Ketergantungan pada Beras, Ancam Ketahanan Pangan Nasional

Editor: Satmoko Budi Santoso

205
Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Dr. Sudarminto Setyo Yuwono - Foto Agus Nurchaliq

MALANG – Ketergantungan masyarakat Indonesia pada beras, selama ini dinilai justru dapat mengancam ketahanan pangan nasional. Akibatnya, pemerintah terus melakukan kebijakan impor beras untuk memenuhi kebutuhan beras di tengah-tengah masyarakat.

Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya, Dr. Sudarminto Setyo Yuwono, mengatakan, produk lokal di antaranya umbi-umbian, sebenarnya bisa dijadikan salah satu alternatif pengganti beras untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia.

“Artinya, ketahanan pangan tidak harus selalu berbasis beras. Tapi semua yang bisa digunakan untuk mendukung kehidupan dan bisa untuk mengenyangkan, sebenarnya bisa masuk ke dalam kategori ketahanan pangan,” jelasnya, terkait acara International Conference on Green Agro Industry and Bioeconomy (ICGAB) di gedung Widyaloka UB, Selasa (18/9/2018).

Ketahanan pangan sendiri, tegas Sudarminto, memang tidak harus terpaku dengan beras. Tapi, permasalahannya, masyarakat saat ini sudah terbiasa mengonsumsi beras. Kalau tidak ada beras dianggap belum makan. Padahal, sumber pangan yang lain juga masih banyak.

“Di sinilah peran pemerintah sangat penting untuk dapat turut mempromosikan agar masyarakat tidak hanya selalu mengonsumsi beras. Tapi bisa mengganti dengan makanan non-beras. Karena masih banyak sumber karbohidrat lain yang bisa dikonsumsi seperti sagu, ubi kayu atau singkong, maupun jagung,” ucapnya.

Disampaikan Sudarminto, dalam teknologi pertanian, khususnya teknologi pasca-panen, harusnya mampu menghasilkan produk yang lebih menarik dengan cita rasa lebih enak sehingga masyarakat bisa menerima sebagai produk pengganti beras.

“Contohnya di Meksiko. Di sana masyarakatnya sudah terbiasa mengonsumsi jagung tapi dengan berbagai jenis olahan jagung. Seperti dijadikan tortila. Itu kan sebenarnya produk yang berbasis jagung,” sebutnya. Tapi, masyarakat Indonesia sendiri justru belum menyadari bahwa jagung bisa digunakan sebagai pengganti beras.

Untuk itu, peran pemerintah sangat penting, karena jika pemerintah tidak serius dalam menangani masalah ketahanan pangan, maka masyarakat akan tetap tergantung pada beras. Pemerintah juga akan terus melakukan impor beras yang justru bisa mengancam ketahanan pangan nasional.

“Sebenarnya, boleh saja pemerintah impor beras, jika stok beras nasional memang sudah membuat khawatir. Tapi, kalau pemerintah mengimpor pada saat petani panen raya, tentu akan menjatuhkan harga padi di tengah masyarakat,” pungkasnya.

 

Baca Juga
Lihat juga...