Jumlah Orang Kelaparan di Dunia, Meningkat

889
PBB -Dok: CDN
NEW YORK – Bukti baru terus memperlihatkan, bahwa jumlah orang yang kelaparan di dunia bertambah, sehingga mencapai 821 juta pada 2017, atau satu dari sembilan orang, demikian laporan 2018 Lembaga Keamanan Pangan dan Gizi di Dunia.
Laporan tersebut menyatakan, kemajuan terbatas juga dicapai dalam penanganan bermacam bentuk gizi buruk, mulai dari anak yang bertubuh kerdil sampai orang dewasa yang kegemukan, kondisi yang membuat ratusan juta orang terancam.
Kelaparan telah naik selama tiga tahun belakangan ini, sehingga mengubah kemajuan yang dicapai sejak satu dasawarsa lalu, demikian laporan UNA-OIC –yang dipantau di Jakarta, Jumat (14/9/2018) pagi.
Perubahan dalam kemajuan itu mengirim peringatan jelas, bahwa masih banyak yang harus dan mendesak dilakukan, jika mau mencapai ‘Sasaran Pembangunan Global mengenai Nol Kelaparan’ sampai 2030.
Di dalam laporan bersama yang diajukan dalam laporan tersebut, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Dana Pembangunan Internasional PBB (IFAD), Dana Anak PBB (UNICEF), Program Pangan Dunia (WFP) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, bahwa tanda yang mengkhawatirkan mengenai peningkatan kondisi rawan pangan dan tingginya tingkat bermacam bentuk gizi buruk adalah peringatan jelas, bahwa ada setumpuk pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan, kita tidak meninggalkan seorang pun di jalan menuju tercapainya sasaran SDG mengenai keamanan pangan dan peningkatan gizi.
Kemajuan buruk telah dibuat dalam mengurangi anak yang perkembangan tubuh mereka terhambat, kata laporan tersebut. Sementara, hampir 151 juta anak yang berusia di bawah lima tahun terlalu pendek untuk usia mereka akibat gizi buruk pada 2017, dibandingkan dengan 165 juta pada 2012.
Secara global, di Afrika dan Asia, masing-msaing terdapat 39 persen dan 55 persen dari semua anak yang bertubuh pendek.
Laporan tahunan PBB itu mendapati, bahwa keragaman iklim yang mempengaruhi pola curah hujan dan musim pertanian, serta cuaca ekstrem seperti kemarau dan banjir, termasuk di antara pengendali utama di balik peningkatan kelaparan, bersama dengan konflik dan kelambanan ekonomi.
Laporan tersebut menggambarkan sebagai “memalukan”, fakta bahwa satu dari tiga perempuan dalam usia reproduktif secara global dipengaruhi oleh anemia, yang secara mencolok memiliki konsekuensi kesehatan dan pembangunan untuk perempuan dan anak mereka.
Tak ada wilayah yang telah memperlihatkan penurunan kasus anemia di kalangan perempuan dalam usia reproduktif, dan prevalensi itu di Afrika serta Asia hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan di Amerika Utara. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...