Konsumsi Ikan Masyarakat Sikka Setiap Tahun Meningkat

Editor: Mahadeva WS

185

MAUMERE – Kebutuhan ikan di Kabupaten Sikka, setiap tahun mengalami peningkatan. Hal itu dipengaruhi pola konsumsi ikan masyarakatnya yang selalu meningkat dari tahun ke tahun.

“Memang konsumsi ikan masyarakat semakin meningkat, terlebih ikan selar dan layang, sebab harganyapun masih murah dan hasil tangkapan nelayan juga mencukupi,” sebut Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sikka, Paulus Hilarius Bangkur,SPi, Senin (17/9/2018).

Jumlah konsumsi ikan per kapita masyarakat Kabupaten Sikka di 2013 sebesar 33,03 kilogram, di 2014 meningkat menjadi 34 kilogram per kapita per tahun dan di 2015 menjadi 34,5 kilogram per kapita per tahunnya. “Ikan tongkol dan cakalang juga meningkat permintaannya, selain untuk restoran dan rumah makan, masyarakat juga sering menghidangkannya saat ada pesta atau acara bersama keluarga. Harga jual ikan tongkol dan cakalang juga terjangkau, berkisar antara Rp30.000 sampai Rp100.000 per ekornya,” tuturnya.

Sedangkan untuk ikan karang, seperti kerapu dan lainnya, hanya dikonsumsi oleh sebagian kecil masyarakat. Mereka yang bepenghasilan besar yang mampu membeli ikan yang sering dibandrol antara Rp20.000 sampai Rp100.000 per ekornya.

Konsumsi ikan mengalami lonjakan drastis di 2016 menjadi 46,3 kilogram per kapita per tahun, atau mengalami kenaikan sebanyak 11,8 kilogram per kapita per tahunnya. Di 2017, konsumsi ikan kembali bertambah menjadi 49.17 kilogram per kapita per tahun. Ini berdampak kepada nilai tukar nelayan, dimana harga ikan mengalami kenaikan dan memberikan penghasilan tambahan bagi nelayan.

Burhan, Sekertaris kelompok nelayan, Bakti Abadi, Kampung Wuring, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat menyebut, meningkatnya konsumsi ikan masih belum berdampak kepada kesejahteraan nelayan pemilik kapal, khususnya kapal lampara. “Biasa musim panen terjadi pada bulan November hingga April dimana hasil tangkapan melimpah dan nelayan menjualnya murah. Selebihnya, harga ikan terutama selar dan layang mengalami kenaikan kembali, dimana bisa mencapai harga Rp20 ribu untuk enam atau tujuh ekor ikan,” jelasnya.

Nelayan pemilik lampara, hanya melaut untuk sekedar memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka tidak bisa menabung, sebab harus dipergunakan untuk biaya operasional saat melaut. “Kalau belum musim harga ikan mahal, nelayan terkadang melaut semalaman tetapi tidak mendapatkan hasil apa-apa. Paling dalam sehari hanya mendapatkan uang Rp100 ribu sampai Rp500 ribu seharinya,” paparnya.

Rata-rata pemilik lampara, sebulan hanya mendapatkan penghasilan bersih Rp2 juta, namun saat musim panen ikan, pendapatannya bisa mencapai puluhan juta rupiah sebulan.

Baca Juga
Lihat juga...