Kondisi Darurat, Quik Respon Korban Erupsi Merapi Jadi Prioritas

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

121

SOLO — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Solo, Jawa Tengah, kian mengintensifkan penanganan serta evakuasi bencana erupsi Gunung Merapi. Hal ini melihat potensi bahaya erupsi Gunung Api teraktif di Indonesia cukup besar.

Peningkatan penanganan dan evakuasi terhadap warga yang berada di lokasi rawan terkena erupsi gunung merapi salah satunya dengan menggelar simulasi di malam hari. Ketersediaan penerangan dan medan yang cukup sulit menjadi tantangan petugas untuk bisa melakukan penanganan secara cepat, tepat dan terukur.

“Simulasi digelar malam hari ini bertujuan untuk meningkatkan respon dan pembagian peran dan soliditas. Yakni antara kesekretariatan, dan tiga bidang lainnya. Seperti Pusdalops, TRC, teman teman difabel. Dengan simulasi ini, diharapkan dapat menjadi bekal penanganan apabila terjadi sungguhan,” kata Kepala BPBD Klaten, Bambang Giyanto, Rabu (05/09/2018).

Simulasi erupsi gunung Merapi yang dilaksanakan pada Selasa (4/9) malam ini melibatkan jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN), tenaga harian lepas (THL), Pusdalops dan Tim Reaksi Cepat (TRC) PB BPBD Klaten.

“Simulasi ini juga untuk menyiapkan peralatan peralatan kebencanaan yang dimiliki. Seperti armada, dan peralatan pendukung lainnya”, paparnya.

Kabid Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Klaten, Nurtjhajono menyatakan, hal yang ditekankan dalam dalam simulasi ini adalah sinergisitas antara ASN, THL, Pusdalop dan TRC sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing. Yang tak kalah pentingnya adalah adanya unit layanan difabel untuk penanganan korban penyandang disabilitas.

“Simulasi ini juga diperankan relawan desa untuk mengevakuasi pengungsi dengan kebutuhan khusus seperti difabel, ibu hamil, dan orang gila. Petugas juga sigap dalam menyediakan fasilitas penangan korban erupsi. Seperti dapur umum, evakuasi, medis, transportasi, logistik, dan shelter,” tambah Nurtjhajono.

Simulasi erupsi gunung Merapi yang dilakukan bersama jajaran ASN, THL, Pusdalops dan Tim Reaksi Cepat (TRC) PB BPBD Klaten. Foto: Harun Alrosid

Menurutnya, kegiatan simulasi evakuasi erupsi gunung merapi menjadi sangat dramatis karena aliran listrik di lokasi benar benar mati karena ada gangguan. Selain simulasi BPBD KLaten juga memberikan sejumlah rekomendasi berdasarkan perkembangan status gunung Merapi.

Di antaranya kegiatan pendakian gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana. Radius 3 km dari puncak Gunung Merapi agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.

Masyarakat yang tinggal di KRB III juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas gunung. Apabila terjadi perubahan yang signifikan maka statusnya akan segera ditinjau kembali.

“Kami juga mengimbau masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah, atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi. Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi Gunung Merapi saat ini,” tutupnya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk