Keindahan Kekayaan Alam Papua Barat Tampil di TMII

Editor: Mahadeva WS

254

JAKARTA – Provinsi Papua Barat, merupakan provinsi yang terletak di bagian Barat Pulau Papua. Sebelumnya, provinsi ini berjuluk Irian Jaya Barat, berdasarkan Undang-undang (UU) No.45/1999.

Namun pada 18 April 2007, berdasarkan proses pemekaran, Irian Jaya Barat resmi berganti nama menjadi Provinsi Papua Barat, dengan Ibu Kota Manokwari. Sedangkan Papua Timur Ibu Kota-nya Jayapura.

Pemandu Anjungan Papua Barat TMII, Yafet Sarau. Foto : Sri Sugiarti

Pemandu Anjungan Papua Barat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Yafet Sarau menjelaskan, nama Papua berasal dari bahasa daerah Tidore Papau, yang artinya tidak bersatu. Tanah Papua tidak diperintah oleh seorang Raja. Sedangkan dalam bahasa melayu, Papua berarti rambut keriting, sesuai dengan penduduk asli pulau tersebut yang berambut keriting baik pria maupun wanitanya.

“Mengacu pada sejarah zaman dahulu, melalui bahasa daerah Tidore, bisa diartikan Papua Barat adalah tanah tanpa raja di wilayah barat,” ujar Yafet kepada Cendana News, Selasa (25/9/2018).

Papua Barat memiliki banyak keunikan, baik adat istiadat, seni budaya dan wisata kekayaan alam. Upaya pelestarian kekayaan budayanya dilakukan oleh Pemprov Papua Barat dengan menghadirkan Anjungan Papua Barat di TMII. Anjungan Papua Barat, memiliki bentuk bangunan Rumah Kaki Seribu. Diresmikan Gubernur Papua Barat, Abraham O Atururi, pada 23 April 2012. “Anjungan ini sebagai wahana pelestarian budaya Papua Barat, sekaligus pusat informasi pariwisata,” tandasnya.

Rumah Kaki Seribu merupakan replika rumah adat Papua Barat, yang bercorak budaya Manokwari. Rumah tersebut dikemas dalam bentuk modern yang merupakan pengembangan dari rumah adat tradisional asli Arfak. Rumah adat ini pada dasarnya merupakan rumah panggung, yang ditopang banyak tiang atau kaki.

Di tempat aslinya, di Suku Arfak, rumah adat ini terbuat dari kayu dan daun sagu atau daun jerami sebagai atap. Bentuk asli rumah adat ini, tertutup tanpa jendela, dan hanya memiliki dua pintu, yaitu depan dan belakang. Semakin jauh ke pedalaman, tiang-tiang rumah adat sebagai penopangnya makin tinggi, bahkan ada yang mencapai empat meter. Tiang tinggi yang berjumlah banyak tersebut digunakan untuk melindungi diri dari musuh yang berniat jahat.

Nama asli rumah tradisional Suku Arfak disebut Mod Aki Aksa atau Lgkojei. Namun orang awam menyebutnya Rumah Kaki Seribu. Seiring perkembangan zaman, saat ini keberadaan rumah adat tersebut jumlahya semakin berkurang. Termasuk di kampung-kampung yang tersebar di pinggiran distrik pedalaman di bagian tengah pegunungan Arfak.

Rumah Kaki Seribu di Anjungan Papua Barat TMII, berlantai dua, terletak di kawasan anjungan terpadu provinsi-provinsi baru. Lantai satu rumah adat ini digunakan sebagai tempat memamerkan ragam replika maupun barang asli yang mewakili eksotisme kebudayaan, seperti pakaian adat dari berbagai kabupaten yang terdapat di Papua Barat. Dilantai satu rumah adat ini tersaji ragam benda budaya menarik khas Papua Barat, seperti bulu Cendrawasih, hiasan tradisional yang digunakan para penari untuk acara meminang wanita, pembayaran mas kawin dan penyambutan tamu.

