Joko Kisworo: Seni Milik Masyarakat

Editor: Makmun Hidayat

324

JAKARTA — Berkarya seni bukan hanya mereka yang seniman, tapi profesi apapun juga bisa berkarya, seperti di antaranya para polisi yang unjuk kebolehan berkarya lukisan dalam Pameran Bhayangkara Art Merajut Kebhinekaan di Taman Ismail Marzuki (TIM), 4-8 September 2018. Sebuah pameran yang diikuti polisi-polisi yang mencipta karya lukisan.

“Pameran Lukisan Bhayangkara Art Merajut Kebhinekaan ini sebenarnya pada awalnya hanya iseng saja,” kata Joko Kisworo, kurator, saat mengawali sambutannya dalam rangka membuka pameran di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Selasa (4/9/2018) malam.

Joko membeberkan ia dengan Krisnanda membicarakan sadar wisata, kemudian muncul gagasan untuk mencoba menyatukan gagasan, di setiap Polda-polda di seluruh Indonesia adakah senimannya.

“Lalu kita hubungi beberapa Polda, ternyata bermunculan satu-dua dan kemudian kita bikin group WA (WhatsApp) khusus Merajut Kebhinekaan,” bebernya.

Sampai akhirnya, gagasan muncul tentang Pameran Lukisan Bhayangkara Art Merajut Kebhinekaan. “Kawan-kawan yang ada di Polri bukan seniman, tapi profesinya adalah seorang polisi yang suka melukis,” ungkapnya.

Joko melihat beberapa polisi yang cukup kuat karya lukisannya. “Tampaknya memang ada yang melukis cukup lama dilihat dari hasil lukisannya sehingga tergarap serius,” nilainya.

Joko membeberkan pengalamannya untuk kesekian kalinya mengadakan pameran yang bukan seniman, tapi ia mengajak untuk berkarya dalam bentuk pameran.

“Saya bisa membuktikan bahwa spektrum seni itu sangat luas sekali, bukan seni untuk seni saja, tapi seni itu memang milik masyarakat karena lahir dari masyarakat,” ujarnya.

Dari pengalaman Joko mengajak orang yang berada di tempat rehabilitasi drugs untuk melukis menjadi bukti bahwa seni memang milik masyarakat.

“Disana kita temukan bahwa melukis menjadi healing buat mereka dan ketika lukisan mereka pamerkan ada kebanggaan tersendiri, yang kemudian banyak di antara mereka kembali ke masyarakat untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat,” ucapnya.

Kemudian, ada juga pengalaman Joko memamerkan karya lukisan dari orang di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan), bahwa lukisan memang sangat luas sekali. “Seni bukan hanya milik seniman, tapi benar-benar milik masyarakat,” tuturnya.

Sedangkan, ketika Joko mengajak orang yang mengalami bipolar untuk melukis dan kemudian dipamerkan di TIM juga, ternyata unik juga.

“Melukis bisa menjadi terapi bagi mereka karena orang yang mengalami bipolar itu stigmanya sangat tinggi sehingga keluarga yang memiliki seseorang gangguan bipolar tekannannya sangat tinggi, dan memperparah kondisi stigma mereka dan lagi-lagi seni bisa menyelamatkan mereka,” tegasnya.

Adapun ajakan Joko pada polisi untuk melukis dan kemudian dipamerkan, hasilnya memang luar biasa.

“Saya merasa kewalahan untuk menyeleksi karya-karya mereka, yang ternyata karya mereka hebat-hebat, dalam kesehariannnya tugas dinas sebagai polisi tapi mampu berkarya lukisan yang sangat baik bahwa seni memang milik masyarakat,” tegasnya.

Baca Juga
Lihat juga...