Kemarau, Manfaatkan Lahan Terbatas, Sukses Tanam Berbagai Sayuran

Editor: Satmoko Budi Santoso

299

LAMPUNG – Kemarau yang berimbas berkurangnya pasokan air untuk lahan pertanian di wilayah Lampung Selatan tidak sepenuhnya memberi dampak kerugian bagi warga.

Suranti (38) warga Desa Kelaten Kecamatan Penengahan justru sukses melakukan penanaman berbagai jenis sayuran. Sejumlah sayuran yang sengaja ditanam olehnya berupa bayam petik, tomat, sawi, kangkung cabut, terong, kemangi, mentimun, kacang panjang serta berbagai jenis sayuran.

Suranti, memetik sayuran jenis bayam petik yang akan dijual kepada pedagang sayur keliling [Foto: Henk Widi]
Suranti menyebut, peluang adanya lahan tegalan di atas sawah milik warga lain yang tidak digarap membuatnya sengaja menanam sayuran. Sejumlah bibit sayuran di antaranya sawi, kangkung, kacang panjang dibeli dari toko benih tanaman pertanian.

Kondisi lahan yang berada di dekat mata air membuat kebutuhan penyiraman sayuran pada pagi dan sore hari bisa terpenuhi. Air dari mata air yang terus mengalir meski kemarau bahkan masih bisa dimanfaatkan sebagai sumber untuk mengaliri tanaman padi sawah.

Proses penanaman berbagai jenis sayuran disebut Suranti menggunakan pupuk organik dari kotoran ternak kambing. Sebuah lubang khusus untuk mencampurkan kotoran ternak kambing hingga menjadi kompos dibuat oleh Tejo (39) sang suami.

Setelah menjadi kompos beberapa guludan sengaja dibuat sebagai media penanaman sayuran yang rutin disirami meski sebagian lahan lain di wilayah tersebut kekeringan.

“Awalnya lahan di sekitar sawah berupa semak belukar ditumbuhi rumput lalu saya gunakan untuk menanam sayuran selama musim kemarau dengan adanya pasokan air yang memadai,” terang Suranti, salah satu penanam sayur di Penengahan saat ditemui Cendana News, Minggu (2/9/2018).

Sutarji memanfaatkan lahan tegalan sawah untuk menanam kedelai,kacang panjang dan tanaman bunga refugia pengendali hama padi [Foto: Henk Widi]
Bermodalkan benih yang dibeli dari toko pertanian dan sebagian dari meminta di petani lain, Suranti bahkan sudah bisa memetik hasilnya selama kemarau berlangsung tiga bulan terakhir. Tanaman kangkung cabut diakuinya bisa dipanen usia 25 hari, kacang panjang bisa dipanen usia 42 hari, mentimun dipanen usia 35 hari,kemangi bisa dipanen usia 30 hari.

Khusus bayam petik dipanen 30 hari sesudah tanam dan selanjutnya bisa dipetik hingga maksimal usia enam bulan.

Suranti menyebut saat kemarau, sayuran sebagai salah satu tanaman hortikultura justru sangat cocok dikembangkan. Pasalnya, pertumbuhan sayuran justru akan baik dengan curah hujan rendah yang saat hujan justru cenderung berpotensi membusuk dan rentan penyakit. Menerapkan sistem budidaya organik tanpa memakai pupuk kimia dan pestisida membuat sayuran yang ditanamnya banyak diminati warga.

“Penyuka sayuran organik kerap datang langsung membeli ke kebun untuk memilih jenis sayuran yang diinginkan bahkan bisa ikut memetik sendiri,” cetus Suranti.

Hasil budidaya sayuran tersebut bahkan sebagian sudah memiliki pembeli tetap dari pedagang sayuran keliling. Sayuran jenis kangkung, bayam, kemangi, kacang panjang kerap dipanen saat sore hari sehingga bisa dijual pagi hari.

Jenis kemangi yang kerap dipakai untuk lalapan pecel lele bahkan dipetik sore dan malam harinya sudah bisa dijual. Setiap sayuran yang dihasilkan diakuinya dipertahankan dalam kondisi segar agar konsumen bisa menikmati sayuran yang ditanam dengan menerapkan sistem organik tersebut.

Kepada pelanggan pedagang sayuran keliling, per tiga ikat sayuran bayam dijual seharga Rp5.000. Hal yang sama diakuinya juga untuk sayuran jenis sawi, sementara untuk kangkung dijual Rp5.000 sebanyak empat ikat.

Pada hari pasaran di pasar tradisional Suranti bahkan bisa memasok ke pedagang sayur berbagai jenis sayuran hingga ratusan ikat. Sepekan dari usaha budidaya sayuran, Suranti mengaku bisa mendapatkan hasil sekitar Rp350 ribu atau hampir Rp1 juta per bulan.

Hasil tersebut diakuinya merupakan sampingan dari kesibukan sehari-hari yang masih tetap berjualan makanan dan minuman ringan di kantin sebuah sekolah. Musim kemarau yang membuatnya masih bisa menanam sayuran membuat dirinya bisa menyisihkan uang untuk kebutuhan sekolah anaknya yang duduk di bangku SMA dan SD tersebut.

Musim kemarau selama hampir tiga bulan diakuinya dimaksimalkan untuk menanam sayuran sebab saat hujan ia justru akan sulit menanam sayuran.

Selain Suranti, musim kemarau justru dimaanfaatkan untuk melakukan sistem tumpangsari pada lahan sawah. Sutarji (60) warga Desa Ruang Tengah memanfaatkan musim kemarau untuk menanam sayuran okra, kacang panjang dan kedelai.

Penanaman di sepanjang galengan diakui Sutarji justru sangat cocok saat kemarau karena rumput bisa dikendalikan pada lahan yang kosong. Lahan yang kosong disebut Sutarji bisa menghasilkan sayuran untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

“Dibanding hanya dibiarkan menganggur sejumlah titik saya tanami dengan sayuran, sebagian ditanami bunga refugia,” terang Suraji.

Kebutuhan penyiraman sayuran masih bisa dipasok dari sumber mata air atau belik yang ada di dekat lahan [Foto: Henk Widi]
Sejumlah tanaman sayuran jenis kacang dan okra penghasil bunga disebut Sutarji justru menjadi penarik bagi serangga predator hama. Selain sayuran okra, kacang panjang dan kedelai yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk konsumsi tumpangsari tersebut diakuinya bisa ikut mengendalikan hama pada tanaman padi.

Pemanfaatan lahan terbatas untuk penanaman sayuran saat kemarau diakui Sutarji sekaligus upaya memenuhi kebutuhan sayuran bagi keluarganya.

Baca Juga
Lihat juga...