Kemarau, Harga Udang Vaname Alami Kenaikan

Editor: Satmoko Budi Santoso

282

LAMPUNG – Pemilik usaha budidaya udang vaname di wilayah Kabupaten Lampung Selatan mulai mengalami kenaikan harga udang di wilayah tersebut.

Widodo, salah satu pemilik usaha tambak udang vaname di Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi menyebut, kenaikan harga udang dipengaruhi dua faktor. Faktor pertama kenaikan harga pakan udang dan faktor kedua ratusan hektare tambak di wilayah tersebut sementara tidak berproduksi.

Imbasnya, pasokan udang di sejumlah pengepul mengalami penurunan akibat hanya petambak intensif yang masih beroperasi.

Merangkaknya harga udang disebut Widodo sesuai dengan ukuran (size) udang di tingkat pembudidaya udang vaname. Jenis udang vaname ukuran 50 ekor/kilogram disebutnya dijual Rp75.000 per kilogram atau mengalami kenaikan Rp10.000 setelah sebelumnya hanya Rp65.000.

Widodo salah satu pemilik tambak udang vaname di desa Bandaragung Kecamatan Sragi Lampung Selatan [Foto: Henk Widi
Jenis udang vaname ukuran 100 ekor/kilogram dijual Rp55.000 per kilogram setelah sebelumnya dijual Rp45.000 per kilogram. Jenis udang vaname ukuran 80 ekor/ kilogram dijual Rp60.000 setelah sebelumnya dijual hanya Rp50.000 per kilogram.

Meski mengalami kenaikan, harga tersebut diakuinya cukup wajar karena pasokan udang diperoleh dari tambak intensif. Tambak intensif mempergunakan sistem mesin pompa dari kanal untuk air dari laut dan sumur bor.

Selain itu penggunaan kincir tenaga listrik dimanfaatkan untuk melakukan budidaya meski sebagian petambak tradisional lain justru tidak mengalami panen bahkan berhenti budidaya akibat tambak mengalami kekeringan.

“Kenaikan harga udang vaname mengikuti biaya operasional yang tinggi mulai dari listrik, pakan sehingga jika dihitung masih belum mendapatkan keuntungan maksimal,” terang Widodo salah satu petambak udang vaname di Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi, saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (9/9/2018).

Tambak udang sistem intensif dengan kincir air masih tetap beroperasi selama musim kemarau di Desa Bandaragung kecamatan Sragi Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Widodo menyebut, pemanenan udang vaname saat musim kemarau kerap dilakukan parsial atau bertahap. Pemanenan parsial diakuinya dimulai saat usia udang 75 hari dihitung dari proses penebaran benur.

Udang yang dipanen biasanya berukuran 50 perkilogram dan selanjutnya bisa dipanen secara global saat udang berusia sekitar 100 hari dengan size 80 hingga 100 ekor per kilogram. Proses pemanenan parsial sekaligus berfungsi untuk pemerataan pakan udang sehingga kepadatan kolam bisa diatur.

Ia menyebut, kebutuhan pakan udang per hari membutuhkan satu sak pakan sebanyak 25 kilogram dengan merk tertentu dijual mulai harga Rp310.000 hingga Rp350.000 pe rsak. Jenis pakan lain ukuran 20 kilogram bahkan dijual seharga Rp210.000 hingga Rp230.000 tergantung jenis dan merk.

Pakan tersebut sudah mengalami kenaikan rata-rata Rp5.000 hingga Rp10.000 per sak dibandingkan harga sebelumnya. Pengaturan pola pemberian pakan dan pola panen dilakukan untuk menghindari udang terserang penyakit dampak kemarau.

“Saat kemarau saya harus rajin melakukan pengaturan sirkulasi air di dalam kolam agar tidak mengalami stres atau penyakit,” beber Widodo.

Selain biaya operasional untuk pemberian pakan hingga Rp500.000 per hari untuk dua petak dengan masing-masing 150.000 benur udang. Ia menyebut, kebutuhan lain yang rutin adalah listrik.

Sebagai pemilik tambak intensif penggunaan listrik dikalkulasi dalam sebulan bisa mencapai Rp7,5 juta sehingga kenaikan harga udang masih belum cukup menutupi biaya operasional. Hasil panen dirata-rata size 80 sebanyak 2 ton jika dikalkulasikan sebesar Rp120 juta.

Hasil udang vaname petambak di kecamatan Sragi yang mengalami kenaikan dampak kemarau [Foto: Henk Widi]
Hasil tersebut jika dikurangi biaya pakan Rp45 juta, biaya listrik Rp21 juta serta biaya operasional lain untuk pekerja sekitar Rp20 juta, total semua biaya operasional bisa mencapai Rp86 juta.

Dari hasil panen yang dikalkulasikan mencapai Rp120 juta dan biaya operasional mencapai Rp86 juta ia masih bisa mendapat keuntungan kotor sekitar Rp34 juta dengan dikurangi biaya lain-lain ia masih bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp20 juta.

“Secara hitungan di atas kertas memang masih untung, namun kerap harus membayar hutang benur, pakan serta cicilan mesin pompa,” terang Widodo.

Kenaikan harga jual udang vaname disebut Widodo bisa berubah sewaktu-waktu menyesuaikan kondisi cuaca dan harga pakan. Meski demikian, ia menyebut petambak udang masih bisa bernapas lega terutama petambak intensif dibandingkan petambak tradisional yang sama sekali tidak beroperasi akibat kemarau.

Pasokan air menjadi kendala dan sirkulasi air selama musim kemarau berimbas pertumbuhan udang tidak maksimal.

Muksin, salah satu petambak tradisional di desa yang sama menyebut, sejumlah petambak udang memilih istirahat. Ia menyebut, kemarau panjang membuat pasokan air sulit diperoleh bagi sejumlah petambak tradisional.

Kondisi tersebut dianggap wajar mempengaruhi kenaikan harga udang yang dipasok dari pemilik tambak sistem intensif di wilayah tersebut. Hanya pemodal besar yang bertahan dengan kondisi cuaca dan harga pakan yang mengalami kenaikan dalam tiga bulan terakhir.

Dampak kenaikan harga udang dengan sedikitnya jumlah tambak yang beroperasi ikut mempengaruhi usaha penyediaan es balok. Es balok yang kerap digunakan untuk menjaga kualitas udang saat pengiriman mengalami penurunan permintaan.

Muksin menyebut, sejumlah penyedia jasa penjualan es balok sebagian bahkan sementara berhenti operasi karena hanya sedikit tambak yang panen. Sebagian memilih menunggu petambak beroperasi terutama saat pasokan air untuk tambak kembali lancar pasca-kemarau.

Baca Juga
Lihat juga...