakarta untuk bertemu presiden RI mengutarakan keinginan kaum disabilitas.

Untuk menarik perhatian presiden, sebutnya, dia beserta temannya berjalan kaki dari Surabaya ke Jakarta selama 26 hari agar bisa ketemu presiden dan dirinya pun diikuti oleh sebuah stasiun televise swasta yang selalu memberitakan perjuangannya ketemu presiden.

“Kami sudah tiba di Istana Negara dan membawa surat permohonan untuk ketemu presiden tetapi tetap saja tidak diberikan waktu ketemu presiden SBY. Kami tunggu selama sebulan di Jakarta tetapi tetap saja tidak bisa dan terpaksa kembali ke Minahasa,” ungkapnya.

Bawa Empat Tuntutan

Difabel asal provinsi Sulawesi Utara ini pun tidak patah arang dan tahun 2018 ini kembali melakukan aktifitas keliling Indonesia dengan menggunakan sepeda motor roda tiga rakitan sambil membawa kursi roda .

Saat ini, sebut Jhonson, sudah 17 provinsi yang dikunjungi, dimana di pulau Sulawesi enam provinsi, menyeberang ke Kalimantan ada lima provinsi, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, NTB dan NTT. Tujuan berikutnya ke Ambon dan Papua, baru ke Sumatera.

“Motivasi saya sejak dari dulu berjuang agar kaum difabel diperhatikan pemerintah dan kami bukan meminta menjadi warga negara kelas satu seperti di luar negeri. Saya ingin berbuat dan mumpung ada keberanian untuk itu, mau tunggu siapa lagi yang berjuang untuk kaum difabel,” tegasnya.

Ayah satu anak ini mengaku mau berjuang agar kaum difabel benar-benar diperhatikan sebab banyak calon pemimpin yang kalau ada kepentingan baru kaum difabel seolah-olah diperhatikan.

Dalam Permen untuk Asosiasi Penyandang Disabilitas Berat tahun 2007 dimana pemerintah memberikan tunjangan sebesar Rp300 ribu setiap bulan seumur hidup bagi kaum disabilitas, tetapi saat di Bali dirinya mendapatkan data dari 5 ribu difabel hanya seribu orang saja yang diberikan bantuan uang tersebut.

“Yang kami minta kaum difabel dibuatkan fasilitas dan diberikan potongan harga. Saya berencana akan bertemu presiden kembali dan mudah-mudahan kali ketiga ini bisa ketemu,” harapnya.

Saat ketemu Presiden, kata putera Minahasa ini, dirinya ingin sampaikan, sebagai warga Negara dirinya telah menjalankan tugas dan tanggungjawabnya mempertahankan Pancasila dan NKRI dengan mengelilingi Indonesia dan mengkampanyekan itu.

Kedua, dirinya meminta agar kaum difabel diperhatikan dan jangan dibuat kuota bantuan untuk kaum difabel. Tuntutan ketiga, untuk dua kecamatan, pemerintah harus membangun satu sekolah luar biasa, sebab kaum difabel selalu terus ada.

“Di sekolah ini diajarkan pendidikan dan keterampilan. Tuntutan keempat, minta keringanan biaya atau potongan harga bagi kaum disabilitas untuk transportasi darat, laut dan udara,” bebernya.

Untuk orang normal, tolong jangan melihat sebelah mata kepada teman-teman difabel. Sebagai warga Negara dirinya pun taat aturan sehingga menjadi orang pertama yang membuat SIM D di Minahasa Selatan.

Baca Juga
Lihat juga...