Ketahanan Pangan, Titik Sentral Kebijakan Pembangunan Bangsa

Editor: Mahadeva WS

340

JAKARTA – Masyarakat yang makmur dan adil serta sejahtera lahir dan batin, adalah tujuan dari negara Indonesia, yang memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Tujuan nasional tersebut mencakup tiga dimensi. Dimensi keamanan, dimana, pemerintah Indonesia berkewajiban melindungi segenap bangsa, dalam hal ini aspek kependudukan. Dimensi kesejahteraan, Pemerintah Indonesia berupaya mewujudkan kesejahteraan umum, dalam hal aspek sosial ekonomi, dan mencerdaskan kehidupan bangsa dalam hal ini aspek pendidikan.

Dimensi keseimbangan lingkungan, mengarahkan, Pemerintah Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia, dalam arti seluas-luasnya, berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi dan social. Berbagai dimensi dan aspek tersebut dapat dicapai melalui pembangunan nasional.

Hal tersebut disampaikan Soehardjo Soebardi, saat membacakan sambutan Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut Soeharto, selaku Ketua Umum Yayasan Harapan Kita (YHK). Dalam kesempatan tersebut, pihak keluarga almarhum Soeharto, mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi, kepada penulis yang juga wartawan, yang telah bersusah payah, dan bekerja keras mengumpulkan bahan, dan merangkumnya menjadi buku, Soeharto: Ketahanan Pangan Dalam Pembangunan Nasional.

Buku yang bercerita tentang kebijaksanaan pembangunan nasional dibidang Pertanian, yang sangat bermanfaat untuk kondisi saat ini di Indonesia. Buku tersebut, sejalan dengan visi dan misi yang diinginkan, yakni turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Melihat konsep dan komitmen yang dimiliki Ibu Tien Soeharto, meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, baik secara intelektual jasmani dan rohani. Sudah, menjadi tugas generasi sekarang, untuk melanjutkan kembali apa yang telah diperjuangkan Ibu Tien dan Pak Harto.

“Bagi kami, wartawan bukanlah sebatas sebagai  penyampai informasi kepada masyarakat, namun melainkan juga sebagai saksi sejarah kebijakan pembangunan Indonesia. Keberhasilan dan kekurangan pembangunan yang harus ditingkatkan  dapat diketahui melalui media massa baik cetak maupun elektronik,” ujar Mbak Tutut dalam sambutan yang disampaikan oleh Soehardjo Soebardi.

Soehardjo Soebardi, yang merupakan Ketua Dewan Pembina Yayasan Harapan Kita mengharapkan, buku tersebut, menjadi dokumentasi sejarah, sekaligus bahan pembelajaran di sekolah, maupun di perguruan tinggi. Buku tersebut akan memberitahukan, Indonesia berhasil memperoleh penghargaan dari Badan Pangan Dunia (FAO) pada 1986, karena berhasil dalam swasembada pangan.

Soehardjo Soebardi menambahkan, di 1960-an Pak Harto tertarik dengan usaha atau kegiatan yang dijalankan Tedja Hana, yakni bergerak dibidang minyak kelapa dengan keberhasilannya menanam kelapa hybrida. “Pak Tedja diundang ke Istana, kemudian ditunjuk oleh Pak Harto untuk mengelola satu juta hektar sawah di daerah Kalimantan Tengah. Namun karena adanya situasi politik, Pak Tedja memutuskan untuk meninggalkan Kalimantan Tengah dan menetap di Singapura hingga wafat. Anak-anaknya melanjutkan apa yang sudah dirintis Pak Tedja sebelumnya, dan sampai sekarang menuai sukses dengan menggandeng masyarakat sekitar dalam memajukan usaha yang sudah dibangun pak Tedja,” ungkapnya.

Edwina Tirta, Corporate Communication Manager Sambu Group. foto M. Fahrizal

Edwina Tirta, Corporate Communication Manager Sambu Group, membenarkan apa yang telah disampaikan pak Soehardjo Soebardi, mengenai ketahanan pangan Indonesia yang pernah dilakukan oleh almarhum Presiden Soeharto dengan almarhum Tedja Hana selaku Founder dari Sambu Group.

Menurutnya, kedua sosok tersebut, dimasa lampau memiliki pemahaman dan pandangan yang sama, terkait dengan Indonesia harus mandiri secara pangan. Keduanya sepakat untuk memperjuangkan ketahanan pangan Indonesia sebagai bentuk Penanaman Modal Akhirat (PMA).

Apa yang telah disampaikan Pak Soehardjo perihal pencetakan sawah satu juta hektar di Kalimantan, terganggu agenda politik, yang menyebabkan terhentinya pencetakan sawah yang saat itu sedang berjalan. “Adanya gangguan politik tidak menyurutkan mimpi Pak Tedja untuk tetap mewujudkan ketahanan pangan Indonesia, dengan pertanian yakni perkebunan kelapa. Secara prakteknya Sambu Group dengan Tedja Hananya melakukan hal yang serupa seperti apa yang dilakukan pak Harto yakni memperhatikan masyarakat sampai memikirkan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Lima juta butir kelapa dikelola setiap harinya, dimana hanya sepuluh persen berasal dari perkebunan Sambu Group. Selebihnya kelapa diserap dari masyarakat kecil, dengan tujuan bisa meningkatkan kesejahteraan petani kelapa. Hal itu yang dilakukan Pak Tedja Hana mengikuti jejak langkah Pak Harto dalam mensejahterakan masyarakat.

Baca Juga
Lihat juga...