Kekayaan Khazanah Budaya Bengkulu Ditampilkan di TMII

Editor: Satmoko Budi Santoso

151

JAKARTA – Anjungan Bengkulu merupakan salah satu anjungan daerah yang tampil di Taman Mini Indonesia Indah, dalam pelestarian ragam seni budaya daerah.

Pemandu Anjungan Bengkulu TMII, Nova Astrini menjelaskan, provinsi Bengkulu terletak di barat daya Sumatera, membujur sejajar dengan pegunungan Bukit Barisan. Bengkulu, yang menjadi provinsi sekaligus ibu kota memiliki luas wilayah sekitar 19.788 kilo meter persegi.

Bahasa asli yang digunakan adalah bahasa melayu Bengkulu. Adapun penduduk pada umumnya pemeluk agama Islam, dengan mata pencaharian sebagai petani.

Bengkulu merupakan provinsi ke 26. Pemerintahan Gubernur Ali Amin, tepatnya pada 18 November 1968, Bengkulu semakin memantapkan jati diri menjadi provinsi berkembang yang diperhitungkan di negara Indonesia.

Pemandu Anjungan Bengkulu TMII, Nova Astrini. Foto : Sri Sugiarti.

Bengkulu, jelas dia, merupakan daerah yang subur dan kaya, hasil alamnya berlimpah di antaranya coklat, kopi, kelapa sawit, rotan, lada, meranti dan bahkan emas.

Tempat-tempat wisata Bengkulu pun menarik untuk dipandang. Seperti, Benteng Marlborough, peninggalan Inggris pada 3 abad lalu. “Hadir pula bekas rumah peninggalan Bung Karno, dengan masjid Jami yang dirancang oleh Bung Karno,” ujar Nova kepada Cendana News ditemui, Jumat (14/9/2018).

Tidak hanya itu, tambah dia, monumen Parr, pantai panjang dan pantai dendam bisa menjadi pilihan keindahan wisata daerah Bengkulu.

Menurutnya, dunia internasional juga kagum atas tumbuhnya bunga purbakala “Rafflesia Arnoldi.” Jenis bunga bangkai yang terbesar di dunia ini dengan diameter mencapai satu setengah meter ditemukan pada tahun 1818 oleh Stamford Raffles, gubernur jenderal Belanda yang merupakan seorang botanikus.

Bunga Kibut atau amorphupalus titanuun setinggi dua meter juga ditemukan di daerah Bengkulu utara dan selatan.

Pelaminan penganten khas Bengkulu di pamerkan di rumah adat kaum bangsawan di Anjungan Bengkulu TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Menurut Nova, selain alamnya yang indah, khazanah budaya tradisional Bengkulu juga menarik untuk diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia. “Provinsi Bengkulu, membangun anjungan di TMII untuk mempromosikan khazanah seni budaya daerah kami agar lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia dan dunia,” ujarnya.

Anjungan Bengkulu diresmikan di TMII pada 20 April 1975 oleh Presiden Soeharto. Ada pun ide cemerlang pelestarian dan pengembangan seni budaya dalam miniatur Indonesia bernama TMII, adalah Ibu Negara Tien Soeharto atau bernama lengkap Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah.

Menurut Nova, Ibu Titiek Soeharto adalah sosok Ibu Negara yang sangat mencintai Indonesia dengan selalu menjunjung nilai-nilai budaya bangsa hingga dituangkan dalam pemikiran cemerlang ke depan dengan mendirikan TMII ini. Yaitu sebuah kawasan rekreasi edukasi budaya daerah.

Suasana rumah adat kaum Bangsawan di area Anjungan Bengkulu TMII, Jakarta, Jumat (14/9/2018). Foto : Sri Sugiarti.

Menampilkan miniatur Indonesia dalam lahan seluas 150 hektar, sesuatu yang tidak terpikir atau tidak mungkin terwujudkan oleh siapa pun. Namun Ibu Tien Soeharto dengan jiwa kebangsaan, pemikirannya sangat luar biasa tidak semua orang punya ide cemerlang untuk melestarikan budaya.

“Ibu Tien Soeharto, mewujudkan pemikiran cemerlang menjadi kenyataan dalam miniatur Indonesia, hingga anjungan Bengkulu hadir mempromosikan budaya bangsa,” tandasnya.

