Kasus Anjing Rabies di Bali Meningkat 15 Persen

Editor: Makmun Hidayat

139
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali, I Putu Sumantra - Foto: Sultan Anshori

DENPASAR — Jumlah kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) di Bali terus meningkat. Dari data yang dimiliki oleh Dinas Peternakan Provinsi Bali tercatat ada peningkatan sekitar 15 persen dari tahun sebelumnya.

“Hingga saat ini sudah ada temuan kasus GHPR akibat anjing di Bali 106 kasus. Sementara total temuan kasus di tahun lalu hanya 92 kasus. Berarti terjadi peningkatan sekitar 14 persen. Dan temuan 106 belum sampai akhir tahun loh. Ini data hingga Agustus kemarin,” ucap Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali, I Putu Sumantra saat ditemui, Senin (10/9/2018).

Menurut Putu Sumerta, daerah yang paling banyak ditemukannya kasus GHPR akibat anjing di Bali yaitu Karangasem dengan 29 kasus, Gianyar 20 kasus, dan Buleleng 21 kasus. Sementara daerah yang zero kasus hanya Kota Denpasar.

Sumantra mengatakan tiga daerah tersebut banyak anjing liar yang dibuang dan berkeliaran bebas sehingga saat proses vaksinasi tidak bisa ditangkap.

“Kepada semua masyarakat di Bali, khususnya di tiga daerah rawan temuan kasus rabies, jika memelihara anjing pilihlah anjing yang bagus dan bisa divaksin. Kami adakan vaksin setiap setahun sekali dan itupun gratis,” imbaunya.

Terkait banyaknya temuan anjing rabies di beberapa wilayah di Bali, salah satu alternatif lain selain pemberian vaksin adalah dengan cara eliminasi. Hal tersebut dilakukan agar meminimalisir penyebaran anjing yang terjangkit virus rabies.

Dari data sementara populasi anjing di Bali, menurut Sumantra diperkirakan mencapai 500 ribu ekor. Sementara pihaknya menyediakan 5.50 ribu vaksin.

“Kami optimis tahun ini 90 persen semua anjing di Bali akan tervaksinasi,” pungkasnya.

Lihat juga...