Kesadaran Masyarakat Flores untuk Tes HIV Masih Minim

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

181

MAUMERE — Kesadaran masyarakat di pulau Flores untuk tes HIV di klinik VCT (Voluntary Consulting and Testing) di puskesmas maupun rumah sakit masih sangat minim. Banyak yang telah menyandang status gawat baru diketahui mengidap HIV dan AIDS.

“Sebenarnya sangat bisa dicegah. Untuk itu segera lakukan tes supaya mengetahui dengan pasti status HIV kita,” pinta dr. Asep Purnama, dokter spesialis penyakit dalam yang merupakan relawan peduli HIV dan AIDS, Minggu (23/9/2018).

Kepada Cendana News, Asep menegaskan dengan mengetahui maka diharapkan tidak menularkan ke pasangan. Jika pasangan hamil, lakukan tes HIV untuk mengetahui status ibu hamil tersebut.

“Ibu hamil yang HIV positif, dapat ditangani dengan baik supaya tidak menularkan ke janin yang dikandungnya. Kasihan kalau bayi yang tidak berdosa harus tertular,” sebutnya.

Asep berpesan, jangan sampai terjadi lagi satu keluarga tertular karena sejatinya bisa dicegah. Berbagai layanan untuk pencegahan itu sudah bisa dilakukan di berbagai fasilitas kesehatan di Flores.

Dokter Asep Purnama, Dokter spesialis penyakit dalam yang merupakan relawan peduli HIV dan AIDS.Foto : Ebed de Rosary

Tanggal 21 September 2018, kami mengizinkan sahabat ODHA (Orang Dengan HIV AIDS), sebut saja bernama Susi pulang ke rumahnya setelah dirawat beberapa hari di RSUD TC Hillers, bebernya.

Ibu muda berusia 25 tahun ini, terang Asep, dirujuk dari salah satu kabupaten di Flores, dimana Bunga (samaran) bersama sang suami dan anaknya semata wayang yang masih berusia 1 tahun ternyata semuanya HIV positif.

Sementara di klinik VCT Sehati RSUD TC Hillers, satu keluarga lainnya dirujuk dari kabupaten lain di Flores, terdiri dari seorang ayah (30 tahun), ibu (34 tahun) dan anak semata wayangnya (3 tahun); ketiganya juga tertular HIV, sesalnya.

Pengelola program HIV dan AIDS KPA kabupaten Sikka, Yuyun Darti Baetal menyebutkan, selama kurun waktu Januari hingga Mei 2018, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kabupaten Sikka mencatat sudah ditemukan 14 warga yang terinfeksi. Jika ditotal selama 2003 hingga 2018 terdapat 705 kasus.

“Terdapat 222 kasus HIV dan 483 kasus AIDS, dimana kasus terbanyak pada warga yang berusia antara 25 hingga 49 tahun dengan jumlah 525,” sebutnya.

Dikatakan Yuyun, peringkat kedua terbanyak ditempati kelompok umur 20 hingga 24 tahun dengan jumlah kasus HIV dan AIDS sebanyak 94 kasus di atas 50 tahun ada 45 kasus, usia 15 hingga 19 tahun ada 7 kasus serta yang berumur di bawah 5 tahun terdapat 5 kasus.

“Bila dilihat dari profesi maka ibu rumah tangga menempati urutan pertama dengan jumlah kasus sebanyak 165 kasus disusul petani 103 kasus, buruh 44, sopir 32, karyawan 37, PSK 35, tukang ojek 22 kasus serta tidak diketahui profesinya sebanyak 20 kasus,” bebernya.

Baca Juga
Lihat juga...