Koperasi Perajin Tempe-Tahu di Sidoarjo Impor Kedelai dari AS

Editor: Koko Triarko

214
SIDOARJO – Perajin tahu dan tempe di Sidoarjo, Jawa Timur, mulai mengalami perkembangan pesat. Permodalan yang berasal dari simpanan suka rela, mampu membuatnya mengimpor bahan baku (kedelai) dari Amerika dan Kanada.
Para perajin tempe dan tahu yang tergabung dalam UMKM di bawah naungan koperasi Karya Mulia Kecamatan Candi, Sidoarjo, saat ini sudah beranggotakan 278 perajin tahu dan tempe.
Ketua Koperasi Karya Mulia, Sukari mengungkapkan butuh waktu yang panjang untuk meningkatkan atau memberdayakan UMKM, terutama di bidang tahu dan tempe.
Ketua Koperasi Karya Mulia, Sukari. -Foto: Kusbandono.
Koperasi di bawah naungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) yang berada di Sidoarjo, mulai berdiri sejak terjadinya krisis ekonomi pada 1998. Dirinya masih ingat betul, terbentuknya koperasi berawal dari banyaknya perajin tahu tempe yang kolaps lantaran pada saat itu harga bahan baku melonjak dari Rp.2500 menjadi Rp.10.000 per kilogram.
“Akhirnya, timbul keinginan untuk membuat koperasi dengan tujuan untuk menekan harga bahan baku (kedelai), yakni dengan mendatangkan kedelai, kemudian diolah sendiri,” ujar Sukari, Selasa (11/9/2018).
Ia menuturkan, pada awal berdirinya, koperasi masih terkendala pasokan kedelai. Koperasi ini sejatinya terbilang paling terbelakang dibandingkan dengan KOPTI-KOPTI yang ada di Jawa Timur. Saat itu, anggotanya masih sekitar 200-an.
“Setelah berjalannya waktu, kita mendapatkan pasokan dari distributor Kian An. Awal-awal, kebutuhannya masih lima ton per hari. Karena melihat efisiensi keuangan yang ada di koperasi juga. Saat itu, harga masih belum stabil atau fluktuatif,” terangnya.
Koperasi ini terbentuk dari kesadaran masyarakat yang ingin mengembangkan usahanya di bidang tahu tempe. Modal awal yang berasal dari simpanan pokok anggota sebanyak 100 ribu per anggota, belum mampu menjadikan koperasi sejahtera.
“Akhirnya, timbul inisiatif dari sesepuh koperasi, bagaimana caranya bisa kulakan sebanyak 1 rit atau kisaran 9-10 ton yang diperkirakan mencapai Rp850 juta. Setelah itu, baru kita buka simpanan suka rela untuk mencukupi kebutuhan pembelian kedelai. Itu pun masih belum cukup, karena uang yang terkumpul masih Rp50 juta,” tambahnya.
Meski dengan modal yang kecil, namun anggota koperasi tetap berusaha untuk menekan harga kedelai, agar tidak terjadi lonjakan yang signifikan. Salah satunya dengan cara mendatangkan kedelai impor.
“Tentunya butuh modal yang besar untuk menekan harga itu. Akhirnya kita mengurus perizinan impor, sembari memikirkan agar modal bisa mencukupi untuk kebutuhan impor. Satu-satunya cara, yakni menggunakan pinjaman dari Bank. Karena keterbatasan agunan, akhirnya kita bisa meminjam modal sebanyak Rp600 juta pada 2017,” jelasnya.
Di sela itu, izin impor pun sudah keluar. Koperasi akhirnya melakukan impor yang pertama di pada Mei 2017, dari negara Amerika sebanyak lima kontainer atau 123,4 ton. Lalu, tiga bulan berikutnya koperasi kembali mengimpor kedelai dari Kanada sebanyak 1 kontainer.
“Waktu itu, kita masih belum familier dengan bahan baku dari Kanada. Sehingga kita cukup mengambil 1 kontainer saja. Ternyata, antusias warga sangat tinggi, karena bahan baku yang dari Kanada jauh lebih bagus,” terangnya.

Tahun ini, pihaknya merencanakan hal yang sama untuk kembali mengimpor kedelai dari Kanada. Namun, saat ini masih proses pengajuan pinjaman ke Bank untuk memuluskan kebutuhan bahan baku impor.

Sebagai koperasi satu-satunya yang memiliki izin impor di Jawa Timur, pihaknya berharap pendistribusian bahan baku kedelai bisa dinikmati secara menyeluruh (KOPTI yang ada di Jawa Timur).
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.