Kemarau, Petani Lamsel Terbantu Air dari Sumur Bor

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

213

LAMPUNG — Puluhan hektare hamparan lahan padi sawah milik kelompok tani (Poktan) Bina Karya 1 Desa Kelaten Kecamatan Penengahan Lampung Selatan mulai memasuki masa panen. Meski dilanda kemarau, namun petani masih dapat menikmati hasil berkat suplai pengairan dari sumur bor.

Sumardi, Ketua Poktan Bina Karya 1 menyebutkan, saat kemarau ketika sejumlah lahan pertanian padi sawah mengering, anggota poktan masih bisa menggarap. Fasilitas sumur bor yang disediakan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Lamsel menjadi penyelamat kala kemarau.

Sumur bor yang kedalaman mencapai 40 meter dengan debit air mencapai dua liter per detik saat kemarau ditampung pada sebuah bak khusus untuk selanjutnya dialirkan ke lahan pertanian secara bergilir.

“Sudah selama puluhan tahun petani tidak bisa menggarap lahan sawah saat kemarau. Keberadaan sumur bor dua kali musim kemarau melanda kami bisa mendapat pasokan air, menggarap lahan dan bisa panen,” terang Sumardi saat ditemui Cendana News, Senin (10/9/2018).

Hasil panen padi milik poktan Bina Karya 1 disebut Sumardi pada masa tanam kemarau (gadu) disebutnya menurun dibandingkan masa tanam saat musim hujan (rendengan). Meski demikian ia memastikan pengurangan produksi padi tersebut tidak terlalu signifikan. Penurunan produksi gabah kering panen (GKP) milik anggota poktan lebih dikarenakan faktor serangan hama burung pipit dan tikus.

“Semula bisa menghasilkan 5 ton GKP ia menyebut hanya memperoleh sekitar 4,6 ton gabah,” tambahnya.

Fasilitas sumur bor yang masih bisa dimanfaatkan saat musim kemarau oleh Suwardi bersama puluhan anggota Poktan Bina Karya 1 untuk pengairan lahan padi [Foto: Henk Widi]
Salah satu anggota Poktan Bina Karya 1 yang sudah panen bernama Sagiman, mengaku sangat terbantu. Fasilitas tersebut dibangun untuk membantu petani agar bisa menggarap lahan padi sawah. Sejumlah petani masih belum bisa membuat fasilitas sumur bor karena satu unit fasilitas padi sawah diakuinya membutuhkan biaya sekitar Rp13 juta lengkap dengan fasilitas pipa dan rumah peneduh.

“Fasilitas sumur bor yang dibuat berada di area persawahan sehingga harus diamankan dengan sebuah rumah peneduh,” terang Sagiman.

Dua tahun ini, Sagiman menyebutkan, masih bisa memanen padi varietas Ciherang miliknya pada lahan setengah hektare. Meski hasil menurun dari 3,5 ton GKP kini hanya menapai 2,9 ton GKP.

“Meski mengalami penurunan produksi kondisi tersebut lebih menguntungkan dibandingkan sejumlah petani lain yang lahannya dilanda kekeringan dan bahkan mengalami gagal panen (Puso),” tambahnya.

Petani anggota Kelompok Tani Sumber Makmur 3 di desa yang sama bernama Mulyono, menyebutkan masih belum memiliki fasilitas sumur bor.

Mulyono menyebut pasokan air irigasi yang berkurang tersebut hanya terjadi saat musim kemarau melanda. Saat musim hujan lahan pertanian di wilayah tersebut dengan luasan mencapai 50 hektare seluruhnya bisa digarap.

“Saat musim kemarau sebagian dimanfaatkan untuk lahan penanaman sayuran jenis sawi, kangkung dan bayam. Hanya sawah milik petani yang berada di dekat saluran irigasi bisa digarap dengan pasokan air masih bisa tercukupi,” tutupnya.

Baca Juga
Lihat juga...