Anjungan Bengkulu menampilkan tiga buah rumah adat yang berdiri kokoh berbahan kayu ulin yang umurnya ratusan tahun.

Pertama, sebuah rumah model bangsawan atau depati dari daerah Bengkulu Selatan. “Rumah adat kaum bangsawan ini ukurannya lebih besar. Di Bengkulu, rumah ini masih ada, dan hadirnya di TMII untuk dilestarikan agar masyarakat khususnya generasi muda tahu sejarah budaya Bengkulu,” jelasnya.

Di anjungan ini, rumah adat kaum bangsawan dipakai untuk tempat pameran hasil alam dengan ukiran-ukiran khas Bengkulu yang bermotif tumbuhan. Dipamerkan juga pelaminan pengantin, busana daerah dan busana pengantin khas Bengkulu di antaranya, kabupaten Seluma, Lebong, Bengkulu Tengah, Kepahiang, Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan, suku Rejang dan lainnya.

Alat musik doll khas Bengkulu tersaji di Rumah Adat Kaum Bangsawan di Anjungan Bengkulu TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Replika busana adat dan busana pengantin yang ditampilkan di anjungan ini, jelas Nova, merupakan gambaran zaman Bengkulu terdiri dari banyak sekali kerajaan. Semuanya berada di bawah kesultanan Banten.

Di ruangan ini juga disajikan alat musik tradisional, upacara keagamaan, cenderamata, dan berbagai obyek wisata juga ditampilkan di ruangan ini.

Dua rumah adat berikutnya adalah rumah rakyat penduduk Bengkulu. Yang terwakili dengan tampilan Rumah Adat Rakyat Rejang Lebong, berbentuk rumah panggung yang kokoh berbahan kayu ulin.

Rumah kayu pelituran dengan beberapa bagian, seperti serambi, ruang tamu, ruang tidur untuk orangtua. Juga ruang tidur untuk anak bujang dan gadis. Karena orang Bengkulu umumnya beragama Islam, dalam kamar-kamar itu dilengkapi dengan alat salat.

Di rumah ini juga terdapat ruang keluarga, ruang makan dan dapur. Sedangkan kamar mandi, kata Nova, terpisah berada di kolong rumah ini sehingga kalau penghuninya ingin mandi harus turun ke bawah.

Rumah rakyat ini masih banyak di kota Bengkulu, dan hadirnya di TMII untuk dilestarikan. “Rumah Rakyat Rejang Lebong ini tempat Presiden Soeharto tinggal di masa pembuangan di Bengkulu,” ujarnya.

Ketiga rumah tersebut dibangun di atas tiang atau panggung dengan ketinggian satu setengah meter hingga dua meter di atas tanah. Arsitek bangunan berasal dari penduduk asli yang diilhami oleh pengaruh rumat adat Sumatera Selatan, Minangkabau dan Melayu.

Selain Melayu dan Minangkabau, suku bangsa yang membaur dengan penduduk asli Bengkulu terbilang cukup banyak. Yakni, mulai dari suku Jawa, Serawai, Lembak, dan Pekal, serta ditambah pembauran etnis dengan suku bangsa lain. Ini membuktikan semakin membawa pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan adat istiadat masyarakat Bengkulu.

Atas penggabungan budaya tersebut, lahirlah kebudayaan lokal bernama Tabot yang diadakan setiap tahun dari tanggal 1-10 Muharram sesuai kalender Islam.

Tabot merupakan budaya asli Bengkulu dalam memperingati kepahlawanan Hasan dan Husen yang mati dalam peperangan melawan orang-orang yazid.

Seni budaya Tabot ini merupakan perpaduan tradisi masyarakat lokal dengan Islam syiah secara kultural yang dikembangkan oleh Syekh Burhanudin sebagai Imam Senggolo, pada abad 15, setelah sebelumnya menikahi wanita asli bengkulu terlebih dahulu.

“Dalam perayaan Tabot turut dimainkan alat musik tradisional khas bengkulu bernama Dol lyang sekilas berbentuk seperti beduk,” ujar Nova.

