Kebutuhan Pertanian dan Budidaya Ikan, Dorong Meningkatnya Permintaan Bambu

Editor: Satmoko Budi Santoso

267

LAMPUNG – Potensi tanaman bambu di Lampung Selatan jenis bambu hijau (Bambusa tuldoides), bambu petung (Dendrocalamus strictur), bambu hitam/wulung (Gigantochlia atroviolacea) masih melimpah.

Potensi rumpun bambu sebagian dimanfaatkan oleh petambak pembudiaya udang vaname, rumput laut, kebutuhan perahu nelayan, pertanian serta bahan bangunan. Kebutuhan yang banyak tersebut, mendorong permintaan bambu meningkat dalam berbagai ukuran dan jenis menyesuaikan kegunaan bambu.

Suhaimi, salah satu pemilik budidaya udang vaname atau udang putih dan kepiting di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan mengaku, membutuhkan bambu untuk berbagai keperluan.

Bambu banyak digunakan dalam sektor budidaya perikanan tambak di wilayah Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Kebutuhan bambu yang banyak digunakan untuk pembuatan keramba apung terbuat dari bilah bambu untuk budidaya kepiting bakau. Selain untuk kebutuhan pembuatan keramba, bambu juga digunakan untuk pembuatan pagar tambak, jembatan penghubung antar-tambak serta penghalau burung pemangsa udang.

“Kebutuhan bambu kami datangkan dari kecamatan lain terutama di wilayah Penengahan, Ketapang yang masih memiliki hutan bambu berbagai jenis untuk berbagai keperluan pendukung budidaya tambak,” terang Suhaimi, salah satu petambak udang, saat ditemui Cendana News, Kamis (20/9/2018).

Penggunaan bambu, menurut Suhaimi, pada sektor pertambakan juga digunakan untuk membuat tanggul penangkis menghindari longsor. Pada sejumlah dinding tanggul yang berbatasan dengan sungai Way Sekampung, Suhaimi membutuhkan ratusan batang bambu berukuran panjang maksimal 4 meter.

Bambu tersebut dibutuhkan mengantisipasi datangnya musim penghujan yang akhir-akhir ini mulai turun berpotensi mendatangkan banjir di sungai Way Sekampung.

Selain sebagai penahan longsor, antisipasi tanggul penangkis saat hujan, bambu juga digunakan untuk penahan jaring. Jaring khusus disiapkan Suhaimi dan sejumlah petambak di wilayah dekat aliran sungai Way Sekampung menghindari reptil jenis ular, biawak bahkan buaya muara masuk ke area pertambakan.

Penggunaan bambu yang cukup banyak oleh pembudidaya udang, bandeng dan kepiting menurut Suhaimi, sekaligus untuk tonggak menyalurkan kabel listrik di wilayah yang belum teraliri listrik PLN.

“Kami bisa mempergunakan kayu, namun harganya lebih mahal sehingga penggunaan bambu masih dominan diperlukan,” beber Suhaimi.

Selain digunakan oleh petambak udang vaname, kebutuhan bambu yang meningkat dialami oleh pemilik lahan pertanian sayuran di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan.

Suhaini, memanfaatkan ribuan ajir bambu untuk tanaman cabai merah [Foto: Henk Widi]
Suhaini, salah satu petani cabai merah keriting menyebut, membutuhkan sebanyak 7000 ajir bambu masing masing sepanjang 1 meter. Bambu tersebut kerap dibeli dari pembuat ajir dengan harga per seribu ajir seharga Rp100 ribu.

Kebutuhan untuk 7000 ajir diakuinya membuat ia harus mengeluarkan biaya sebesar Rp700 ribu dan bisa digunakan untuk dua kali masa tanam.

Penggunaan ajir bambu, menurut Suhaini, untuk menopang batang cabai saat masa pembungaan hingga masa berbuah. Batang cabai harus diikat dengan tali pada ajir bambu mencegah tanaman roboh terutama saat berbuah lebat.

Selain itu hujan yang mulai turun dalam beberapa hari terakhir diantisipasi mencegah kerusakan batang cabai yang ditanam selama masa pembuahan. Suhaimi memiliki langganan tetap yang menyediakan ajir bambu tersebut, sekaligus memenuhi kebutuhan sejumlah petani sayuran untuk ajir serta lanjaran penopang mentimun, kacang tanah, gambas, timun suri.

Saiful, salah satu pemilik rumpun bambu dijual untuk berbagai keperluan pembudidaya udang, petani dan nelayan [Foto: Henk Widi]
“Bambu banyak tumbuh di tepi aliran sungai Way Pisang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan terutama saat masa tanam sayuran bambu sangat dibutuhkan,” cetus Suhaini.

Pemilik kebun bambu di Dusun Merut, Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, Saiful, menyebut kebutuhan bambu hitam dan bambu hijau dominan untuk keperluan bahan bangunan. Bambu tersebut dibeli dari petani pemilik rumpun bambu dengan harga Rp4.000 per batang dan sampai di lokasi pemesan bisa mencapai Rp5.000 termasuk biaya bongkar muat.

Kebutuhan bambu untuk bahan bangunan pembuatan rumah, disebut Saiful, mencapai puncaknya pada tahun 2016 saat sebagian warga terkena proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dan membangun rumah baru.

Kebutuhan di wilayah kecamatan Bakauheni, Ketapang, Sragi sebagai kawasan wilayah pantai dan pertambakan disebutnya masih tinggi. Sejumlah petambak bahkan kerap memesan untuk berbagai keperluan termasuk nelayan untuk penggunaan pada kapal bagan congkel, pembuatan bagan apung.

Pemanfaatan bambu, diakui Saiful, akan menggunakan sistem tebang pilih sehingga hanya bambu usia tua digunakan dan bambu usia muda akan disisakan untuk ditebang ketika sudah tua.

“Sejumlah produsen perebusan teri juga membutuhkan bambu dalam jumlah banyak untuk pembuatan tempat penjemuran,” beber Saiful.

Musim kemarau dengan beralihnya sejumlah petani padi menanam sayur cukup menguntungkan pemilik bambu. Seharga Rp3.000 per batang saja, Saiful menyebut, bisa mendapatkan Rp4 juta dari sejumlah batang bambu yang sebagian tumbuh liar di tepi daerah aliran sungai Way Ulu Badak.

Sebagian rumpun bambu sengaja ditanam oleh keluarganya, seiring dengan kebutuhan bambu untuk berbagai keperluan yang terus meningkat.

Baca Juga
Lihat juga...