Ketinggian Letusan GAK Capai 800 Meter Warga Dilarang Mendekat

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

398

LAMPUNG — Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan terus mengalami peningkatan  sejak Jumat (21/9) hingga Sabtu siang (22/9) secara visual dengan kondisi cuaca yang cerah.

Kepala Pos Pantau Pos Pengamatan, Andi Suardi menyebutkan, dua hari sebelumnya penampakan visual GAK tidak terlihat karena hujan dan kabut. Saat ini kolom abu vulkanik terpantau lebih tinggi dari hari sebelumnya disertai letusan mencapai 45 kali lebih dengan ketinggian 100-600 meter dominan warna kelabu dan Sabtu (22/9) siang mencapai 600 hingga 800 meter.

“Tipe letusan Gunung Anak Krakatau merupakan strombolian membentuk tiang tinggi dan guguran lava mengarah ke Selatan sehingga secara visual tidak terlihat dari pos pantau di Desa Hargo Pancuran, tapi kolom abu siang ini lebih tinggi dari hari sebelumnya,” terang Andi Suardi saat ditemui Cendana News, Sabtu siang (22/9/2018)

Kolom asap hitam dan kelabu serta putih merupakan akumulasi hentakan energi dengan material debu vulkanik jatuh di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau. Selama material yang ikut terbawa ke udara berupa debu renik terbawa angin maka nelayan, wisatawan tetap dilarang mendekat di sekitar kawasan tersebut dalam radius dua kilometer.

Andi Suardi, Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Sesuai dengan posisi kepundan yang mengarah ke Selatan, Andi Suardi menyebut secara visual jarang teramati sinar api dan aliran pijar. Kondisi tersebut bisa diamati dari alat closed circuit television (CCTV) yang mengarah ke GAK.

Dentuman dan getaran juga diakuinya hanya sayup terdengar oleh warga pesisir dengan kondisi cuaca terkini cerah dan ombak laut yang tenang. Sejumlah kapal kargo, kapal tanker dan kapal roll on roll off (Roro) lintas Panjang-Tanjungpriok bahkan masih beraktivitas dengan normal termasuk sejumlah nelayan.

Andi Suardi juga menyebut, dari data pengamatan sama dengan data pos pantau di Pasauran Provinsi Banten, sepanjang pengamatan terjadi letusan selama 44 kali dengan ketinggian rata rata mencapai 100 hingga 600 meter.

Warna hitam dominan terjadi pada ketinggian 600 meter dan pada akhir pekan asap putih mencapai ketinggian 800 meter bisa diamati dengan mata telanjang dalam kondisi cuaca yang cerah.

Minimnya awan lain membuat tiang awan hasil letusan terkumpul dan mengarah ke Samudera Hindia sehingga tidak berpotensi menjatuhkan debu vulkanik ke wilayah Bakauheni, Rajabasa dan Pulau Sebesi.

Opung, salah satu nelayan di Bakauheni menyebut aktivitas GAK sejauh ini belum berdampak bagi nelayan. Pengaruh cukup terasa diakuinya terjadi ketika abu vulkanik GAK mengarah ke area tangkapan nelayan saat angin bertiup membawa debu. Ia kerap mengalami batuk-batuk dan sakit mata ketika mencari ikan bersamaan dengan debu GAK yang terbawa angin. Ia bahkan kerap harus mengenakan masker menghindari sakit pernapasan.

Baca Juga
Lihat juga...