Kemarau, Petani Lamsel Pasrah Tanaman Padi Alami Puso

Editor: Satmoko Budi Santoso

239

LAMPUNG – Ratusan hektar lahan sawah di wilayah Lampung Selatan dipastikan mengalami gagal panen atau puso.

Solihin (40) dan Aminah (38) isterinya, petani padi varietas Ciherang di Desa Sukatani Kecamatan Kalianda menyebut, kekeringan berimbas tanaman padi usia empat pekan miliknya kekeringan.

Lahan seluas satu hektar yang dimiliki merupakan salah satu bidang lahan dari ratusan hektar sawah di wilayah tersebut terdampak kekeringan. Langkah mengairi sawah dengan sumur gali bahkan sudah tidak bisa dilakukan akibat debit air minim.

Sukirno petani di Kecamatan Ketapang terpaksa menggunakan bibit cadangan padi untuk pakan ternak sapi [Foto: Henk Widi]
Solihin yang memiliki satu sumur gali di areal sawahnya menyebut, sebagian petak sawah sempat dialiri dengan memompa air sumur. Namun, padi berusia 28 hari setelah tanam (HST) dibiarkan kering akibat tidak adanya pasokan air.

Proses pendalaman sumur gali yang telah dilakukan, disebut Solihin, bahkan disebutnya tidak akan berhasil untuk mengaliri lahan sawah yang dimiliki. Hal tersebut diakuinya karena kebutuhan air bersih untuk mandi juga tergantung dari sumur gali yang dialirkan dengan mesin pompa.

“Saya melakukan proses pendalaman dasar sumur gali agar debit air bertambah, namun air yang diperoleh akan saya gunakan untuk kebutuhan mandi dan memasak, padi sawah sudah pasrah tidak bakal panen,” beber Solihin, salah satu petani padi di Desa Sukatani, saat ditemui Cendana News, Sabtu (1/9/2018).

Solihin bersama Aminah sang isteri petani di Desa Sukatani Kecamatan Kalianda Lampung Selatan melakukan proses memperdalam sumur gali untuk meningkatkan debit air sebagai kebutuhan air bersih saat kemarau [Foto: Henk Widi]
Upaya melakukan proses pemompaan air dengan memanfaatkan air siring alam bahkan hanya mampu dilakukan selama dua pekan. Setelah itu air siring alam yang digunakan untuk mengaliri sawah kering tidak bisa mengaliri petak sawah miliknya.

Keberadaan sumur bor yang merupakan milik salah satu warga bahkan diakuinya tidak bisa mencukupi kebutuhan untuk pengairan lahan sawah. Kondisi tersebut diakuinya terbalik saat musim hujan karena lahan sawah di wilayah tersebut kerap dilanda banjir.

Dampak kemarau, Solihin mengaku telah mengalami kerugian modal sebesar Rp6,5 juta yang dikalkulasikan dari modal pengolahan lahan, penyediaan bibit, upah tanam serta penyedotan air.

Hujan yang sempat mengguyur pada Senin pagi (1/9) selama setengah jam disebutnya bahkan tidak berhasil menyelamatkan tanaman padi miliknya yang terlanjur kering. Normalnya tanaman padi yang dimilikinya memasuki masa pemupukan tahap pertama namun akibat kemarau urung dilakukan.

Petani lain di Desa Pasuruan bernama Lasiman (65) mengaku, dampak kemarau membuat puluhan hektar lahan sawah tidak bisa panen di wilayah Penengahan. Petani yang mengandalkan air dari sungai bahkan tidak bisa melakukan proses pemompaan air akibat lokasi yang jauh dari areal sawah.

Lasiman yang memperlihatkan satu lahan sawah sudah memasuki masa padi berbulir bahkan memastikan padi tersebut bisa dipanen meski hasilnya merosot.

“Padi ini memang sudah berbuah tapi karena kekurangan air pertumbuhannya tidak normal meski dipanen hasilnya tidak maksimal,” beber Lasiman.

Padi varietas IR 64 yang sudah mulai berisi dengan batang yang pendek dan berbuah namun tidak berisi disebutnya akan dipanen saat menguning. Ketinggian tanaman padi yang tidak normal disebut Lasiman membuat proses pemanenan dilakukan dengan proses pemilahan.

Meski sebagian padi berisi namun pada beberapa petak lahan sawah tersebut tidak bisa dipanen akibat tidak berbuah.

Salah satu petani di Desa Bangunrejo Kecamatan Ketapang bernama Sukirno (40) bahkan memastikan ia mengalami puso alias gagal panen. Saluran air sungai dari kanal yang sudah tercampur air laut di Sungai Lebung Buaya bahkan tidak bisa dipakai untuk mengaliri lahan sawah.

Lahan pertanian di wilayah tersebut yang masuk di keanggotaan Kelompok Tani (Poktan) Subur Makmur 3 bahkan mencapai 100 hektar 50 hektar diantaranya tidak bisa panen.

“Saya terpaksa mempergunakan sisa benih cadangan untuk pakan ternak sapi, bibit yang sudah ditanam juga akan saya gunakan untuk pakan karena tidak ada air,” papar Sukirno.

Akibat kemarau, Sukirno menyebut, harus mengeluarkan biaya operasional besar untuk menanam padi pada masa panen ketiga (MT3). Modal yang dipastikan tidak kembali tersebut disebutnya menjadi resiko baginya dan petani lain yang menanam padi saat musim kemarau.

Sebagai cara untuk menutupi modal ia bahkan mengaku menjual satu ekor sapi miliknya seharga Rp20 juta yang dijual saat lebaran Idul Adha 1439 Hijriah dan menyisakan dua ekor ternak sapi.

Baca Juga
Lihat juga...