Kemenkes: Kesadaran Pengisian KIA, Rendah

Editor: Satmoko Budi Santoso

198

JAKARTA – Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sudah sejak lama ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sebagai sumber informasi kesehatan ibu dan anak sejak masa hamil, masa nifas hingga masa bayi mencapai umur 5 tahun.

Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Eni Gustina, menyatakan, bahwa secara garis besar, terdapat dua elemen penting dari Buku KIA, yaitu media informasi dan media pencatatan (monitoring) di keluarga atau masyarakat.

“Kedua elemen ini efektif memberi perubahan perilaku ibu dan anak yang berujung pada kestabilan kesehatan,” kata Eni kepada Cendana News, Jumat (21/9/2018).

Tapi berdasarkan pemantauan dan evaluasi yang dilakukan Direktorat Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, ditemukan bahwa hanya 18 persen buku KIA yang diisi secara lengkap. Padahal data kepemilikan buku ini ada pada angka 81,5 persen.

Ilustrasi Buku KIA – Foto Ist

“Pemantauan dilakukan berdasarkan sampel yang diambil dari 17 kabupaten. Salah satunya adalah Tasikmalaya. Ditemukan bahwa pengisiannya banyak yang tidak lengkap. Kami bekerja sama dengan daerah yang ada Poltekkes untuk membantu kami dalam melaksanakan survei ini,” ujar Eni.

Dari segi kepemilikan yang hanya 81,5 persen, Eni mengungkapkan, ada masalah pada jalur distribusi.

“Seharusnya ini 100 persen, karena kita kan membagi ini secara gratis. Sehingga kemungkinannya ada kesalahan dalam distribusi. Belum juga ditambah dengan potensi si ibu yang lupa membawa bukunya saat periksa atau bukunya hilang,” urai Eni lebih lanjut.

Menurut Eni, penetapan penggunaan buku ini melalui Permenkes 04 tahun 2004. Pada tahun 2006, pengadaan buku ini diserahkan pada pemerintah daerah. Tapi terkendala karena harganya bervariasi.

“Harganya ada yang mahal banget. Bahkan ada yang sampai 10 kali lipat dari harga yang ditetapkan pusat. Akhirnya pada tahun 2009, pengadaan buku ini dikelola oleh pusat kembali,” kata Eni.

Mengingat pentingnya buku ini, Direktorat Kesehatan Keluarga memutuskan untuk melakukan beberapa langkah dalam meningkatkan penggunaan buku KIA.

“Beberapa langkah yang kita ambil yaitu mengadakan sosialisasi yang bekerja sama dengan perguruan tinggi, sekolah kebidanan, organisasi profesi hingga asosiasi yang terkait dengan hal ini,” ujar Eni.

Eni mengharapkan pada tahun 2019, baik kepemilikan maupun pengisian buku ini sudah mencapai 100 persen.

Baca Juga
Lihat juga...