Kali Bekasi, Berbusa dan Berwarna Pekat

Editor: Satmoko Budi Santoso

191

BEKASI – Pencemaran Kali Bekasi, sepertinya dilakukan pembiaran. Meski berbagai aksi telah dilakukan, atau peringatan demi peringatan disampaikan tetapi pencemaran di Kali Bekasi terus berlanjut.

Bahkan Kali Bekasi tidak hanya kotor, bau dan pekat tetapi kali itu mengeluarkan buih menumpuk layaknya salju.

Rohani, (24), ibu rumah tangga, yang setiap hari melintas jembatan penyeberangan Kali Bekasi dari kawasan Bantargebang, mengeluhkan kondisi Kali Bekasi. Menurutnya, saat melintas baunya luar biasa menyengat.

“Hari ini di Kali Bekasi sudah sangat luar biasa. Busa menumpuk di sudut jembatan sudah terlihat seperti tumpukan salju. Bahkan baunya lehih menyengat dibanding kemarin,”ungkap Ani, menunjukkan lokasi busa, di bawah jembatan, Jumat (28/9/2018).

Ketua Ketua Komunitas Pecinta Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), Puarman – Foto Muhamad Amin

Terpisah, Ketua Komunitas Pecinta Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), Puarman, membenarkan kondisi Kali Bekasi. Menurut dia, pencemaran di Kali Bekasi adalah kiriman dari Sungai Cileungsi.

“Buih dan limbah di Kali Bekasi, adalah kiriman dari Cileungsi Kabupaten Bogor. Tepatnya di Curug Parigi. Tadi malam di hulu hujan, jadi sekarang Curug Parigi bersih, karena tumpukan limbah sudah dialirkan ke Kali Bekasi,” ungkap Puarman.

Dikatakan, berbagai upaya telah dilakukan baik dari KP2C, dan pegiat lingkungan lainnya, melapor ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, dan Provinai Jawa Barat. Tetapi pencemaran Kali Cileungsi dan Kali Bekasi masih terus berlanjut.

“Laporan juga sudah sampai ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), tetapi hanya janji akan investigasi, ambil sampel air dan lainnya. Buktinya pencemaran terus berlanjut,” tegas Puarman menilai Pemerintah pusat dan daerah belum serius menangani pencemaran Kali Bekasi.

Ketua Fraksi Partia Gerindra, DPRD Provinsi Jawa Barat, Ricky Kurniawan, terpisah mengatakan masalah Kali Bekasi, mirip dengan Kali Citarum, soal pencemarannya. Dia juga meminta pemerintah daerah dapat tegas melakukan penegakan hukum.

“Ini kasusnya mirip dengan Kali Citarum, tapi Kali citarum sekarang berangsur membaik dari pencemaran karena menjadi perhatian pusat,” ungkap Ricky.

Dia juga mengatakan, biasanya kasus pencemaran terjadi dilema. Tidak jarang dari pabrik  mengancam, jika sampai ditutup, maka ribuan orang akan menganggur.

“Sanderanya, biasa atas nama ribuan karyawan yang akan mengganggur jika sampai pabrik ditutup. Maka tak jarang, pihak pabrik mengatakan, kalau mau nutup pabrik silakan saja. Tapi ribuan orang akan menganggur,” ujarnya Ricky menirukan.

Sementara, Walikota Bekasi Rahmat Effendi, setelah melihat langsung kondisi Kali Bekasi, menegaskan, akan mengatasi persoalan buih yang disebabkan limbah pabrik. Agar tidak terus berlanjut mencemari Kali Bekasi yang hulunya ada di Kabupaten Bogor.

Maka, harus ada tindakan tegas dari pemerinrah pusat dan provinsi. Tidak ada lagi hanya sekedar keliling pakai speed boat untuk melihat kondisi Kali Bekasi dan Kabupaten Bogor.

“Kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus menerus, dan tidak bisa lagi sekedar memantau naik speed boat. Tapi harus ada penegakan hukum. Baik Pemerintah Bogor maupun Pemerintah Kota Bekasi harus sama-sama bersikap tegas kepada perusahaan yang membuang limbah ke sungai,” ungkap Bang Pepen, sapaan akrab Walikota Bekasi ini.

Baca Juga
Lihat juga...