Sisir bambu atau huwer, yaitu sisir yang terbuat dari pohon bambu untuk digunakan sebagai penancap rambut saat menari. Ada tifa kecil atau tumor, adalah alat musik tradisional yang dibuat dari bahan kayu yang mudah di pahat. Proses pembuatannya dipotong sesuai ukuran tifa, kemudian direndam beberapa hari lalu dijemur selama beberapa bulan. “Tujuan perendaman adalah untuk menghilangkan serat dan bau kayu secara alamiah untuk mempermudah proses pemahatan,” jelas Yafet.

Tersaji juga pemantik api milik suku Moi yang terbuat dari bahan bambu tui, pecahan porselin, dan serbuk nibong atau pinang hitam. Mata ini juga terpukau keindahan kain Timor, yakni kain asli Papua Barat yang digunakan sebagai mas kawin dan denda adat. Selain itu, keunikan miniatur rumah adat suku Moi Papua Barat yang disebut Kambik. Juga miniatur rumah pertemuan atau patete, yang digunakan sebagai tempat pertemuan para tetua adat.  “Rumah pertemuan ini aslinya terbuat dari kayu untuk lantai rumah, gaba-gaba untuk dinding, dan daun sagu sebagai atapnya,” ujarnya.

Sedangkan lantai dua, digunakan sebagai ruang kantor pengelola anjungan Papua Barat. Tersaji juga rumah adat bernama Wirituare, sebagai tempat tinggal bagi tetua adat. Alat perang khas Papua Barat, seperti parang atau homdi menghiasi ruangan ini. Parang ini pada dahulu kala digunakan untuk berperang, namun sekarang lebih banyak dipergunakan sebagai properti untuk Tari Cakalele oleh masyarakat setempat.

Ragam ketrampilan khas masyarakat Papua Barat ditampilkan di Anjungan Papua Barat TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Adapun tombak, terbuat dari bahan besi yang dipanaskan untuk dipergunakan sebagai senjata dalam berperang. Keunikan lainnya, adalah Noken atau di sebut juga Kabari. Ini merupakan tas tradisional dari Papua Barat dan Papua Timur sekaligus. Namun menurut Yafet, di Papua Barat lebih banyak menampilkan ragam varian noken yang terdiri dari dua macam, yakni noken kecil dan besar.

Noken kecil dan sedang biasa disebut Kabari Propror terbuat dari kulit kayu dan daun pandan, dengan bentuk lilitan kecil-kecil. Kemudian dianyam setelah sebelumnya direndam terlebih dahulu. Proses pembuatan noken dari kulit kayu dengan cara dikupas, kemudian direndam beberapa hari. Tujuannya, agar serat alamiahnya terlepas sehingga kulit kayu menjadi lembek untuk memudahkan dalam pelilitan serta penganyaman.

Noken kecil digunakan sebagai penghias pengantin, dan tempat menaruh mas kawin atau uang.  “Noken sudah diakui oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan kebudayaan dunia asal Indonesia,” jelasnya.

Provinsi Papua Barat terdiri dari satu kota, 12 kabupaten, 218 distrik, 534 kelurahan, dan 1.305 desa. Masing-masing kabupaten dan kota memiliki potensi pariwisata dan kekayaan alam. Kabupaten Manokwari sebagai Ibu Kota Provinsi, menyimpan berbagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi aset investasi daerah. Seperti Pantai Abasi untuk berselancar, Gunung Botak di Manokwari selatan, Danau Anggi pegunungan Arfak, Pantai Pasir Putih, Ekowisata Telaga Wasti.

Kearifan dunia pertanian distrik Minyambau, dan potensi bisnis juga  mengalami perkembangan yang signifikan dengan adanya pelabuhan, bandar udara Rendani dan pembangunan pabrik Semen di Kabupaten Manokwari. Manokwari juga disebut Kota Injil. Karena di kota inilah awalnya Agama Kristiani masuk di Indonesia, yang ditandai dengan Tugu Salib dan Tugu Yesus Kristus di Mansinam. Selain itu, Manokwari juga dikenal dengan pasar tradisional Sanggeng. Yaitu, pasar ikan, sayuran, dan buah-buahan terbesar di Manokwari.

Berlanjut ke kabupaten pegunungan Arfak, merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Manokwari. Lokasinya berada di pegunungan. Selain memiliki kandungan bahan galian Granit, wisata flora dan fauna juga menjadi unggulan potensi wisata daerah tersebut.

