Kondisi Bangunan SKB Sikka Sangat Memprihatinkan

Editor: Mahadeva WS

222

MAUMERE – Kondisi bangunan ruang kelas Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), di Kelurahan Madawat, Kota Maumere sangat memprihatinkan. Sementara secara fisik, bangunan SKB tersebut hanya berjarak 100 meter di sebelah timur Kantor Dinas Pendidikan, Kebudayaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka.

Kepala sekolah Sanggar Kegiatan belajar (SKB) Sikka Kortensia Dou.Foto : Ebed de Rosary

“Semua ruang kelas rusak, kalau hujan pasti bocor, sebab semua atap bangunan ruang kelas sudah rusak dan plafonnya juga sudah hancur,” sebut Kortensia Dou, Kepala Sekolah SKB Sikka, Kamis (20/9/2018).

Dinas PKO Sikka sebenarnya, sudah mendapatkan alokasi dana dari pemerintah pusat. Hanya saja, hingga kini belum juga dikeluarkan untuk digunakan merehabilitasi bangunan tersebut. “Harusnya sudah mulai dibangun sejak Juli 2018, dan katanya di anggaran itu untuk rehab tujuh ruang kelas dan tiga ruang kelas lainnya dibangun baru bersama tiga ruangan MCK,” sebutnya.

Kalau ruangan kelas sudah direhab dan dibangun, kondisinya pasti sudah lumayan bagus. Namun masih tersisa pagar kompleks sekolah juga yang rusak, seh.ingga perlu bantuan lain untuk memperbaikinya. “Memang kompleks sekolah ini sangat luas, bisa mencapai satu hektare sebab disini juga ada PAUD, Paket A atau setara SD kelas 1 sampai kelas 4 , Paket B atau setara SMP dan paket C atau setingkat SMA. Mereka melaksanakan kegiatan belajar mengajar sama dengan sekolah umum lainnya,” terangnya.

Sekolah tersebut merupakan SKB, untuk belajar keterampilan seperti menari. Tetapi sejak 2017 lalu, menjadi Satuan Pendidikan Non Formal, dan menjalankan kegiatan belajar mengajar Paket A setara SD, Paket B setara SMP dan Paket C setara SMA. “Jumlah murid di 2018 sudah mulai berkurang, sebab sudah banyak berdiri sekolah swasta. Jumlah murid disini, PAUD 43 orang, paket A atau SD sebanyak 80 orang, Paket B atau SMP berjumlah 60 murid dan Paket C atau SMA berjumlah 44 siswa,” bebernya.

Kebanyakan siswa sudah tidak diterima di sekolah lain, karena nakal dan tidak mengikuti aturan, serta putus sekolah. Rata-rata orang tua siswa yang anaknya bersekolah di tempat tersebut, berasal dari keluarga tidak mampu.

Anggota DPRD Sikka, Yohanes A.J.Lioduden mengatakan, dana untuk rehab dan pembangunan gedung sekolah tersebut berasal dari DAK Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Pembangunan gedung sekolah sementara untuk tenaga pengajarnya mendapatkan honor dari pemerintah daerah. “Untuk bangunan dan fasilitasnya memang ada dana dari kementrian sementara untuk tenaga pengajar atau tutornya ada alokasi dana dari APBD II Sikka atau Dana Alokasi Umum untuk honor gurunya sebesar Rp.750 ribu rupiah sebulan,” ungkapnya.

Yani berharap, dana pembangunan sekolah tersebut bisa segera dicairkan, agar bisa segera dilakukan pembangunan. Jika tidak segera dibangun, saat musim hujan kegiatan belajar mengajar akan terganggu.

Baca Juga
Lihat juga...