Kemarau, Siasat Pembudidaya Lele Kolam Terpal Minimalisir Kerugian

Editor: Satmoko Budi Santoso

510

LAMPUNG – Musim kemarau dengan keterbatasan pasokan air ikut berdampak bagi pemilik usaha budidaya ikan air tawar dengan media terpal.

Edi Gunawan (37) salah satu pembudidaya ikan air tawar jenis lele Sangkuriang menyebut selain minimnya pasokan air, kemarau ikut berdampak timbulnya penyakit pada lele. Sebagai upaya siasati kerugian akibat kemarau, Edi Gunawan bahkan harus melakukan perawatan khusus pada kolam terpal yang dimilikinya.

Edi Gunawan menyebut, memiliki sebanyak dua unit kolam lele terpal bundar berdiameter dua meter, selain itu sebanyak dua kolam terpal persegi berukuran 4 x 6 meter. Kebutuhan air yang berasal dari sumur dalam dengan sistem pompa disebutnya sudah tidak mencukupi untuk kebutuhan air kolam.

Debit air sumur yang berkurang disebut Edi Gunawan bahkan membuat ia harus mengambil air dari sungai dengan sistem pengangkutan menggunakan jerigen.

“Pada kolam terpal berbentuk persegi dan kolam bulat kebutuhan air awal berasal dari sumur dan air hujan tapi ketika kemarau air sulit diperoleh sehingga mengambil dari sungai,” terang Edi Gunawan, salah satu pembudidaya ikan lele dengan sistem kolam terpal saat ditemui Cendana News, Sabtu (1/9/2018).

Ikan lele yang sehat dipisahkan untuk dipindah ke kolam terpal yang baru [Foto: Henk Widi]
Warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan itu bahkan menyebut, pada saat kemarau tingkat penguapan air kolam meningkat dua kali lipat dibanding musim hujan. Sebagai teknik mengurangi penguapan, Edi Gunawan bahkan menggunakan paranet atau waring khusus, papan serta daun kelapa kering.

Selain mengatasi penguapan penggunaan penutup saat cuaca panas dilakukan menghindari ikan mengalami penyakit.

Pada satu kolam terpal berbentuk persegi, Edi Gunawan menyebut menebar sebanyak 2000 benih lele sangkuriang. Namun akibat kemarau dengan suhu yang tinggi berimbas kematian sebanyak 200 ekor lele jelang panen.

Lele Sangkuriang disebut Edi Gunawan sudah bisa dipanen usia 90 hari dan kematian terjadi saat usia lele mencapai 60 hari dalam kondisi belum siap jual. Jenis penyakit yang menyerang lele budidaya miliknya di antaranya berupa jamur, bintik putih serta cacar pada lele.

Sebagian kolam semen milik warga untuk budidaya ikan lele dibiarkan kosong selama musim kemarau [Foto: Henk Widi]
“Saya melakukan pemisahan yang masih lele sehat agar tidak tertular dengan sistem pengurasan menggunakan mesin pompa,” beber Edi Gunawan.

Pemisahan disebut Edi Gunawan dilakukan meminimalisir kematian pada lele selain dampak kemarau juga akibat nafsu makan lele yang berkurang. Pengurangan pakan buatan dengan pelet pabrikan bahkan dilakukan oleh Edi Gunawan dengan menggunakan Suplemen Organik Cair (SOC) yang diolah dari bahan organik.

Cara tersebut diakuinya dilakukan menghindari proses pembusukan sisa pakan penyebab amoniak pada kolam. Sistem penjernih alami juga dilakukan dengan menanam tumbuhan air jenis kiambang (lemna minor).

Edi Gunawan menyebut penggunaan bahan organik berupa probiotik dilakukan untuk mengurai sisa makanan sekaligus mengurangi bau pada kolam ikan. Probiotik tersebut dibuat secara alami melalui proses fermentasi selama satu pekan beberapa jenis bahan tradisional.

Bahan tersebut di antaranya nanas, gula merah, susu cair, tetes tebu, kunyit serta bahan organik lain. Setelah difermentasi berbentuk cairan dituangkan dalam dosis tertentu di kolam terpal yang dimilikinya.

“Nafsu makan ikan saat kemarau memang kerap menurun dan berpengaruh pada kondisi air, sementara sirkulasi air terhambat karena kemarau sehingga perlu siasat khusus,” beber Edi Gunawan.

Proses pengurasan air pada kolam terpal disebut Edi Gunawan juga kerap dilakukan usai panen. Setelah itu proses penaburan dolomit dilakukan untuk menghilangkan bakteri penyebab parasit pada ikan.

Kebutuhan air untuk kolam disebut Edi Gunawan dilakukan dengan melakukan proses penyedotan air dari sungai yang ditampung pada tower khusus untuk pengisian kolam baru.

Cara tersebut dilakukan akibat air sumur gali sudah tidak bisa dimanfaatkan untuk budidaya kolam dengan terpal.

Meski harus mengeluarkan biaya ekstra, ia menyebut harga lele pada kisaran Rp17.000 per kilogram masih bisa digunakan untuk menutupi biaya operasional. Pola pemberian pakan yang teratur, penggunaan suplemen organik cair serta pemakaian peneduh diakuinya menjadi cara menyiasati kerugian budidaya ikan lele saat kemarau.

Edi Gunawan menyebut, meski sejumlah pembudidaya ikan lain istirahat ia masih bisa memanen sekitar 200 kilogram ikan sistem sortir untuk satu kali masa panen bagi kebutuhan usaha kuliner pecel lele.

Kondisi musim kemarau juga membuat pembudidaya ikan air tawar dengan kolam terpal kesulitan memperoleh benih.

Sukoco, salah satu pembudidaya ikan lele menyebut terpaksa mengosongkan kolam miliknya. Selain kebutuhan bibit ikan lele kosong dari sejumlah kecamatan budidaya ikan lele saat kemarau disebutnya rentan gagal.

Selain itu harga bibit lele saat kemarau ukuran 7 cm yang semula biasanya dijual Rp150 per ekor kini dijual Rp250 per ekor.

“Bibit ikan lele menjadi lebih mahal dan biaya operasional membengkak jadi saat musim kemarau saya memilih istirahat,” beber Sukoco.

Selama proses istirahat, ia menyebut budidaya kolam terpal bisa lebih efesien dengan melakukan penyimpanan terpal. Terpal yang tidak digunakan setelah dicuci di sungai disimpan sembari menunggu musim hujan tiba.

Penggunaan metode kolam bulat dengan terpal disebutnya cukup praktis untuk dipindahkan berbeda dengan kolam tanah dan kolam terbuat dari semen.

Sukoco yang memiliki sebanyak empat kolam terpal menyebut masih mempertahankan satu kolam terpal untuk stok konsumen yang membutuhkan lele.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.