Wisata alam burung Cendrawasih atau Parotia Aefak merupakan salah satu potensi yang ada. Di area wisata tersebut, para wisatawan dapat langsung melihat kehidupan liar berbagai jenis burung Cendrawasih. Kemudian ada keunikan Danau Anggi, yang dapat dinikmati keindahan alamnya.

Kabupaten Manokwari Selatan dengan Ibukota Kabupaten Ransiki memiliki potensi SDA yang cukup besar, di bidang galian tambang batu bara dan marmer. Selain itu, Kabupaten manokwari selatan memiliki panorama alam yang sangat luar biasa untuk dikunjungi wisatawan, seperti kawasan pegunungan Botak.

Pemandangan kawasan wisata ini sangat indah dengan keanekaragaman hayati yang cukup unik, seperti berbagai jenis tanaman Kantong Semar atau nephentes. Sehingga tak heran kawasan wisata dijadikan sebagai Pusat Studi Penelitian di bidang Botani. Kemudian Kabupaten Sorong, dengan obyek wisata alam, baik hutan dan pegunungan maupun di pantai. Pantainya, sering dijadikan sebagai tempat perkembang biakan Penyu Belimbing.  Salah satu pantai yang terkenal di kabupaten Sorong adalah Pantai Jamusba.

Adapun kota Sorong dengan obyek wisata andalannya Pulau Um, pulau yang dipenuhi ribuan kelelawar, yang bergelantungan di pohon. Fenomena alam terindah Pulau Um adalah ketika sore hari, yakni saat kelelawar keluar mencari makan, para burung camar masuk dan memakai pohon yang sama untuk beristirahat.

Kabupaten Sorong Selatan, adalah daerah dengan potensi tanaman sagu terbesar di Papua. Berdiri diatas lahan seluas 579.261 hektare, potensi sagunya dapat dikembangkan sebagai bio-etanol.  Adapun potensi wisata alam yang ada adalah, Teminabuan, sebuah distrik di wilayah Sorong Selatan bernama Danau Kohoin, Sungai Panta Kapal, dan  pemandian Sembra Siribauw.

Potensi alam Kabupaten Teluk Bintuni adalah di tambang, seperti minyak bumi, gas alam, emas, nikel, batu bara, dan tembaga. Sedangkan untuk sektor perikanan yang menjadi komoditi unggulan adalah, udang dan kepiting bakau atau kepiting khas Papua.

Kabupaten Tambrauw, dengan Taman Pesisir sebagai ekowisata yang dicanangkan langsung oleh Gubernur Papua Barat Abraham Atururi, untuk melindungi jalur penelusuran Penyu Belimbing di sepanjang pesisir Pantai Jamursba Medi dan Warmon. Taman Pesisir ini menjadi pilihan wisata para turis domestik maupun mancanegara.

Berlanjut ke Kabupaten Kaimana, yang terkenal dengan suasana Senja di Kaimana. Area wisata ini memiliki potensi wisata unggulan berupa, Pantai Pasir Putih atau pesisir Kaimana dan pulau-pulau. Selain itu, pantai penelusuran Penyu Belimbing atau pulau venue, ekosistim mangrove dan ekosistim Padang Lamun, yakni tempat ikan duyung mencari makan.

Di Papua Barat tampil juga pemandangan bawah laut yaitu kawasan Teluk Triton. Lokasinya 40 kilometer arah tenggara dari Kota Kaimana. Snorkeling dan diving adalah kegiatan yang menarik untuk dilakukan di Kawasan Teluk Triton.

Kabupaten Maybrat, juga layak menjadi pilihan berwisata.  Kawasan ini  secara geologi di dominasi batuan karang, sehingga sebagian besar wilayahnya mengandung fosfat. Potensi ini kemudian dikembangkan oleh FAPERTA UNIPA Manokwari.  Obyek wisata yang menarik di Kabupaten Maybrat adalah Danau Ayamaru dan Danau Uter Biru, yang berada di distrik Aitinyo wilayah Kabupaten Maybrat.

