Kidung Pangrekso Jamas Agung Kirab Pusoko, Hiasi Malam 1 Suro di TMII

Editor: Mahadeva WS

636

JAKARTA – Memeriahkan malam Tahun Baru Islam 1 Muharam 1440 Hijriah atau Malam 1 Suro 1552, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menampilkan Kidung Pangrekso Jamas Agung Kirab Pusoko.  Acaranya digelar di Pendopo Sasono Utomo TMII, Jakarta, Senin (10/9/2018) malam.

Gelaran seni yang dibawakan seniman tari dari Yogyakarta tersebut, terlihat begitu sangat religius, dalam balutan syair sastra dan alunan musik tradisi. “Kidung Pangrekso ini adalah salah satu bentuk pertunjukkan sastra mantra, untuk acara ritual jamasan pusoko, berbahasa Jawa,” kata Manager Program Budaya TMII, Eltris Yulia Manikan, kepada Cendana News, usai acara.

Jamasan, yang berarti memandikan atau membersihkan pusaka, secara simbolis menjadi upaya mensucikan lahir dan bathin. Dalam kepercayaan adat Jawa, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk menjaga dan merawat budaya tradisi warisan leluhur.

Bentuk penyajian Kidung Pangrekso Jamas Agung Kirab Pusoko, adalah kolaborasi antara tembang mocopot geguritan atau puisi berbahasa Jawa, gerak tari, mantra dan musik tradisi khas Jawa. Tarian kidung ini disajikan secara kolosal, dan didukung oleh 40 penari sastrawan Jawa laki-laki berbusana putih-putih bak zaman kerajaan. Usai prosesi kidung dengan lantunan sastra mantra, dilakukan penyerahan pusaka tombak Kyai Joko Tole, dari Direktur Operasional dan Pengembangan TMII, Maulana Cholid kepada Manggoto Yudho.

Direktur Operasional dan Pengembangan TMII, Maulana Cholid menyerahkan pusaka tombak Kyai Joko Tole kepada Manggoto Yudho di Pendopo Sasono Utomo TMII, Jakarta, Senin (10/9/2018) malam.Pusaka ini akan di arak keliling TMII dalam perayaan malam 1 Suro. Foto: Sri Sugiarti.

Lalu dengan gagahnya, Manggoto Yudho membawa pusaka tombak Kyai Joko Tole keluar Pendopo Sasono Utomo, untuk kemudian dikirabkan bersama ratusan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa keliling area TMII. Arak-arak pusaka dimulai dari Kuncungan Pendopo Sasono Utomo mengelilingi kantor penggelola TMII hingga kembali lagi ke Pendopo Sasono Utomo.

Tembang kidung terus mewarnai prosesi arak-arakan pusaka yang dipimpin oleh pemuka, atau empu menuju ke sebuah tempat untuk melakukan ritual jamasan pusoko. Adapun makna yang tertuang dalam kemeriahan arak-arakan pusaka tersebut adalah, gotong royong sebagai sarana pemersatu untuk menjaga utuhnya NKRI dengan semboyan sesanti.

Sesanti bermakna, memayu hayuning pribadi, hayuning budi lan tekad, hayuning bebrayan, hayuning bawono dan temah negoro joyo wijayanti. Selain itu, acara 1 Suro dengan arak-arak pusaka ini terkandung makna Ngalab berkah untuk masyarakat umum.

Ungkapan rasa syukur dari orang-orang yang memiliki kemampuan memberikan kepada masyarakat sebagai suatu berkah. Yang menandung simbolik bahwa ini suatu ungkapan untuk mensyukuri limpahan rejeki dari Allah SWT. “Ngalap berkah ini memberikan rezeki bagi sesama, terlihat pada perayaan 1 Suro ini tersaji ratusan tumpeng, dan aneka buah-buahan. Ini adalah keberkahan yang harus kita nikmati bersama,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...