Kelompok Utan Atan Berjuang Selamatkan Ekosistem Laut di Solor

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

313

LARANTUKA — Sebelum 2016, aktifitas pengeboman ikan di perairan Solor termasuk di Solor Barat marak. Bahkan dalam sehari, terlihat beberapa kapal milik nelayan dari kabupaten Flores Timur (Flotim) dan kabupaten lainnya sering menggunakan bom rakitan.

Namun aktifitas pengeboman berkurang drastis sejak 2016, bahkan perlahan hilang di 2017. Dimana puncaknya di 2018 sudah tidak ditemukan aktifitas tersebut.

“Selain gencarnya operasi dan patroli yang dilakukan Polairud Polda NTT dan Dinas Kelautan dan Perikanan Flotim, kesadaran nelayan untuk menyelamatkan laut juga sudah tumbuh,” sebut Wilfridus Masan Dulin Niron,Rabu (5/9/2018).

Dikatakan Frid, sapaannya, di kecamatan Solor Barat sendiri, selain adanya Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas), nelayan kecil pun sudah sadar. Hal tersebut dirasakan sendiri oleh nelayan yang mulai kesulitan untuk mendapatkan ikan.

“Ikan yang biasanya ada di perairan ini seperti tongkol dan cakalang serta ikan karang seperti kerapu pun sulit didapat. Namun setelah pengeboman tidak ada, ikan-ikan tersebut pun kembali mudah ditemukan dan nelayan pun mulai sadar untuk menjaga ekosistem laut dan mengusir para pengebom ikan,” tuturnya.

Isodorus Opun Werang salah seroang anak muda yang berprofesi sebagai nelayan di kelurahan Ritaebang kecamatan Solor Barat menyebutkan, berangkat dari permasalahan sulitnya nelayan mendapatkan ikan membuat para nelayan tertarik membentuk kelompok.

“Kami diajak Frid untuk membentuk kelompok. Sejak sekitar setahun lalu, kami sering melakukan aktifitas menanam bakau, terumbu karang dan menjaga laut. Juni 2018 lalu, kami bentuk kelompok dan mendaftarkannya ke kelurahan,” ungkapnya.

Aktifitas kelompok Utan Atan di kelurahan Ritaebang kecamatan Solor Barat menanam bakau di pesisir pantai Riangsunge. Foto : Ebed de Rosary

Dengan berkelompok, kata Son sapaannya, para nelayan akan semakin kuat dan dapat bekerja sama untuk menjaga laut dari aktifitas yang merusak dan menyebabkan nelayan kesulitan menangkap ikan.

Nama kelompok Utan Atan yang didirikan, sebut Son, diambil dari kata Utan yang merupakan nama sejenis ikan yang hidup di pasir dan selalu melindungi ikan-ikan karang kecil. Sementara kata Atan berarti laut atau pesisir pantai.

“Utan Atan artinya memberikan perlindungan terhadap habitat yang ada di laut maupun di darat. Ini sudah menjadi komitmen bersama semua anggota kelompok yang berjumlah 12 orang,” tuturnya.

Fransiskus Hayon anggota kelompok yang juga nelayan kecil mengungkapkan, selama ini semua anggota kelompok selalu bersama-sama melakukan kegiatan menjaga laut dan juga pesisir pantai dengan menanam bakau dan terumbu karang.

“Kita memillih menyelamatkan laut sebab rata-rata anggota kelompok memiliki perahu dan berprofesi sebagai nelayan,” terangnya.

Awalnya, jelas Frans sapaannya, pihaknya menanam bakau di pantai Liangwutun kelurahan Ritaebang. Kegiatan tersebut rutin dilakukaan hampir setiap bulan.

“Selama ini kami belum mengharapkan bantuan dari pemerintah, sebab mau menunjukan kerja kami bagaimana melindungi laut. Perlindungan terhadap laut itu kan tugas kita semua, bukan hanya pemerintah saja,” sebutnya.

Baca Juga
Lihat juga...