Kain Ulos Kuno Dipamerkan untuk Tarik Wisatawan

128
Masyarakat Batak mengenakan kain khas ulos - Foto: etniknusantara.com

JAKARTA — Koleksi kain tenun khas Batak, ulos, yang telah berusia amat tua dan langka akan dipamerkan di Museum Tekstil Jakarta yang diharapkan bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk menyaksikannya secara langsung.

Plt Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata NW Giri Adnyani, mengatakan pihaknya mendukung penuh kain-kain ulos dipamerkan di Museum Tekstil, Jakarta, pada 20 September – 7 Oktober 2018.

“Karya seni ini dianggap memiliki makna yang tinggi. Kami berharap ini bisa menjadi daya tarik bagi para pecinta wisata budaya,” kata Giri ketika dihubungi di Jakarta, Sabtu (15/9/2018).

Ulos yang akan ditampilkan adalah koleksi pribadi milik Devi Pandjaitan bersama Kerri Na Basaria dalam pameran persembahan Yayasan Del dan Tobatenun, serta didukung Kementerian Pariwisata.

Tema yang diusung adalah “Ulos, Hangoluan & Tondi” dan rencananya, Menteri Pariwisata Arief Yahya akan membuka acara tersebut pada 19 September 2018.

Pameran akan merepresentasikan sebuah karya tenun yang menjadi simbol ikatan kasih sayang, restu, dan persatuan dalam setiap tahapan kehidupan masyarakat Batak.

“Hangoluan yang berarti Kehidupan dan Tondi berarti Jiwa. Hal ini menggambarkan kain ulos merupakan gambaran kehidupan dan jiwa masyarakat Batak,” jelas Devi Pandjaitan.

Ditambahkannya, pameran berkolaborasi dengan salah satu interior desainer muda Indonesia, Mita Lukardi.

Nantinya, pameran akan dikemas segar dan menarik dimana kain-kain ulos ditampilkan dalam berbagai bentuk instalasi dekor dengan detail menceritakan tahapan kehidupan.

“Sangat diharapkan pameran dapat menarik minat anak muda untuk lebih menghargai budayanya. Salah satu instalasi modern yang ada di pameran adalah motif ulos yang tertuang di anyaman rotan sepanjang 25 meter,” tuturnya.

Kegiatan ini juga dilakukan untuk melestarikan budaya dan untuk menanam rasa cinta terhadap kain tenun ulos kepada generasi muda.

Di sisi lain pameran ini juga ditujukan untuk memperkenalkan ulos kepada masyarakat luas dan mendorong masyarakat untuk menggunakan kain bermotif ulos dalam berbagai acara, seperti layaknya batik.

Menteri Pariwisata Arief Yahya sebelumnya menilai ulos adalah kebanggaan Indonesia. Bahkan, saat Pertemuan IMF di Washington DC beberapa waktu lalu, ulos harungguan dipakai oleh para Pemimpin Keuangan dari berbagai negara yang hadir di sana.

“Sudah pasti kita sangat bangga. Bayangkan, karya tangan-tangan terampil para penenun, bisa ter-ekspose di perhelatan penting keuangan dunia,” paparnya.

Menpar pun mengajak masyarakat untuk datang ke Museum Tekstil dan menyaksikan pameran ini.

“Kalau mau tahu lebih dalam mengenai perjalanan sejarah pertenunan ulos Batak yang sudah berusia puluhan tahun, ajak keluarga dan teman-teman untuk melihat kehebatan karya-karya dari para penenun. Kapan lagi bisa melihat koleksi ulos Batak yang sudah berumur puluhan tahun di satu lokasi,” ajak Menpar.

Menteri asal Banyuwangi ini menilai ulos tidak mudah lekang dengan panas, dan tidak lapuk dari hujan. “Ulos, tidak hanya menyimpan tradisi Batak yang kental dan sarat makna,” jelasnya.

Ditemukan fakta bahwa ulos merupakan suatu produk penting asal salah satu peradaban tertua di Asia yang usianya diperkirakan sudah 4.000 tahun bahkan disebut-sebut telah ada jauh sebelum bangsa Eropa mengenal tekstil.

“Ulos juga disebut sebagai representasi dari semesta alam. Di masa lampau, perempuan-perempuan Batak bangga menenun, memakai, dan mewariskannya kepada keluarga sebagai suatu pusaka,” tuturnya. (Ant)

Lihat juga...

Isi komentar yuk