Keterbatasan Kemampuan Desa di Maumere dalam Membangun

Editor: Satmoko Budi Santoso

138

MAUMERE – Kapasitas desa dalam menyelenggarakan pembangunan dalam perspektif desa membangun masih terbatas. Keterbatasan itu tampak dalam kapasitas aparat pemerintah desa dan masyarakat, kualitas tata kelola desa, maupun sistem pendukung yang mewujud melalui regulasi dan kebijakan pemerintah yang terkait dengan desa.

“Sebagai dampaknya, kualitas perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pemanfaatan kegiatan pembangunan desa kurang optimal serta kurang memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat desa,” sebut Drs. Mekeng P. Florianus, Sabtu (1/9/2018).

Untuk itu, kata Mekeng, pemerintah melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, sesuai amanat Undang-Undang Desa, meluncurkan Program Inovasi Desa (PID) sebagai salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui peningkatan inovasi dalam praktik pembangunan serta solusi inovatif dalam menggunakan dana desa.

Penjabat bupati Sikka Drs, Mekeng P.Florianus. Foto : Ebed de Rosary

“Desa secara mandiri maupun bersama mitra kerja harus melakukan pendekatan sistem dalam menangani berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat. Melibatkan multipihak agar dihasilkan kesinambungan kebijakan, pengelolaan sumber daya, pendanaan, dan tindakan strategis lainnya yang mendukung inovasi desa,” harapnya.

Ada beberapa strategi, tegas Flori, yang dapat dipraktikkan dalam mengembangkan desa inovatif di antaranya membangun kapasitas warga dan organisasi masyarakat sipil di desa yang kritis serta dinamis.

“Kapasitas pemerintahan dan interaksi dinamis antara organisasi warga dalam penyelenggaraan pemerintahan desa harus diperkuat serta dibangun sistem perencanaan dan penganggaran desa yang responsif serta partisipatif,” sarannya.

Program Inovasi Desa (PID), tegas Mekeng, bertujuan untuk mendorong peningkatan kualitas pemanfaatan dana desa dengan memberikan banyak referensi serta inovasi pembangunan desa dalam rangka mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi perdesaan. Membangun kapasitas desa yang berkelanjutan.

“Ada beberapa kegiatan Program Inovasi Desa seperti pengembangan ekonomi lokal dan kewirausahaan, baik pada ranah pengembangan usaha masyarakat, maupun usaha yang diprakarsai desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUM Des), Badan Usaha Milik antar-Desa serta produk unggulan desa guna mendinamisasi perekonomian desa,” ungkapnya.

Selain itu, sambung Mekeng, dilakukan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), untuk merangsang sensitivitas desa terhadap permasalahan krusial terkait pendidikan dan kesehatan dasar dalam penyelenggaraan pembangunan desa.

“Juga pemenuhan dan peningkatan infrastruktur perdesaan, khususnya yang secara langsung berpengaruh terhadap perkembangan perekonomian desa dan yang memiliki dampak merekatkan hubungan sosial masyarakat desa,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Sikka, Robertus Ray, menyebutkan, pihaknya menggelar pertemuan yang melibatkan seluruh aparat desa dan pendamping desa guna melakukan evaluasi maupun analisa terhadap tim pelaksanaan inovasi desa.

“Setelah pertemuan kita akan buatkan langkah-langkah tindak lanjut untuk Program Inovasi Desa pada 147 desa yang tersebar di 21 kecamatan yang ada agar tahun 2019 nanti semua desa sudah bisa menjalankan dengan baik,” sebutnya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk