Kenduri Sepasaran, Ungkapan Syukur Kelahiran Anak yang Masih Lestari di Lamsel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

181

LAMPUNG — Meski sudah jauh meninggalkan kampung, masyarakat keturunan Jawa yang menetap di Lampung Selatan masih tetap melestarikan tradisi leluhur. Salah satunya ungkapan syukur kelahiran anak atau selamatan sepasaran yang ditandai dengan kenduri.

“Tradisi selamatan sepasaran bayi masih kerap dilakukan di wilayah ini,” sebut Nasrulah, Kepala Dusun Sumbersari, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan kepada Cendana News.

Sesudah kelahiran bayi, tetangga dan kerabat akan menemani dengan melakukan jagong bayen atau muyen. Tamu yang datang umumnya para ibu rumah tangga dengan membawa beras, kebutuhan memasak seperti minyak, terigu, mi, telur.

Seiring perkembangan zaman sebagian ibu bahkan memberikan bantuan uang kepada ibu yang baru melahirkan dengan niat untuk membeli bedak serta keperluan bayi lainnya. Para kaum pria yang bertamu akan melakukan jagong bayen hingga waktu selamatan sepasaran dengan lek lekan atau menemani ayah sang bayi.

Pada malam sepasaran, keluarga akan mengundang tetangga sekitar untuk melakukan selamatan sepasaran. Malam terakhir rangkaian selamatan, jagong baten keluarga menggelar kenduri sebagai ungkapan syukur keluarga atas kelahiran sang anak.

Menu nasi dan berbagai lauk yang disediakan oleh keluarga yang melakukan kenduri selamatan sepasaran [Foto: Henk Widi]
Sepasaran disebut Nasrulah dilakukan saat bayi berumur lima hari dan kerap dikenal dengan puputan.

“Rangkaian selamatan sepasaran aslinya cukup panjang namun bagi warga keturunan Jawa di Lampung disederhanakan dengan masih menyimbolkan rasa syukur dan menjaga tradisi,” beber Nasrulah.

Beberapa rangkaian selamatan sepasaran yang masih dijalankan di antaranya dengan membuat tumbak sewu. Dibuat dari sapu lidi yang dibalik dan pada ujung sapu ditancapkan dlingo, bangle, kencur, kunir, temu, cabai merah, bawang merah dan bawang putih.

Tumbak sewu kerap diletakkan di dekat ari-ari bayi yang dikubur di depan rumah dan diberi lampu minyak.

Pada malam selamatan sepasaran, Nasrulah menyebutkan, makanan telah disiapkan berupa nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauk. Tumpeng biasanya telah dimasukkan dalam besek yang semula terbuat dari anyaman daun kelapa dan kini berganti menjadi besek plastik.

Sejumlah lauk yang disediakan berupa ayam goreng, telur rebus, mi kuning, mi putih, jajan pasar berupa kue kue serta buah buahan. Bubur merah putih dan kolak pisang juga disertakan dalam wadah besek yang akan dibagikan.

“Awalnya kenduri selamatan sepasaran masih menggunakan tumpeng, besek dari daun kelapa tapi sekarang lebih sederhana. Tetangga tinggal membawa sesudah didoakan,” terang Nasrulah.

Pada saat kenduri sepasaran tersebut, orangtua bayi meminta kepada sesepuh kampung, tokoh untuk mengumumkan nama bayi. Nama yang disebutkan saat kenduri sepasaran berlangsung dituliskan dalam kertas khusus agar tetangga yang tidak ikut bisa mengetahui nama anak yang baru lahir.

Sebelum kenduri selamatan, pada pagi hingga siang hari keluarga juga menyediakan hidangan untuk kerabat yang menyumbang.

Kerabat dan tetangga yang menyumbang berupa uang, bahan memasak akan mendapat kiriman hidangan yang persis sama seperti menu kenduri. Hantaran nasi tersebut biasanya dikirim kepada keluarga yang jauh dan tidak bisa hadir saat kenduri selapanan berlangsung.

Baca Juga
Lihat juga...