Kayu Bahan Bangunan di Lamsel Mulai Berkurang

Editor: Koko Triarko

330
LAMPUNG – Penggunaan material kayu untuk pembuatan bangunan, masih dipertahankan oleh masyarakat, terutama di wilayah pedesaan. Namun, akibat semakin berkurangnya jumlah bahan baku kayu, membuat harga kayu semakin mahal.
Kondisi tersebut diakui Herman, salah satu pelaku usaha jual beli kayu (panglong) di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan. Menurutnya, kenaikan harga bahan kayu terjadi pada semua jenis kayu, baik kualitas biasa hingga kelas super.
Herman menyebut, bahan bangunan dari kayu meliputi reng, kaso, balok dan papan. Berbagai jenis bahan bangunan tersebut diperoleh dari pemilik kayu dengan sistem borongan, dan diolah sesuai ukuran.
Rata-rata kayu bahan yang sudah diolah menjadi reng, kaso, balok dan papan, memiliki panjang sekitar 4 meter, dan sebagian menyesuaikan kebutuhan dan jenis kayu.
Saat ini, katanya, harga kayu mengalami kenaikan rata-rata Rp5.000 hingga Rp20.000 per batang, dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
“Faktor kenaikan harga kayu di antaranya diakibatkan banyak warga terimbas proyek Jalan Tol Trans Sumatra membangun rumah baru dengan kayu masih digunakan sebagai bahan utama untuk rangka bangunan,” terang Herman, Selasa (11/9/2018).
Harga berbagai jenis kayu bahan bangunan tersebut, menyesuaikan jenis dan bahan. Harga kayu untuk jenis reng, semula seharga Rp15.000 per batang menjadi Rp20.000. Harga tersebut menyesuaikan jenis kayu dan kualitas.
Jenis kayu di wilayah Lampung yang kerap digunakan, berupa kayu Sengon, Jati Putih, Bayur, Medang, Pule serta berbagai jenis kayu lain. Sebagian kayu kualitas super, di antaranya Meranti, dan Merbau, kerap didatangkan dari wilayah Kalimantan.
Jenis bahan reng kayu sengon, kaso, katanya, dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp800 ribu hingga Rp1 juta. Beberapa jenis kayu berkualitas seperti medang dan bayur, bahkan mulai naik dari semula seharga Rp2,2 juta menjadi Rp2,5 juta, bahkan bisa lebih untuk jenis kayu yang sudah cukup berumur.
Harno, salah satu pemilik usaha pembuatan mebel dari kayu mengerjakan pesanan pelanggan [Foto: Henk Widi]
Kenaikan harga kayu bahan bangunan disebutnya juga dipengaruhi semakin minimnya penanaman pohon untuk bahan kayu.

Herman mengatakan, berbagai jenis kayu bahan bangunan tersebut dijual dengan harga bervariasi dengan sistem kubikasi. Akibat mahalnya sejumlah bahan kayu untuk pembuatan rumah, sebagian masyarakat mulai beralih ke bahan rangka baja. Peralihan pemilihan bahan dari kayu tersebut dilakukan dengan pertimbangan keawetan bahan.

Harno, salah satu pemilik usaha pembuatan furniture, mengungkapkan, berbagai jenis kayu bahan bangunan sudah mulai sulit diperoleh. Beberapa warga yang akan membuat lemari, kursi, kusen jendela dan pintu umumnya membawa bahan hasil gergajian dari kebun atau membeli dari panglong. Ia mengaku kerap tidak menyiapkan bahan baku.
“Sekarang saya sudah jarang mendapat pesanan pembuatan kuda-kuda serta bagian atap, karena banyak yang beralih menggunakan rangka baja,” beber Harno.
Penggunaan rangka baja ringan untuk bahan bangunan diakui Dwi Haryono, warga Kecamatan, Gunung Pelindung, Lampung Timur. Sebagai salah satu pemilik usaha jasa pemasangan rangka baja, ia menyebut banyak warga yang mulai beralih menggunakan bahan baja ringan dengan berbagai pertimbangan.
“Sulitnya memperoleh kayu berkualitas dan awet, harga yang mahal dan daya tahan yang hanya terbatas selama puluhan tahun membuat warga memilih baja ringan”, katanya.
Dwi Haryono menyebut, pemasangan rangka baja ringan dihitung berdasarkan volume. Terkait kualitas bahan, ia menyesuaikan ketebalan baja ringan yang dipilih oleh konsumen. Penggunaan rangka baja ringan diakuinya menjadi cara penghematan, karena pemilik bahan bangunan tidak membutuhkan biaya perehaban, seperti kayu yang mengalami pelapukan.
Penggunaan baja ringan dikombinasikan dengan genteng metal dan seng, bahkan memiliki tingkat keawetan, sehingga biaya perawatan bisa ditekan.
“Bagi warga yang tidak memiliki kebun ditanami kayu, umumnya mulai beralih memakai rangka baja untuk pembuatan kusen dan rangka atap,” beber Dwi Haryono.
Pelanggan disebutnya kerap memanfaatkan rangka baja hingga atap seng untuk atap rumah. Sebagian warga memanfaatkan rangka baja untuk bangunan dengan sistem borongan, sesuai dengan volume yang sudah diinginkan oleh pelanggan.
Pilihan bahan disediakan oleh penyedia jasa konstruksi rangka baja atau dibeli sendiri oleh konsumen, sesuai dengan kesepakatan. Penggunaan rangka baja ringan tersebut kerap dipergunakan oleh warga yang ingin membuat bangunan dengan cepat dan efesien.
Baca Juga
Lihat juga...