KADIN Sumbar Buka Peluang Tiga Komoditas Ekspor

Editor: Satmoko Budi Santoso

196
Ketua KADIN Sumatera Barat Ramal Saleh ketika memberikan keterangan pers di Padang/Foto: M. Noli Hendra

PADANG – Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, berharap kepada Kamar Dagang dan Industri (KADIN) untuk membuka peluang komoditas ekspor Sumatera Barat. Ada tiga komoditas ekspor Sumatera Barat yakni gambir, kayu manis, dan pinang.

“Saya merasakan betul, komoditas ekspor terbesar ada di Indonesia itu berasal dari komoditas Sumatera Barat. Jadi hal ini perlu dikerjasamakan untuk membuka peluang eskpor. Semangat kebersamaan antara pemerintah dan KADIN harus lebih titingkatkan,” katanya, saat menghadiri acara Pengukuhan Pengurus KADIN Sumatera Barat Periode 2017-2022 dan Rakerprov & Rapimprov 2018 yang digelar di Kyriad Hotel Bumi Minang, Senin (17/9/2018).

Selain berharap agar KADIN Sumatera Barat memberikan peluang kepada komoditas ekspor yang ada tersebut, ke depan KADIN juga diharapkan memberikan pelatihan kepada pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKN).

Di Sumatera Barat, 84 persen pelaku usaha yang bergerak di mikro, 14 persen usaha kecil, dan sisanya menengah-besar.

Irwan juga menyebutkan, saat ini pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat masih sama dengan nasional, yakni ekspor masih stuck di 2 miliar dolar. “Saya mengajak ke depan kita lakukan gerakan yang betul- betul dirasakan. Saya mengajak gerakan menanam komoditas ekspor. Mari bentuk tim hilirisasi di Sumatera Barat,” ujarnya.

Menurutnya, ke depan yang bisa dikembangkan adalah industri berbasis komoditas, pariwisata. Kalau ini bisa diciptakan, Irwan percaya, KADIN bisa memberikan peran lebih maksimal. Apalagi sekarang, sudah banyak fasilitas yang sudah dirintis, kerja sama dengan Kementerian Pertanian, Perdagangan, Dalam Negeri, untuk memperkuat posisi dan bargaining power dari KADIN Indonesia.

Untuk itu, Gubernur menyatakan, perlu dilakukan sinkronisasi program antara Pemerintah Daerah dengan KADIN. Sinkronisasi yang ia maksud, dapat dipusatkan pada upaya peningkatan ekspor komoditi andalan Sumatera Barat. “Ini perlu kita upayakan. Semangat kerjas ama kita, saya pikir kita awali di komoditi ekspor unggulan ini dulu,” sebutnya.

Ketua KADIN Sumatera Barat, Ramal Saleh, mengatakan, untuk membuka peluang komoditas ekspor di Sumatera Barat ini, diperlukan gerakan bersama untuk menanam tanaman ekspor. Artinya, dengan dimulai dari sekarang, tanaman ekspor di seluruh daerah di Sumatea Barat, akan menjadi investasi yang bagus untuk masa depan.

Hasil perkebunan di Sumatera Barat, dengan semakin besarnya produk komoditas ekspor, maka akan memberikan dampak pertumbuhan ekonomi yang bagus.

Apalagi kini, dengan kondisi menguatnya dolar terhadap mata uang Indonesia, merupakan momen yang bagus memperoleh untung, karena dengan adanya komoditas ekspor Sumatera Barat, memberikan harga komoditas yang dijual dengan harga tinggi. Secara ekonomi, akan membuat petani jadi sejahtera.

“Contohnya kedelai, di Sumatera Barat hanya sebagian kecil yang memproduksi kedelai. Seandainya lahan dan tanaman kedelai lebih luas dari di Sumatera Barat, maka akan sangat bagus. Tapi, tanaman kedelai tidak semua daerah yang cocok untuk berkebun,” ujarnya.

Ia menjelaskan untuk komoditas ekspor di Sumatera Barat seperti gambir, kayu manis, dan pinang, bisa dikatakan belum memproduksi dengan jumlah banyak. Sebut saja gambir, di Sumatera Barat daerah yang paling banyak menghasilkan gambir itu yakni Kabupaten Limapuluh Kota, Pesisir Selatan, dan Pasaman Barat. Selebihnya, hanya sebagian kecil yang berkebun gambir.

“Saya rasa untuk mendorong komoditas ekspor ini tumbuh dan memproduksi dengan baik, perlu kerja sama dan tidak hanya satu pihak saja. Ke depan KADIN akan berupaya membuat program seperti menanam tanaman komoditas ekspor itu,” kata Ramal Saleh, yang baru dilantik hari ini jadi Ketua KADIN Sumatera Barat.

Sementara itu, Ketua KADIN Pusat, Rosan Roeslani, mengatakan, sinergi antara pemerintah dan KADIN adalah hal mutlak bila ingin pertumbuhan ekonomi yang optimal. Karena kebijakan tidak akan berjalan baik kalau tidak didukung pengusaha, dalam hal ini KADIN.

Menurutnya, untuk menjaga pertumbuhan, harus tingkatkan investasi. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia: 50 persen dari konsumsi RT, 30 persen dari investasi, 10 persen dari belanja pemerintah, dan sisanya ekspor-impor. Artinya yang bisa genjot pertumbuhan saat ini adalah investasi.

“Saya sudah berkeliling ke banyak negara, coba yakinkan bahwa investasi bisa masuk ke Indonesia. Karena saat ini kita berkompetisi dengan negara lain yang melakukan hal sama. Vietnam, Laos, Myanmar saja begitu agresif,” sebutnya.

Baca Juga
Lihat juga...