Kopi di Sipirok Diganti Tanaman Cabai

695
Ilustrasi perkebunan kopi/Foto: Dokumentasi CDN.

TAPANULI SELATAN – Petani cabai di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mengalihkan sebagian tanaman kopinya ke komoditas cabai. Hal itu dilakukan, seiring harga jual cabai yang mulai menjanjikan, sementara keberadaan lahan terbatas.

Sahrin SY Hutasuhut (50), salah satu petani di Sipirok, mengatakan, hampir 500 batang kopi miliknya yang sudah berumur 12 tahun kini sudah ditebang. Untuk penggantinya, ditanami cabai merah keriting, yang sekarang sudah berumur dua bulan. “Ada enam mulsa atau enam ribu batang cabe yang kami tanami diatas lahan 500 batang kopi yang ditebang tersebut,” katanya, Minggu (16/9/2018).

Tiga bulan setelah ditanam, dari hasil panen enam ribu batang cabe menghasilkan uang sekira Rp72 juta. Harga cabai per kilogram sekitar Rp20 ribu dan rata-rata hasil panen 0,6 – 0,7 ons per batang. Disaat harga jual cabai mencapai Rp40 ribu lebih per kilogram di awal 2018 lalu, Dia juga menikmati hasil penjualan cabainya hingga ratusan juta rupiah. “Harga jual kopi memang tinggi, mencapai Rp30 ribu lebih per kilo, hanya saja cabai lebih menjanjikan. Lagi pula, kopi yang ditebang produksinya sudah kurang maksimal,” tandasnya.

Sharin tidak menebang seluruh tanaman kopinya. Masih ada yang tersisa sekira 600 batang, yang rata-rata pertahunnya bisa menghasilkan 500 solup, dengan harga di kisaran Rp30 ribu per solup. “Saya berharap, hingga musim panen cabai satu bulan kedepan, harga jualnya di tingkat petani dapat meningkat dari sekarang di kisaran Rp20.000 hingga Rp25.000 per kilo,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.