Kelangkaan Kayu Jadi Kendala Usaha Pembuatan Perahu Tradisional

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

141

LAMPUNG — Sejumlah pemilik usaha pembuatan perahu tradisional di Lampung Selatan terpaksa menunda pengerjaan pesanan akibat keterlambatan pasokan bahan baku. Perahu kasko yang menjadi pilihan utama nelayan dibuat dengan menggunakan kayu yang dibentuk menyerupai hurup U atau V dari bagian haluan.

“Saya sedang berhenti melakukan proses pembuatan perahu menunggu kiriman kayu dari wilayah Kecamatan Katibung untuk jenis kayu bayur dan kayu pule,” beber Salah satu pembuat perahu di Dusun Gusung Berak Desa Sumur Kecamatan Ketapang Pulau Rimau Balak, Suhendra (38) saat ditemui Cendana News, Selasa (4/9/2018).

Disebutkan, proses pembuatan perahu dibuat dalam waktu tiga hingga empat bulan menyesuaikan ukuran perahu pesanan pelanggan. Saat ini pengerjaan terpaksa berhenti sembari menunggu kayu pelengkap didatangkan.

Diterangkan, butuh delapan kubik kayu untuk pembuatan lunas (yang merupakan tulang punggung kekuatan memanjang perahu), linggi buritan dan linggi haluan, gading gading, serta balok geladak dan papan geladak.

Salah satu jenis perahu kasko yang dipergunakan untuk transportasi antara Pulau Sumatera dan Pulau Rimau Balak [Foto: Henk Widi]
Kayu yang bagus untuk konstruksi perahu merupakan jenis nangkan yang menyerupai kayu sukun, namun akibat semakin langka diganti kayu bayur.

Pembuatan perahu disebut Suhendra membutuhkan biaya sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta sesuai ukuran. Biaya tersebut belum termasuk pembelian mesin serta kelengkapan alat untuk menangkap ikan, berupa lampu genset serta jaring.

“Total biaya hingga bisa dioperasikan bisa mencapai Rp50 juta,” tambahnya.

Ketut (40), yang ikut membantu Suhendra membuat perahu mengungkapkan, masih harus menunggu sejumlah kayu kering. Proses pengeringan dilakukan agar mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan.

“Proses yang lama juga disebabkan kayu harus didatangkan dari kecamatan lain dan dibawa ke Pulau Rimau Balak,” tambahnya.

Pembuat perahu lainnya di Desa Ketapang bernama Supandi (42) mengamini semakin sulitnya mencari bahan kayu untuk pembuatan perahu.

Ia juga menyebut jenis tertentu bahkan semakin mahal, di antaranya kayu pule per kubik dibeli Rp2,5 juta, kayu jati Rp3 juta, kayu nangkan Rp4 juta dan kayu bayur Rp2 juta. Meski demikian perahu menjadi kebutuhan pokok untuk transportasi dan mencari ikan.

“Bagi warga pulau pulau dan pesisir Lampung Selatan,memiliki perahu sangat vital seperti orang punya motor dan mobil di darat,”beber Supandi.

Pentingnya keberadaan pembuat dan bengkel perahu, membuka peluang usaha bagi Supandi dan sejumlah ahli lainnya. Meski nelayan di wilayah Ketapang berjumlah ratusan orang, namun hanya beberapa yang bisa membuat dari awal.

“Sebagian nelayan memilih membeli bahan baku dan menyerahkan proses pembuatan kepada pengrajin perahu,” tambahnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.