Kirab 1 Suro Puro Mangkunegaran, Keluarkan Empat Pusaka

358

SOLO — Ribuan orang mengikuti upacara tradisi kirab malam 1 Suro (kalender Jawa) yang digelar dengan cara berjalan mengelilingi di Puro Mangkunegaran di Kota Solo, Senin malam (10/9/2018).

Pada acara kirab untuk menyambut datangnya Tahun Baru Jawa atau yang sering disebut Malam 1 Suro, Senin malam 10 September 2018 itu, Puro Mangkunegaran mengeluarkan empat pusaka, untuk dikirab yakni tiga pusaka jenis tombak dan satu pusaka berada di dalam jodang atau berbentuk kotak penyerupai rumah kecil.

Peserta kirab dengan mengenakan pakaian Jawa (beskap) untuk yang laki-laki, dan kebayak bagi yang perempuan warnanya mayoritas hitam mulai memadati memadati kawasan Pendapi Ageng Puro Mangkunegaran.

Acara kirab diawali keluarga, kerabat hingga abdi dalem Puro Mangkunegaran. Bahkan, sejumlah tamu undangan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto, Mantan Panglima TNI Jenderal (Pur) Gatot Nurmantyo, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono dan Anggota DPR RI, Ario Bimo juga ikut kirab berjalan tampa alas kaki mengelilingi Puro Mangkunegaran.

Menurut panitia Kirab Malam Suro Mangkunegaran, Joko Pramudyo, Puro Mangkunegaran melaksanakan kirab malam 1 Suro sesuai kalender resmi pemerintah, pada Senin malam ini.

“Mangkunegaran juga memiliki penanggalan sendiri yang mengacu pada penanggalan Sultan Agung. Dalam penanggalan itu, malam Suro memang selisih satu hari dengan Tahun Baru Muharram sesuai penanggalan pemerintah,” jelasnya.

Menurut dia, Mangkunegaran menggunakan kalender tersbeut ada beberapa alasan yakni salah satunya Mangkunegaran merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sehingga memilih menggunakan penanggalan resmi pemerintah.

Menurut Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo dirinya merasakan ikut upacara tradisi dengan mengelilinging Puro Mangkunegara sambil berdoa berzikir bersama peserta lainnya.

“Saya bukan pertama kali ikut tradisi ini, tetapi di Keraton memang baru pertama. Namun, saya sebagai rakyat biasa sudah sering keluar setiap malam 1 Suro,” ujarnya.

Kendati demikian, ia mengingatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terdiri dari beberapa kerajaan-kerajaan yang ada. Hal itu, yang mengangkat harkat martabat bangsa Indonesia dengan tradisi-tradisi leluhur.

“Mangkunegaran ini, perlu dicatat pada 1757, Raden Mas Said sudah melakukan perlawanan terhadap musuh karena tidak keadilan dan penghinaan,” tambahnya.

Pusaka setelah dikirabkan keliling Istana Puro Mangkunegaran kemudian dikembalikan diserahkan kepada KGPAA Mangkunagoro IX untuk disimpan, dan ribuan orang pengunjung yang memadati pendopo Puro Mengkunegaran kemudian berebut untuk mendapatkan air yang untuk mensucikan pusaka sebagai berkah.

KGPAA Mangkunagoro IX juga membagikan sebanyak ribuan bungkus nasi untuk masyarakat sebagai gambaran makan bersama antara pemimpin dengan rakyatnya. Selain itu, acara dilanjutkan KGPAA Mangkunagoro IX bersama keluarga memberikan uang dengan disebar di depan pendopo Puro Mangkunegara yang diusambut ribuan orang masyarakat yang menunggu sejak sore hari.

Yanto (48) salah satu warga asal Boyolali sengaja datang ke Mangkunegaran untuk mendapatkan berkah berupa uang recehan baik logam maupun kertas. “Saya ikuti upacara tradisi ke Puro Mangkunegara untuk mencari berkah,” katanya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...