Karya Seni Bisa Menjadi Alat Diplomasi Kultural

Editor: Mahadeva WS

169

JAKARTA – Karya seni bukan hanya media hiburan. Karya seni bisa menjadi alat diplomasi kultural antara dua negara. Bahkan bisa menjadi sebuah jembatan budaya dalam konteks sejarah dan seni. Seperti yang terlihat dalam pameran, Kisah Dua Kota: Arsip Naratif dari Ingatan, di Galeri Nasional Indonesia.

Pameran yang berlangsung 13-29 September 2018 tersebut, menjadi salah satu bentuk diplomasi kultural, antara Indonesia dan Korea, yang diilhami keterkaitan dalam perbedaan budaya masing-masing negara. “Pameran ini bagi saya sangat menarik, dimana saya dapat melihat perkembangan kesenian di Indonesia dan Korea yang sama-sama memerdekakan diri dari Jepang pada waktu yang hampir bersamaan,“ kata Riska Nurhandayani, pengunjung Pameran ‘Kisah Dua Kota: Arsip Naratif dari Ingatan’ di Galeri Nasional Indonesia.

Riska menyebut, Korea merdeka pada 15 Agustus 1945. Sedangkan Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. “Sejarah hubungan kedua bangsa setelah tahun 1945 itu memang sangat  menarik, dan itu yang ditampilkan dalam pameran ini, “ tambah mahasiswi jurusan Teknik Sipil, Universitas Pancasila, Jakarta tersebut.

Memperhatikan dengan cermat dan jeli, Riska mengkritisi pameran yang dinilai masih kurang maksimal. Masih banyak ruang kosong, yang memperlihatkan adanya jarak terlalu lebar pada displai karya satu dengan lainnya. “Yang dipamerkan, semestinya bisa lebih banyak lagi, bisa diisi lebih banyak karya,” ungkapnya.

Riska mengaku tertarik dengan karya bertajuk The Flower Diplomacy, hasil kolaborasi Irwan Ahmett dengan Tita Salina, dua seniman asal Indonesia, yang mengeksplorasi simbol sejarah anggrek ungu, yang diberikan Presiden Soekarno kepada Kim Il Sung pada era 1960-an. “Diplomasi Bunga yang dilakukan Presiden Soekarno kepada pemimpin negara Korea Utara saat itu merupakan sebuah bentuk aliansi terhadap perlawanan hegemoni ideologi barat di Asia,” paparnya.

Menurut Riska, anggrek ungu yang kemudian diberi nama Dendrobium Kimilsung Flower harus menempuh waktu yang sangat lama untuk dibudidayakan. Waktunya, sekitar dua dekade untuk dibudidayakan di Indonesia. Dan akhirnya memperoleh nama botani resminya dari British Royal Horticultura Society oleh Guntur Soekarnoputra pada 1982.

Riska berharap pameran seperti ‘Kisah Dua Kota: Arsip Naratif dari Ingatan’ harus terus ditampilkan di Galeri Nasiomal. Dengan melihat pameran tersebut, pengetahuan dan wawasan mengenai sejarah akan bertambah. “Kita semestinya memang tidak boleh melupakan sejarah,” tegasnya.

Bagi Riska, sejarah sebenarnya sangat menarik, kalau ditampilkan dengan cara yang menarik. Sejarah yang diajarkan di sekolah cenderung stagnan dan membosankan, sehingga disebutnya, banyak yang tidak suka. “Semestinya sejarah ditampilkan dengan  lebih menarik seperti di yang ditampilkan di dalam pameran ini,“ pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...