Kemarau, Petani Pesisir Rajabasa Alih Profesi Jadi Penangkap Ikan

Editor: Satmoko Budi Santoso

213

LAMPUNG – Sejumlah petani di wilayah pesisir Lampung Selatan di antaranya Desa Way Muli, Desa Kunjir dan sejumlah desa lain beralih mencari sumber penghasilan dengan melaut.

Rali (50) salah satu petani padi di Desa Way Muli menyebut, sudah hampir selama tiga bulan terakhir beralih menjadi pencari ikan dengan jaring payang serta pancing rawe dasar. Pilihan tersebut diakuinya setelah lahan sawah miliknya tidak bisa digarap dampak pasokan air yang berkurang.

Hamparan lahan sawah bahkan kini ditumbuhi rumput dan menjadi lahan penggembalaan ternak.

Rali menyebut, peralihan usaha dari bertani menjadi nelayan dilakukan untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Menggunakan perahu ketinting dengan peralatan sederhana Rali kerap melaut di sekitar pantai Kunjir dan sekitar Gunung Botak yang memiliki teluk untuk mencari ikan.

Saat musim teri dan cumi ia dan pencari ikan lain menggunakan jaring payang untuk mencari ikan yang dijual ke tempat pelelangan ikan (TPI) Way Muli.

“Lahan sawah kering sementara keluarga membutuhkan beras serta kebutuhan lain. Usaha paling tepat untuk saya mencari ikan dengan menggunakan perahu. Dijual hasilnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” terang Rali, salah satu petani sawah yang beralih menjadi pencari ikan, saat ditemui Cendana News di pantai Way Muli, Selasa (25/9/2018).

Rali menyebut, sebagai nelayan tradisional dengan perahu kecil, dalam kurun waktu tiga bulan terakhir ia juga harus mengikuti larangan mendekat ke Gunung Anak Krakatau (GAK). Gunung Berapi di Selat Sunda yang berada dekat dengan kawasan pesisir tersebut masih terus mengalami erupsi.

Terakhir pada Sabtu (22/9) disertai bunyi gemuruh dan guguran lava pijar. Kolom abu setinggi 600 hingga 800 meter bahkan terlihat seperti tiang tinggi berwarna putih. Saat angin mengarah ke perkampungan, debu kerap mengganggu pernapasan sehingga nelayan dilarang dalam radius 2 kilometer.

Rali, salah satu petani di pesisir Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa,Lampung Selatan beralih profesi sebagai penangkap ikan di Selat Sunda akibat kemarau tidak bisa menggarap lahan [Foto: Henk Widi]
Rali dan pencari ikan lain mengaku, hanya mencari ikan di sekitar pesisir pantai. Meski ikan yang diperoleh cukup menjanjikan. Jenis ikan yang berhasil ditangkap di antaranya jenis ikan Simba Porong, ikan Kakap merah, ikan Tengkurungan, ikan Kuniran, ikan Talang, ikan Selar, ikan Gegerit serta sejumlah ikan lain yang ditangkap dengan pancing.

Khusus untuk ikan teri jengki dan teri nasi, ia menyebut, kerap mendapatkan satu ember digunakan sebagai umpan pemancing.

Harga berbagai jenis ikan laut segar tersebut dalam beberapa bulan mengalami kenaikan dampak dari kondisi cuaca buruk didominasi angin kencang dan ombak tinggi.

Harga ikan yang naik juga dibenarkan oleh Aminah (47) sang istri yang bertugas menjual ikan ke pelelangan atau di tepi jalan kepada konsumen yang menginginkan ikan laut segar. Ikan laut segar tersebut mengalami kenaikan mulai Rp5.000 hingga Rp15.000 per kilogram.

“Nelayan tidak boleh mendekat ke Krakatau, angin kencang serta gelombang tinggi membuat harga ikan naik,” cetus Aminah.

Aminah juga menyebut, peralihan profesi dari petani ke pencari ikan menjadi faktor harga ikan mengalami kenaikan. Melalui proses mencari ikan, petani bisa memiliki penghasilan alternatif sebagian sebagai kuli bangunan, pencari ikan hingga tukang ojek.

Beberapa ikan yang mengalami kenaikan harga di antaranya ikan Simba Porong semula Rp35.000 menjadi Rp40.000 per kilogram, ikan Gegerit semula Rp20.000 menjadi Rp25.000, ikan Talang semula Rp17.000 menjadi Rp25.000, ikan Kakap merah semula Rp40.000 menjadi Rp50.000, ikan Kuniran semula Rp20.000 menjadi Rp25.000 per kilogram.

Kenaikan harga ikan tersebut, diakui Aminah, tidak mempengaruhi permintaan akan ikan laut pasalnya ikan yang dijual umumnya masih dalam kondisi segar.

Pencari ikan lain bernama Jumadi (30) memastikan keberadaan teluk Gunung Botak dan pantai wartawan masih bisa menjadi lokasi petani mencari ikan. Meski mempergunakan perahu tradisional, namun petani masih bisa mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan lauk serta bisa dijual ke TPI atau dijual keliling.

Hasanudin (30) salah satu pembeli ikan hasil tangkapan menyebut, kerap membeli ikan yang baru dinaikkan dari perahu karena masih dalam kondisi segar. Ikan yang dibeli sekaligus membantu petani yang beralih profesi menjadi pencari ikan.

Pencari ikan kerap menjual ikan di tepi jalan pesisir. Hasil tangkapan nelayan dengan ciri khas diikat menggunakan tali bambu. Kondisi tersebut berbeda dengan hasil tangkapan nelayan besar yang sudah dijual di TPI. Ia memilih membeli ikan dari nelayan tradisional dengan cara memesan sesaat setelah perahu mendarat.

“Sembari membeli ikan, sekaligus membantu warga yang sebelumnya bekerja sebagai petani menjadi harus mencari ikan,” beber Hasanudin.

Hasanudin juga menyebut, kemarau yang masih melanda wilayah pesisir Rajabasa dan Kalianda, membuat sejumlah petani tidak memiliki sumber penghasilan. Beberapa lahan pertanian yang semula ditanami padi bahkan tidak bisa ditanami dengan sayuran akibat kurangnya pasokan air.

Lokasi yang berada di dekat Selat Sunda, membuat petani menjadikan laut sebagai sumber mencari mata pencaharian tambahan dengan mencari ikan untuk dijual sehingga petani bisa memenuhi kebutuhan.

Baca Juga
Lihat juga...