Kabupaten Fakfak, memiliki keindahan struktur geologi Fakfak, yang terdiri dari batuan karang pejal, membentuk pantai-pantai berpasir kuarsa putih nan elok.  Selain hasil tambang non logam seperti batu gamping, Kabupaten Fakfak juga memiliki hasil perkebunan pala.

Ragam reflika rumah adat masyarakat Papua Barat di tampilkan di Anjungan Papua Barat TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Sedangkan potensi pariwisata. Fakfak yang menarik untuk dikunjungi seperti,  Air Terjun Kiti-Kiti di Karas, wisata alam ikan dugong, Pelabuhan laut, dan Tapak tangan berdarah di dinding-dinding tebing di daerah Kokas. “Masjid Tua di Kokas-Fakfak juga dapat menjadi tujuan wisata menarik,” tandasnya.

Kabupaten Teluk Wondama, memiliki sektor wisata bahari hasil pengembangan pariwisata Teluk Wondama yang terdapat di Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Kawasan tersebut terkenal sebagai tempat persinggahan ikan hiu paus atau whale shark, ikan dugong, dan lumba-lumba. Keindahan ombak teluk ini yang tinggi menarik wisatawan untuk berselancar.

Keindahan Kabupaten Raja Ampat, adalah destinasi wisata terbaik dan paling diminati di Indonesia. Kabupaten Raja Ampat terdiri dari lebih 1.846 pulau kecil, pulau karang, dan laut dangkal yang mengelilingi empat pulau utama Misool, Salawati, Batanta, dan Waigeo.

Teluk Mayalibut juga menebar sensasi tersendiri dengan panorama tebing nan indah. Gugusan pulau-pulau Karts yang indah dan kekayaan biota laut berupa ikan hias dan terumbu karang menjadikan alam bawah laut Raja Ampat menjadi surga bawah laut bagi penggemar snorkeling dan diving.

Travelling di puncak Wayag, yakni bagian dari kepulauan Wayag, Raja Ampat dapat melihat Burung Cenderawasih Merah yang merupakan satwa khas Papua. Petualangan di Raja Ampat dapat meliputi hiking di pegunungan Painemo, mengunjungi desa adat Arborek, memberi makan ikan di Sawinggray, snorkeling di Kri atau Yenbuba. Juga  menikmati biota bawah laut teluk Kabui dan snorkeling dengan ikan hiu serta ikan-ikan lainnya, serta berfoto di Pasir Timbul.

Untuk jenis unggas, salah satu yang menjadi khas Papua Barat adalah Burung Mambruk atau Dara Mahkota. Satwa tersebut, termasuk jenis burung dara, namun memiliki jambul atau mahkota dengan bentuk dan warna jambul yang menyerupai bulu-bulu ekor Cenderawasih yang berwarna-warni. Populasi burung Mambruk dapat ditemui di Pulau Yapen dan Pulau Biak.

Sedangkan senjata tradisional dari Papua Barat adalah pisau belati, terbuat dari tulang kaki burung Kasuari. Senjata lainnya adalah busur dan panah. Adapun khazanah tarian daerah Papua Barat, diantaranya tari perang, tari tifa, tari api, tari selamat datang, dan tari Cendrawasih. Sedangkan lagu khas daerah yang mendunia adalah Sajojo, Apuse, dan Yamko Rambe Yamko.

Papua Barat memiliki pakaian adat serui, yang menarik karena para lelakinya memakai hiasan kepala dari bulu burung, ditambah seutas kalung dari tulang hewan, gigi dan kerang. Kaum perempuan menggenakan baju rumbai-rumbai dari dada sampai ke lutut dipadukan kalung dari tulang-tulang hewan dan kerang.

Alat musik tradisonal masyarakat Papua Barat adalah tifa, atowo dan fu. Papua Barat juga memiliki 263 bahasa asli, yang merupakan pecahan antara lima bahasa kelompok Austronesia dengan 210 bahasa kelompok non Austronesia. “Papua ada dua provinsi yaitu Papua Barat dengan Ibukota Manokwari dan Papua Timur dengan Jayapura. Tapi ketika hadir di TMII, kita bicara Papua secara nasional. Kita tidak bilang ini Papua Barat, kita ada di TMII yang kita promosikan Papua,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...