Kebutuhan Sayur Organik di Masyarakat Tinggi

Editor: Mahadeva WS

321

LAMPUNG – Kebutuhan tinggi di masyarakat, membuat budi daya sayur segar terus dikembangkan petani di Lampung Selatan. Salah satunya, sentra budi daya sayur yang ada di Desa Sukabaru, Kecamatan Panengahan.

Berbagai jenis tanaman sayuran meliputi cabai merah, bawang merah, terong, kemangi, kangkung, selada, tomat, sawi, bayam, mentimun, kacang panjang, cabai rawit, serta sejumlah sayuran menjadi komoditas yang ditanam di sentra sayur. Sayuran tersebut ditanam secara organik, tanpa menggunakan bahan kimia.

Siti, salah satu petani sayur di desa tersebut mengungkapkan, lahan pertanian tersebut mengandalkan aliran sungai Way Jejur dan sungai Way Pisang. Selama musim kemarau, dominan ditanami hortikultura. Penggunaan bahan organik dilakukan dimulai sejak pengolahan lahan, dengan menaburkan kotoran ternak.

Penanganan hama juga dilakukan dengan menggunakan bahan alami, bersumber dari alam. “Saya menyediakan ratusan karung pupuk kandang yang sudah menjadi tanah, sebagian ditebarkan pada lahan sebelum proses pengolahan, dan sebagian diaplikasikan ketika proses pemupukan pada tanaman sayuran,” terang Siti, Senin (24/9/2018).

Sebagian pupuk organik yang merupakan kotoran ternak, dicairkan bersama dengan tambahan suplemen organik cair hasil olahan daun-daunan, serta tanaman obat alami, untuk memproleh proses fermentasi. Meskipun beraroma tidak sedap, karena sebagian beraroma air seni ternak, air untuk menyiram tanaman tersebut berfungsi sebagai pupuk cair.

Siti juga tidak menggunakan mulsa plastik, untuk budidaya tanaman sayur miliknya. Meski berisiko lahan ditumbuhi rumput, sebagian rumput yang tidak dibasmi dengan zat kimia, masih bisa dipanen untuk bahan pakan ternak. Pembersihan secara alami dengan cara mencabuti rumput, dimanfaatkan sebagai pupuk, dengan cara ditanam di lubang khusus yang telah disiapkan.

Permintaan hasil pertanian sayur organik, masih memiliki pangsa pasar terbatas. Pelanggan tetap sayur organik adalah pedagang kuliner warung makan, usaha pecel lele dan ayam, usaha kuliner mie ayam bakso dan soto. Pembeli akan memesan setelah mensurvei lahan miliknya. “Awalnya banyak konsumen tidak percaya sayuran yang saya tanam jenis sayuran organik, setelah melihat langsung permintaan justru makin bertambah,” beber Siti.

Diversifikasi tanaman pada satu lahan, dilakukan untuk memenuhi permintaan konsumen secara berkelanjutan. Sejumlah sayur memliki usia panen berbeda, sehingga harus dilakukan pengaturan masa panen. Jenis bayam cabut, kangkung cabut, bisa dipanen saat usia 20 hari. Kacang panjang bisa dipanen usia 45 hari, mentimun bisa panen di usia 35 hari.

Salah satu ciri khas sayuran organik adalah, masih kerap diserang ulat daun dan belalang. Meski demikian, dengan ambang batas yang masih wajar, ulat daun justru menjadi penanda bahwa tanaman sayur miliknya, tidak terkontaminasi zat kimia. “Konsumen yang paham justru akan melihat sayuran yang sebagian daunnya berlubang dimakan belalang merupakan tanaman bebas bahan kimia,” tegas Siti.

Pola penanaman sayur yang berkelanjutan dengan sistem terjadwal, membuat Siti bisa panen minimal tiga hari sekali. Panen dilakukan bertepatan dengan hari pasaran, agar hasilnya dapat dijual oleh pedagang di pasar, serta pedagang sayur keliling dengan motor.

Suhaini,salah satu petani cabai merah masih menggunakan zat kimia untuk budidaya pada lahan pertanian miliknya [Foto: Henk Widi]
Penanaman sayur organik sebagai komoditas pertanian, menjadi sumber penghasilan di sela-sela menanam padi. Selain sebagai kebutuhan, sayur organik sudah menjadi tren masyarakat masa kini, yang memahami pentingnya kesehatan dengan meminimalisir penggunaan zat kimia.

Aminah, salah satu konsumen sayuran organik menyebut, kerap membeli sayur dari budidaya yang dilakukan Siti. Sayuran jenis selada, kemangi, sawi kerap dibeli sebagai lalapan serta campuran memasak mie. Kesegaran dari proses penanaman sayuran organik, menjadi cara menghindarkan keluarganya dari residu bahan kimia insektisida, herbisida yang kerap dipergunakan petani. Membeli langsung dari petani, dapat mengetahui persis proses penanaman dengan sistem organik tersebut.

Petani di wilayah Sukabaru, Suhaini menyebut, belum menerapkan sistem penanaman cabai merah dengan sistem organik. Pasalnya Dia menanam 7.000 batang tanaman cabai merah. Bahan kimia diperlukan mulai dari pupuk, hingga insektisida, serta zat perangsang pertumbuhan buah. Penanaman skala besar masih belum bisa meninggalkan penggunaan bahan kimia. Meski demikian Dia menyebut, pada penanaman jenis sayuran skala kecil yang dilakukan di lahan lain miliknya, sudah menggunakan sistem organik.

Baca Juga
Lihat juga...