Dia menjelaskan, Doll berbentuk setengah bulat lonjong dihiasi ornamen berwarna-warni, terbuat dari kayu atau bonggol kelapa yang ringan namun kuat atau kadang juga terbuat dari kayu pohon nangka.

Adapun cara membuatnya, sebut dia, bonggol pohon kelapa dilubangi dan bagian atasnya ditutup kulit sapi atau kulit kambing. Diameter dol terbesar bisa mencapai 70-125 centi meter, dengan tinggi 80 centi meter. Alat pemukul yang digunakan berdiameter 5 centi meter dengan panjang 30 centi meter.

“Dalam pelestarian budaya, kami setiap Sabtu sore ada latihan musik doll di rumah adat kaum bangsawan di anjungan ini,” ujarnya.

Latihan musik doll ini garapan Sanggar Olah Seni Rafflesia diklat seni anjungan Bengkulu. Adapun latihan tari diadakan setiap Senin sore.

Ragam tari diajarkan, seperti tari Kejei yang merupakan kesenian asli suku Rejang di Bengkulu. Tarian ini jelas dia, merupakan tarian perkenalan antara para bujang dengan gadis asli suku rejang. Seni tari ini dilakukan saat malam hari, berhiaskan lampion, diiringi alat-alat musik yang terbuat dari bambu seperti alat pukul, seruling, dan gong.

“Tari Kejei biasa diadakan pada upacara pernikahan dan adat marga. Untuk menjaga kesakralannya, maka kerap diiringi dengan pemotongan hewan kerbau atau sapi sebagai syarat,” ujarnya

Namun, kata dia, saat orang-orang Majapahit datang ke Bengkulu, alat-alat musik berbahan dasar bambu banyak berubah menjadi bahan

Disamping kekayaan alam berlimpah, Bengkulu yang berada di pesisir pulau Sumatera menjelma menjadi sebuah daerah yang memiliki taman laut indah yang terletak di pulau Enggano. Ragam hewan juga menjadi khazanah yang harus dilestarikan seperti gajah Sumatera, harimau Sumatera, badak, dan beruang madu.

Khusus untuk gajah Sumatera, bengkulu telah berhasil melakukan penangkaran terhadap hewan tersebut. “Gajah Sumatera menjadi salah satu atraksi wisata bernama Pusat Latihan Gajah Bengkulu. Ini juga khazanah budaya yang membanggakan dan patut dilestarikan,” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan, Bengkulu memiliki peninggalan sejarah kolonialisme Inggris berupa benteng Marlborough, monumen Thomas Parr, tugu Hamilton, dan pemakaman Eropa.

Kota Bengkulu memiliki arti penting dalam rangkaian sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Yaitu, jelas dia, sebagai tempat pembuangan Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro, Sentot Alibasya, dan Soekarno yang kemudian menjadi Presiden RI pertama.

Bahkan, istri Soekarno sendiri yaitu Fatmawati merupakan wanita kelahiran Kota Bengkulu yang tercatat dalam sejarah negeri ini sebagai penjahit Bendera Merah Putih pertama.

Sehingga kata Nova, Bengkulu merupakan provinsi yang berlimpah kelayaan alam, ragam budaya, suku adat istiadat, dan agama. Karena dalam perkembangan agama di provinsi Bengkulu, hingga saat ini sangat beragam agama mulai Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholik, Hindu, dan Buddha. Dengan demikian semakin bertambah pula khasanah keragaman budaya di Bengkulu atau yang dikenal dengan julukan “Bumi Rafflesia”.

“Anjungan Bengkulu hadir di TMII, untuk memberikan sumbangsih pelestarian dan pengembangan budaya bangsa Indonesia,” ujarnya.

Dalam pelestarian budaya Bengkulu, Nova merasa bangga karena anjungan ini selalu ramai pengunjung setiap harinya, utamanya hari Sabtu, Minggu dan hari besar tanggal merah. Tercatat 500 pengunjung setiap bulan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Mereka sangat antusias bertanya sejarah budaya Bengkulu, mulai tarian, alat musik dan lainnya. TMII telah memberikan kami wadah mempromosikan budaya Bengkulu agar lebih dikenal masyarakat luas,” pungkas wanita kelahiran 42 tahun ini.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.